Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Masihkah Buku Menjadi Jendela Dunia?

×

Masihkah Buku Menjadi Jendela Dunia?

Sebarkan artikel ini
IMG 20260518 184931

Oleh : RK Ariyandi
Praktisi Perbankan

Apakah kita masih ingat dengan satu ungkapan yang dahulu begitu akrab didengar: buku adalah jendela dunia?
Kalimat itu pernah tumbuh bersama banyak generasi. Ia menjadi pengingat bahwa melalui buku, seseorang dapat mengenal dunia yang lebih luas, memahami banyak pemikiran, serta melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Namun hari ini, di tengah derasnya arus media sosial dan perubahan gaya hidup generasi kekinian, ungkapan itu perlahan terasa semakin jauh.

Kalimantan Post


Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik, berbagai pengetahuan muncul di layar telepon genggam. Konten hadir tanpa henti, berganti terus-menerus, dan bersaing memperebutkan perhatian manusia. Apa yang dahulu harus dicari berjam-jam di perpustakaan, kini dapat ditemukan hanya melalui beberapa sentuhan jari.


Di tengah perubahan itu, muncul satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: masihkah buku benar-benar menjadi jendela dunia bagi generasi hari ini? Ataukah perlahan kita mulai mengganti kebiasaan membaca dengan sekadar melihat sekilas?
Media sosial telah membentuk cara baru manusia menikmati informasi. Generasi muda tumbuh di tengah budaya yang serba cepat. Mereka terbiasa dengan video pendek, ringkasan singkat, dan potongan-potongan informasi yang datang silih berganti. Dunia digital menghadirkan kemudahan yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama juga mengubah cara manusia bertahan dalam membaca dan memahami sesuatu secara mendalam.


Tanpa disadari, kebiasaan menikmati informasi serba singkat perlahan ikut membentuk cara kerja pikiran manusia. Otak menjadi terbiasa menerima sesuatu secara cepat, ringkas, dan terus berganti. Akibatnya, kemampuan untuk bertahan membaca panjang, merenung, dan memahami sesuatu secara mendalam mulai menurun.


Kita mulai terbiasa membaca cepat, bereaksi cepat, bahkan menyimpulkan sesuatu dengan cepat. Akibatnya, ruang untuk berpikir perlahan semakin sempit. Di sinilah posisi buku mulai diuji.


Buku membutuhkan waktu, sementara dunia hari ini terbiasa dengan kecepatan. Buku mengajak seseorang menyelami pemikiran secara perlahan, sedangkan media digital sering kali mendorong segala sesuatu menjadi serba instan.


Tidak sedikit orang akhirnya lebih nyaman membaca cuplikan dibandingkan membaca secara utuh. Padahal, tidak semua hal dapat dipahami hanya dalam beberapa detik.


Ada pengetahuan yang membutuhkan proses. Ada pemahaman yang lahir dari kesabaran. Dan ada kedewasaan berpikir yang tumbuh justru ketika seseorang mau meluangkan waktu untuk membaca secara mendalam.
Kita mulai jarang melihat perpustakaan dipenuhi anak muda seperti dahulu. Di banyak tempat, toko buku juga tidak lagi seramai masa-masa sebelumnya. Sebagian orang kini lebih akrab dengan layar yang terus bergerak dibandingkan halaman buku yang mengajak seseorang berhenti sejenak untuk berpikir.
Jika keadaan ini terus berlangsung, yang kita hadapi bukan sekadar menurunnya minat baca, tetapi melemahnya kemampuan manusia untuk berpikir lebih dalam. Padahal, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pemikiran masyarakatnya.

Baca Juga :  Hilirisasi Batubara untuk Kemaslahatan Negeri


Buku sesungguhnya tidak pernah sekadar tentang lembaran kertas. Ia adalah ruang dialog antara penulis dan pembaca. Dari buku, seseorang dapat mengenal dunia yang belum pernah ia lihat, memahami pengalaman hidup orang lain, bahkan menemukan cara baru memandang kehidupan.


