Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

NEOSUFISME SEORANG TOKOH

×

NEOSUFISME SEORANG TOKOH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

oleh: AHMAD BARJIE B

URVASHI Butalia, seorang penulis India mengatakan, di balik tokoh sejarah selalu ada yang disebut the other side of silent, sisi balik senyap, yang melekat nyata pada kehidupan seseorang, namun tidak muncul dalam catatan resmi sejarah, karena tidak dianggap penting.

Kalimantan Post

DR KH Idham Chalid boleh dikata termasuk salah seorang tokoh yang memiliki sisi senyap tersebut. Setelah era Idham sebagai politisi dan pucuk pimpinan PB-NU berakhir 1984, namanya seolah tenggelam. Terlebih setelah beliau sakit permanen sejak 1998 hingga wafatnya 2010, namanya seolah dilupakan. Dalam sebuah even besar NU, saat hadirin diminta mendoakan para ulama NU yang sudah meninggal atau sakit, lagi-lagi nama Idham terlewatkan. Banyak orang, termasuk warga Nahdliyin sendiri, mengira Idham Chalid sudah lama wafat.

Orang baru terkejut ketika Idham Chalid benar-benar wafat 11 Juli 2010 lalu. Ulama, politisi dan tokoh nasional asal Banjar Kalimanan Selatan tersebut wafat di rumahnya di Kompleks Perguruan Darul Maarif Jakarta dan dimakamkan di Ponpes Darul Quran Cisarua Bogor. Beliau wafat di usia 88 tahun, sejak kelahirannya 27 Agustus 1922 di Satui Tanah Bumbu.

Sengaja atau tidak, tampak ada semacam de-Idhamisasi di kalangan sebagian elit NU. Ada buku yang secara khusus memuat biografi para tokoh dan ulama NU, nama Idham Chalid tidak dimasukkan. Padahal semua orang tahu, Idham adalah tokoh ulama dan politisi luar Jawa terlama yang pernah memimpin NU dan Partai NU, bahkan hampir 30 tahun.

Untunglah pemerintah tidak ikut-ikutan lupa. Tepat pada peringatan Hari Pahlawan 11 November 2011, hanya setahun setelah wafatnya, Pemerintah RI melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Idham Chalid. Gelar Pahlawan Nasional yang diterima Idham Chalid tercepat sepanjang sejarah. Biasanya proses pemberian gelar Pahlawan Nasional sangat alot, karena kriterianya sangat ketat disertai berbagai pertimbangan dan kontroversi yang melekat pada sang tokoh. Pangeran Hidayatullah pemimpin Perang Banjar yangb hidup antara 1820-1904 misalnya, sampai sekarang tak kunjung diberi gelar pahlawan nasional, padahal beliau sudah wafat lebih seabad lalu.

Baca Juga :  KISAH AL-QAMAH

Di antara sejumlah Pahlawan Nasional hanya dua orang yang melebihi kecepatan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional di atas Idham Chalid, yaitu Usman Janatin dan Harun Said. Keduanya Pahlawan Anumerta yang dihukum gantung Pemerintah Singapura di era konfrontasi Indonesia – Malaysia dahulu. Pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional di hari wafatnya, karena tanggal eksekusi sudah diketahui. Meski Singapura menuduhnya sebagai penyusup yang berbahaya (semacam teroris sekarang), namun Indonesia menganggapnya pahlawan.

Menggali kehidupan dan pemikiran Idham Chalid tentu tidak habis-habisnya, apalagi dengan tinjauan berbeda. Ternyata selain sebagai tokoh pejuang, tokoh politik, ulama, pendidik, Idham Chalid dapat disebut sebagai seorang sufi, praktisi tasawuf, khususnya tasawuf akhlaqi/amali. Meminjam istilah Fazlur-Rahman, pola hidup dan perjuangan Idham merupakan satu bentuk neosufisme, dan menurut Hamka disebut tasawuf modern.

Idham Chalid menerapkan neosufisme, sebuah ajaran tasawuf yang tidak meninggalkan urusan dunia, termasuk politik. Banyak indikator Idham Chalid seorang pengamal ajaran tasawuf. Sejak muda beliau sudah rajin mengamalkan wirid-wirid. Terlebih ketika ditangkap, dipenjarakan, disiksa, dan diracun oleh NICA Belanda di tahun 1949, beliau sangat optimal dalam mengamalkan amalan tasawuf. Dengan cara begitu beliau sabar menjalani siksaan, meski matanya sempat buta dan tulang belakangnya bengkok.

Idham Chalid berhasil menenangkan sebagian pejuang yang dipenjarakan Belanda, yang mulai putus asa karena sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia tak kunjung diakui Belanda. Suatu hari beliau bermimpi bertemu Rasulullah yang memberinya harapan. Sejak itu sikap raja’ (harap) melekat pada diri Idham, bahwa negeri ini akan merdeka dan Belanda harus angkat kaki. Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda, Desember 1949, menjadi bukti optimisme Idham dan banyak tokoh pejuang lain.

Baca Juga :  Librasi Digital: Haji Literasi Menuju Pendidikan Bermutu

Idham tidak memandang politik sebagai dunia yang kotor dan harus dijauhi, melainkan sebuah dunia yang mesti dimasuki dengan segala problema dan tantangannya untuk diperbaiki, dibersihkan dan diluruskan sesuai misi sejatinya untuk memperbaiki negara bangsa. Melalui politiklah berbagai hal terkait kehidupan bangsa dan negara dapat diatur dan diperjuangkan. Idham berusaha memadukan antara politik dengan nilai-nilai agama, karena agama kaya dengan sumber nilai dan spiritualitas untuk berpolitik secara lebih bijak, santun dan moderat. Tegasnya Idham seorang ulama-sufi yang tidak kehilangan jiwa politiknya, dan seorang politisi yang tidak menanggalkan jiwa keulamaannya.

Untuk kepentingan negara dan daerah, Idham tidak ngotot agar partainya (NU dan PPP) menang. Beliau tak mau umat Islam berada di luar dan/atau berseberangan (menjadi oposisi) terhadap pemerintah, karena ulama telah berjuang untuk kemerdekaan ini dengan susah payah. Idham pula yang sukses mencairkan hubungan antara NU dengan Muhammadiyah sehingga menjadi cair seperti sekarang, setelah sebelumnya sering kusut akibat masalah-masalah khilafiyah.

Iklan
Iklan