Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pancasilais

×

Pancasilais

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ade Hermawan
Dosen FISIP Uniska MAB Banjarmasin

Pancasilais adalah kata sifat yang merujuk kepada seseorang atau sekelompok orang yang menganut, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kalimantan Post

Seorang Pancasilais tidak diukur dari seberapa hafal ia terhadap redaksi lima sila, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut memandu perilaku sehari-harinya. Pancasila bagi seorang Pancasilais adalah sebuah ideologi yang hidup dan pandangan hidup.

Karakteristik Seorang Pancasilais Adalah Memiliki keimanan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, namun di saat yang sama menghormati, menghargai, dan memberikan ruang bagi keyakinan orang lain tanpa merasa paling benar sendiri. Menjunjung tinggi hak asasi manusia, memiliki rasa empati yang tinggi, serta menolak segala bentuk penindasan, diskriminasi, dan ketidakadilan di sekitarnya. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Di era digital, mereka bertindak sebagai perajut persatuan dan penangkal hoaks atau politik identitas yang memecah belah. Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan masalah. Seorang Pancasilais menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak dengan cara-cara yang intimidatif. Dan Memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan bersama, menunjukkan sikap gotong royong, serta mendukung terciptanya kesetaraan akses dan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat (terutama yang lemah).

Menjadi Pancasilais adalah sebuah komitmen moral yang tinggi. Di ranah publik dan professional, baik sebagai warga negara, akademisi, birokrat, maupun pemimpin, sikap Pancasilais tercermin dari kejujuran, integritas (menolak korupsi/kolusi), serta komitmen untuk selalu membawa kemaslahatan dan keberkahan bagi lingkungan sekitar.

Pancasilais adalah predikat bagi manusia Indonesia yang otentik. Mereka yang menjadikan moralitas Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan sebagai jangkar berpikir dan bertindak di tengah dinamisnya perkembangan zaman.

Menjadi seorang Pancasilais bukan sekadar masalah kebanggaan identitas, melainkan sebuah urgensi eksistensial bagi keberlangsungan bangsa Indonesia. Di tengah hantaman globalisasi, polarisasi sosial, dan pergeseran nilai moral, komitmen untuk menjadi Pancasilais memiliki urgensi yang sangat krusial.

Sikap dan karakter Pancasilais begitu penting untuk dirawat dan dihidupkan, karena sebagai alat pemersatu di tengah heterogenitas. Indonesia adalah salah satu negara paling majemuk di dunia, dengan ribuan suku, bahasa, serta beragam agama dan ras. Tanpa adanya pengikat yang kuat, dinamika perbedaan ini sangat rentan memicu konflik. Sikap Pancasilais (terutama cerminan Sila ke-3) bertindak sebagai “semen perekat” yang menyatukan ego kesukuan atau keagamaan menjadi satu identitas nasional. Tanpa manusia-manusia yang Pancasilais, tenunan kebangsaan kita akan mudah koyak oleh politik identitas dan radikalisme.

Tantangan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam, seperti praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dan penyalahgunaan kekuasaan. Karakter Pancasilais memberikan jangkar moral yang kuat. Seorang aparatur sipil, akademisi, atau pemimpin yang Pancasilais akan memandang jabatan sebagai amanah Ketuhanan (Sila ke-1) yang harus dipertanggungjawabkan demi kemaslahatan rakyat (Sila ke-5). Nilai ini menumbuhkan integritas mutlak untuk menolak segala tindakan yang merugikan negara.

Baca Juga :  KISAH TERBAIK

Arus informasi yang tanpa filter saat ini membawa serta ideologi-ideologi asing, pragmatisme, individualisme ekstrem, dan budaya hoaks yang dapat mengikis jati diri bangsa. Pancasilais berfungsi sebagai filter budaya dan intelektual. Ia membuat masyarakat tidak gagap menghadapi modernitas, namun tetap berpijak pada akar budaya kepribadian bangsa sendiri yang gemar bergotong-royong, santun, dan menghargai kemanusiaan.

Dalam kehidupan sosial, kelompok minoritas atau masyarakat kelas bawah sering kali berada dalam posisi yang rentan terhadap ketidakadilan. Jiwa Pancasilais menuntut kepedulian universal. Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan Sila ke-5 (Keadilan Sosial) memastikan bahwa pembangunan, penegakan hukum, dan pelayanan publik harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara setara, tanpa memandang kasta sosial atau latar belakang etnis.

Perbedaan pendapat dalam ruang politik sering kali berujung pada caci maki, saling menjatuhkan, dan kebencian yang berkepanjangan. Sila ke-4 mengajarkan esensi musyawarah dan kedewasaan berpolitik. Manusia yang Pancasilais akan mengutamakan dialog yang rasional, mau mendengar, dan berlapang dada menerima perbedaan demi mufakat dan kepentingan yang lebih besar, bukan memaksakan kehendak dengan otot atau intimidasi.