Karena itu, ungkapan bahwa buku adalah jendela dunia sesungguhnya masih relevan hingga hari ini. Hanya saja, tantangannya kini jauh lebih besar dibandingkan masa lalu.
Kita hidup di era ketika perhatian manusia menjadi rebutan. Media sosial, hiburan digital, dan arus konten yang tidak pernah berhenti membuat buku harus bersaing dengan banyak hal. Ironisnya, semakin banyak informasi tersedia, semakin sedikit orang yang benar-benar meluangkan waktu untuk membaca secara mendalam.


Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa dunia literasi masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga buku yang relatif mahal bagi sebagian masyarakat, akses perpustakaan yang belum merata, hingga budaya membaca yang belum sepenuhnya kuat menjadi persoalan yang masih nyata.
Momentum Hari Buku Nasional seharusnya tidak hanya berhenti pada seremoni dan ajakan membaca semata. Kita perlu mulai melihat literasi sebagai bagian penting dalam pembangunan manusia.


Pemerintah memiliki peran besar untuk memastikan akses terhadap buku dan pengetahuan semakin terbuka. Perpustakaan tidak cukup hanya menjadi pelengkap fasilitas publik, tetapi perlu bertransformasi menjadi ruang yang nyaman, modern, dan dekat dengan generasi muda.


Generasi hari ini tumbuh di tengah dunia yang visual, interaktif, dan dinamis. Karena itu, perpustakaan perlu menjadi ruang yang bukan hanya menyediakan bacaan, tetapi juga menghadirkan pengalaman. Ruang diskusi, komunitas literasi, area kreatif, hingga pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi cara untuk mendekatkan kembali anak muda dengan budaya membaca. Sebab pada akhirnya, minat baca tidak akan tumbuh jika buku terasa jauh dari kehidupan mereka.
Di sisi lain, upaya meningkatkan budaya membaca juga tidak cukup hanya melalui slogan atau kampanye sesaat. Budaya membaca perlu dibangun dari kebiasaan kecil yang tumbuh secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  AI dan Otomatisasi di Kelas: Ancaman atau Peluang bagi Guru?


Keluarga memiliki peran penting dalam hal ini. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang akrab dengan buku cenderung memiliki hubungan yang lebih dekat dengan aktivitas membaca. Keteladanan sering kali jauh lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat.
Sekolah pun memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting. Membaca seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban akademik, tetapi sebagai kebiasaan yang membentuk cara berpikir. Anak-anak perlu dikenalkan pada buku bukan dengan tekanan, melainkan dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan.


Di tengah perkembangan teknologi, buku juga tidak seharusnya dipertentangkan dengan dunia digital. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan. Teknologi dapat membantu memperluas akses membaca melalui buku digital, platform edukasi, maupun perpustakaan daring. Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah budaya berpikir mendalam yang selama ini dibangun melalui kebiasaan membaca.


Karena pada akhirnya, persoalan terbesar hari ini mungkin bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya kedalaman dalam memahami informasi itu sendiri. Dan buku, sejak dahulu, mengajarkan manusia tentang hal itu.


Ia mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari kebisingan, masuk ke dalam ruang pemikiran, lalu melihat dunia dengan cara yang lebih luas dan lebih bijaksana. Mungkin itulah alasan mengapa buku tetap penting hingga hari ini. Sebab ketika dunia bergerak semakin cepat, buku justru mengingatkan manusia untuk tidak kehilangan kedalaman berpikirnya.


Jika buku perlahan ditinggalkan, yang sesungguhnya kita khawatirkan bukan hanya hilangnya kebiasaan membaca, tetapi hilangnya kemampuan manusia untuk memahami kehidupan secara lebih utuh.
Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting hari ini bukan lagi apakah buku masih menjadi jendela dunia, melainkan apakah kita sendiri masih mau meluangkan waktu untuk membuka jendela itu.

Iklan
Iklan