Oleh : Nor Hasanah, SAg, MIKom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Tanggal 17 Mei 2026 kembali diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Tahun ini, peringatan tersebut terasa lebih bermakna karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang mengusung tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tema itu sesungguhnya mengandung pesan mendalam: bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga pengetahuan dan tradisi berpikirnya.
Namun, di tengah semangat merawat pustaka itu, kita justru sedang menghadapi gejala sosial yang mengkhawatirkan. Masyarakat Indonesia hari ini semakin terbiasa menggulir layar tanpa henti, tetapi semakin sulit meluangkan waktu untuk merenung. Kita hidup dalam budaya “scroll” sebagai budaya bergerak cepat dari satu informasi ke informasi lain tanpa jeda refleksi. Kita menjadi bangsa yang sibuk melihat, tetapi jarang memahami.
Fenomena tersebut tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Pagi dimulai dengan membuka media sosial. Siang dipenuhi notifikasi. Malam ditutup dengan video pendek yang terus berganti tanpa sadar berapa lama waktu terbuang. Informasi datang bertubi-tubi, tetapi sedikit yang benar-benar tinggal dalam ingatan. Kita membaca judul tanpa isi, melihat potongan video tanpa konteks, lalu merasa sudah memahami banyak hal. Padahal, pengetahuan tidak pernah tumbuh dari kecepatan semata.
Budaya digital hari ini membentuk pola pikir yang serba instan. Segala sesuatu harus singkat, cepat, dan mudah dikonsumsi. Jika sebuah tulisan terlalu panjang, orang segera melewatinya. Jika sebuah gagasan membutuhkan waktu untuk dipahami, orang memilih mencari versi ringkasnya. Akibatnya, kemampuan manusia untuk berkonsentrasi dan merenung perlahan melemah. Membaca buku menjadi aktivitas yang terasa “berat” di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.
Ironisnya, keadaan ini terjadi ketika akses terhadap pengetahuan justru semakin terbuka luas. Buku digital tersedia di mana-mana. Perpustakaan menghadirkan layanan daring. Informasi akademik dapat diakses hanya melalui telepon genggam. Namun, kemudahan akses ternyata tidak otomatis melahirkan kedalaman berpikir. Karena masalah utama kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan kemampuan mencerna informasi secara mendalam.
Tema HUT ke-46 Perpusnas tahun ini sebenarnya berusaha menjawab kegelisahan tersebut. Perpusnas menegaskan bahwa “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” merupakan upaya menjadikan pengelolaan pengetahuan yang berkelanjutan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Pesan itu penting karena pustaka sesungguhnya bukan sekadar kumpulan buku, melainkan ruang perenungan. Buku mengajarkan manusia untuk melambat, berpikir, dan berdialog dengan gagasan. Tetapi budaya scroll justru bergerak sebaliknya. Ia membuat manusia terus berpindah perhatian tanpa memberi ruang bagi refleksi. Akibatnya, masyarakat semakin mudah bereaksi, tetapi semakin sulit memahami.
Hal itu terlihat dalam ruang publik kita hari ini. Perdebatan di media sosial sering berlangsung keras, tetapi dangkal. Orang cepat marah hanya karena membaca potongan informasi. Hoaks mudah menyebar karena banyak orang lebih tertarik membagikan sesuatu daripada memeriksa kebenarannya. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Di titik inilah budaya membaca menjadi sangat penting.
Membaca bukan hanya soal menambah wawasan, melainkan juga melatih kesabaran berpikir. Ketika seseorang membaca buku, ia belajar mengikuti alur gagasan, memahami konteks, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Membaca melatih manusia untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Sayangnya, kemampuan semacam itu semakin jarang dirawat.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz bahkan mengingatkan bahwa perpustakaan harus terus bertanya apakah keberadaannya masih relevan di tengah perubahan zaman. Ia mempertanyakan apakah masyarakat masih menjadikan perpustakaan sebagai tumpuan ilmu pengetahuan. Pertanyaan itu terasa sangat mendasar. Sebab jika masyarakat kehilangan kebiasaan membaca dan merenung, maka perpustakaan hanya akan menjadi bangunan sunyi di tengah budaya digital yang riuh.
Kita sebenarnya dapat melihat gejala tersebut di berbagai tempat. Banyak perpustakaan tidak lagi dipenuhi pengunjung seperti dahulu. Buku kalah bersaing dengan hiburan digital yang jauh lebih cepat dan adiktif. Di media sosial Reddit, sejumlah pengguna bahkan mengeluhkan berkurangnya perhatian terhadap perpustakaan dan budaya literasi akibat pemotongan anggaran maupun rendahnya kepedulian publik. Keluhan itu memperlihatkan bahwa literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Negara dan masyarakat harus sama-sama menjaga ruang pengetahuan agar tetap hidup.
Namun, tantangan terbesar sesungguhnya terletak pada perubahan budaya. Kita semakin terbiasa hidup dalam ritme cepat yang membuat manusia kehilangan waktu untuk diam dan berpikir. Bahkan ketika membaca, banyak orang melakukannya sambil membuka aplikasi lain. Konsentrasi menjadi pendek. Perhatian mudah terpecah. Padahal, peradaban besar selalu dibangun oleh masyarakat yang memiliki tradisi renungan.
Para pendiri bangsa Indonesia memahami hal itu. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan Malaka adalah pembaca yang tekun. Mereka membangun gagasan kebangsaan melalui proses membaca, berdiskusi, dan menulis. Kemerdekaan Indonesia bukan lahir dari budaya scroll, melainkan dari pergulatan intelektual yang panjang.
Hari ini, pergulatan semacam itu semakin sulit ditemukan. Kita lebih akrab dengan viralitas dibanding kedalaman. Lebih tertarik pada sensasi dibanding refleksi. Bahkan banyak anak muda mengenal ringkasan buku lebih baik daripada isi bukunya sendiri. Video satu menit dianggap cukup untuk memahami persoalan rumit. Padahal, dunia tidak sesederhana potongan konten media sosial.
Karena itu, Hari Buku Nasional tahun ini seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini perlu menjadi alarm kebudayaan. Kita harus bertanya dengan jujur: apakah kita masih memberi ruang bagi renungan di tengah kehidupan digital yang bising?
Sebab bangsa yang kehilangan kemampuan merenung akan mudah digiring oleh emosi dan sensasi. Ketika masyarakat tidak lagi terbiasa membaca secara mendalam, mereka akan kesulitan membedakan mana fakta, mana manipulasi, dan mana propaganda.
Lebih jauh lagi, hilangnya budaya renungan akan melemahkan kualitas demokrasi. Demokrasi membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar bereaksi cepat. Bangsa yang sehat bukan bangsa yang paling gaduh di media sosial, melainkan bangsa yang mampu berdialog dengan akal sehat. Dalam konteks itulah, merawat pustaka berarti juga merawat kemampuan manusia untuk berpikir jernih.
Kita tentu tidak mungkin menolak perkembangan teknologi. Media sosial dan platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Tetapi teknologi seharusnya membantu manusia memperluas pengetahuan, bukan justru memiskinkan kedalaman berpikir. Karena itu, tantangan terbesar kita hari ini bukan sekadar membuat masyarakat gemar membaca, melainkan mengembalikan tradisi renungan di tengah budaya scroll yang serba cepat. Sebab ketika sebuah bangsa terus menggulir layar tanpa pernah berhenti berpikir, yang hilang bukan hanya kebiasaan membaca. Yang hilang adalah kemampuan bangsa itu untuk memahami dirinya sendiri.