Pentingnya menjadi Pancasilais terletak pada keberlanjutan masa depan Indonesia itu sendiri. Pancasila tidak akan ada artinya jika hanya menjadi dokumen mati di museum sejarah. Ia baru menjadi bertenaga ketika mewujud dalam diri manusia-manusia Pancasilais, mereka yang dengan sadar menjaga agar Indonesia tetap tegak, adil, makmur, dan penuh keberkahan bagi generasi mendatang.

Menjadi seorang Pancasilais bukan berarti kita harus melakukan gerakan-gerakan besar yang instan atau heroik. Proses ini adalah sebuah perjalanan pembentukan karakter yang dimulai dari wilayah personal, lalu meluas ke ranah profesional dan sosial.

Sebelum mengamalkannya ke luar, nilai-nilai Pancasila harus mengakar kuat di dalam cara berpikir kita. Selalu gunakan lima sila sebagai cermin etis sebelum mengambil keputusan besar atau menyatakan pendapat di ruang publik. Menjadi Pancasilais berarti melatih kelapangan dada, mengendalikan ego, dan menjauhkan diri dari sifat takabur. Kepribadian yang tenang dan penuh kasih adalah fondasi dari kemanusiaan dan persatuan.

Kita bisa mempraktikkan sikap Pancasilais lewat tindakan-tindakan konkret yang menyentuh urusan keseharian. Jalankan ibadah dan keyakinan dengan sungguh-sungguh hingga membuahkan kesalehan personal, namun di saat yang sama, berikan rasa aman dan toleransi penuh kepada sesama yang berbeda keyakinan. Tolonglah orang lain tanpa melihat kasta atau latar belakangnya. Tolak segala bentuk perundungan (bullying), diskriminasi, atau tindakan yang merendahkan martabat manusia. Di era digital, jadilah agen penyejuk. Jangan ikut menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau konten yang memicu polarisasi (politik identitas). Utamakan keutuhan komunitas dan bangsa di atas ego kelompok. Biasakan budaya dialog. Jika ada perbedaan pendapat, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, atau organisasi, selesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah. Belajarlah untuk mendengar secara aktif sebelum mendebat. Dan Hidupkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Mulailah dari hal kecil, seperti berbagi rezeki kepada yang membutuhkan, hingga memastikan kita tidak mengambil hak orang lain dalam ruang publik (misalnya, tertib mengantre dan taat aturan lalu lintas).

Baca Juga :  Penjara di Era Viral: Ketika Sistem Pemidanaan Gagap Menghadapi Layar Kaca

Bagi seorang profesional, akademisi, birokrat, maupun penggerak masyarakat, menjadi Pancasilais menuntut tanggung jawab moral yang lebih tinggi. Melawan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dan penyalahgunaan wewenang bukan hanya urusan hukum, melainkan manifestasi tertinggi dari rasa takut kepada Tuhan (Sila 1) dan komitmen pada keadilan rakyat (Sila 5). Gunakan ilmu, keahlian, dan teknologi yang kita kuasai untuk membantu meningkatkan taraf hidup orang banyak, meningkatkan transparansi pelayanan, atau mengedukasi lingkungan sekitar agar lebih berdaya. Pastikan setiap karya, tulisan, kebijakan, atau program kerja yang kita buat tidak hanya mengejar target formalitas (seperti sekadar mengejar pemenuhan dokumen), melainkan benar-benar membawa manfaat yang nyata, membawa ketenteraman, dan menjadi berkah bagi masyarakat luas.

Menjadi Pancasilais adalah tentang konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Ia tidak tumbuh dari retorika di atas panggung, melainkan dari kejujuran niat di ruang sunyi, integritas saat memegang amanah, dan ketulusan untuk terus berbuat baik demi kemanusiaan dan persatuan Indonesia.

Menjadi Pancasilais tidak butuh tepuk tangan yang riuh. Ia tumbuh subur di ruang-ruang sunyi yang jauh dari sorot kamera. Ia ada pada ketulusan seorang guru yang mengabdi di pedalaman demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia hidup dalam integritas seorang aparatur sipil yang menolak suap demi menjaga kehormatan tugasnya. Ia nyata dalam kepedulian warga yang bahu-membahu membantu tetangganya yang sedang kesusahan tanpa bertanya apa agamanya atau dari mana sukunya.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tidak pula kekurangan orang vokal. Namun, bangsa ini selalu merindukan manusia-manusia Pancasilais yang otentik, mereka yang menaruh kepentingan publik di atas syahwat pribadi, dan mereka yang menjadikan moralitas sebagai jangkar di tengah badai perubahan zaman.

Iklan
Iklan