Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menguatkan Partisipasi Semesta:Relevankah Gagasan Ki Hajar Dewantara di Era Digital?

×

Menguatkan Partisipasi Semesta:Relevankah Gagasan Ki Hajar Dewantara di Era Digital?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Salasiah, S.Pd
Pemerhati Pendidikan

Hari Pendidikan Nasional kerap menjadi momentum refleksi: ke mana arah pendidikan kita dibawa? Slogan “menguatkan partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua” terdengar ideal. Ia mengandung semangat gotong royong—bahwa pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Gagasan ini sejatinya sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, menumbuhkan adab, karakter, dan kecakapan hidup.

Kalimantan Post

Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah konsep ini masih relevan di era digital yang serba cepat, individualistik, dan sarat distraksi? Dan lebih jauh, apakah ia cukup untuk melahirkan generasi beradab, berkarakter kuat, sekaligus memiliki life skill yang mumpuni?

Tantangan Era Digital

Era digital membawa dua wajah. Di satu sisi, ia membuka akses ilmu tanpa batas. Di sisi lain, ia menghadirkan krisis baru: banjir informasi tanpa filter nilai, budaya instan, serta degradasi adab dalam interaksi sosial. Pendidikan yang hanya menekankan transfer ilmu pengetahuan tanpa fondasi nilai yang kokoh berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Dalam konteks ini, konsep partisipasi semesta menjadi penting, tetapi belum cukup. Keterlibatan banyak pihak tidak otomatis menjamin arah yang benar jika tidak ditopang oleh visi yang jelas tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk. Tanpa visi yang kokoh, pendidikan mudah terseret arus pragmatisme: mengejar nilai, ijazah, dan keterampilan teknis semata, tetapi mengabaikan pembentukan kepribadian.

Di sinilah relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara diuji. Filosofi “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” tetap relevan sebagai pendekatan pedagogis. Namun, ia memerlukan fondasi nilai yang lebih tegas agar tidak sekadar menjadi slogan.

Adab dan karakter tidak lahir dari mata pelajaran semata. Ia terbentuk dari sistem nilai yang hidup dan konsisten. Ketika lingkungan sosial, media digital, dan bahkan kebijakan publik tidak selaras dengan nilai luhur, maka pendidikan formal akan kesulitan menjalankan fungsinya.

Kita menyaksikan fenomena di mana peserta didik kehilangan rasa hormat, empati, dan tanggung jawab. Ini bukan semata kesalahan individu, melainkan cerminan dari sistem yang tidak menjadikan pembentukan kepribadian sebagai inti.

Baca Juga :  Aset atau Komoditas di Era Kebocoran yang Dainggap Biasa

Karakter yang kokoh memerlukan standar benar dan salah yang jelas. Tanpa itu, nilai menjadi relatif, bergantung pada tren dan opini mayoritas. Akibatnya, pendidikan gagal menjadi penjaga peradaban.

Di era digital, life skill sering dimaknai sebagai kemampuan teknis: literasi digital, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Life skill sejati mencakup kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan yang benar, serta menjalani hidup dengan tujuan yang jelas.

Keterampilan tanpa arah hanya akan menghasilkan individu yang produktif, tetapi bisa kehilangan makna hidup. Di sinilah pendidikan membutuhkan orientasi yang melampaui dunia material semata.

Menata Ulang Arah dan Tujuan

Pendidikan Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Ia tidak hanya bertujuan mencetak manusia sukses secara duniawi, tetapi juga membentuk pribadi yang sadar akan tujuan hidupnya: beribadah kepada Allah dan menjadi rahmat bagi semesta.

Dalam perspektif ini, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi pembentukan kepribadian (syakhsiyah) yang utuh: pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berlandaskan akidah Islam. Dari sinilah lahir adab yang kokoh, bukan karena tekanan aturan, tetapi karena kesadaran iman.

Pendidikan Islam menempatkan ilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar alat meraih materi. Dengan demikian, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Keduanya terintegrasi dalam satu tujuan: meraih ridha Allah.

Bagaimana pendidikan Islam mewujudkan generasi berprestasi dunia dan akhirat?

Pertama, dengan menjadikan akidah sebagai fondasi. Akidah memberikan standar nilai yang jelas, sehingga peserta didik memiliki kompas moral yang kuat di tengah arus informasi.

Kedua, dengan kurikulum yang terintegrasi. Ilmu pengetahuan diajarkan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi makna dan tanggung jawab. Sains, misalnya, tidak sekadar menjelaskan fenomena alam, tetapi juga menguatkan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.

Ketiga, dengan keteladanan. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan hidup. Dalam Islam, keteladanan memiliki posisi sentral karena nilai lebih mudah ditransfer melalui contoh nyata.

Baca Juga :  MANUSIA MENERIMA HASIL USAHANYA

Keempat, dengan lingkungan yang kondusif. Pendidikan tidak berdiri sendiri. Keluarga, masyarakat, dan negara harus menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai kebaikan.

Kelima, dengan tujuan yang jelas: kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Ini yang membedakan pendidikan berbasis nilai transenden dengan pendidikan yang semata berorientasi dunia.

Sebagian mungkin menganggap visi pendidikan yang berorientasi akhirat sebagai sesuatu yang utopis. Namun, justru visi inilah yang memberikan arah jangka panjang. Tanpa visi besar, pendidikan mudah terjebak dalam target jangka pendek yang dangkal.

Visi “surga” bukan berarti mengabaikan dunia. Sebaliknya, ia mendorong manusia untuk mengelola dunia dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual. Dengan visi ini, integritas, kejujuran, dan tanggung jawab tidak lagi bergantung pada pengawasan eksternal, tetapi tumbuh dari kesadaran internal.

Partisipasi semesta tetap penting, tetapi harus diarahkan oleh visi yang benar. Keterlibatan orang tua, masyarakat, dan negara perlu disinergikan dalam satu kerangka nilai yang konsisten. Tanpa itu, partisipasi hanya menjadi jargon.

Negara memiliki peran strategis dalam menentukan arah pendidikan. Kebijakan yang diambil harus berpihak pada pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar. Sementara itu, keluarga menjadi basis pertama pembentukan karakter, dan masyarakat menjadi ruang praktik nilai.

Gagasan Ki Hajar Dewantara tetap relevan sebagai metode dan semangat. Namun, untuk menjawab tantangan era digital, diperlukan fondasi nilai yang lebih kokoh dan tujuan yang lebih jelas. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga harus memuliakan manusia.

Pendidikan Islam menawarkan kerangka yang komprehensif: mengintegrasikan adab, ilmu, dan keterampilan dalam satu tujuan besar—kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah pendidikan bervisi surga, yang tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga berkarakter, beradab, dan memiliki arah hidup yang pasti.

Jika partisipasi semesta diarahkan oleh visi ini, maka pendidikan bermutu untuk semua bukan sekadar slogan, melainkan sebuah keniscayaan.

Iklan
Iklan