Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pancasila Jangan Berhenti di Lapangan Upacara

×

Pancasila Jangan Berhenti di Lapangan Upacara

Sebarkan artikel ini

#Editorial Kalimantan Post, 2 Juni 2026

SETIAP tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Di Kalimantan Selatan, seperti juga di seluruh pelosok negeri, upacara digelar dengan khidmat. Bendera dikibarkan, pidato dibacakan, dan seruan untuk menjaga persatuan kembali menggema.
Namun pertanyaan mendasarnya adalah, apakah Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita, atau hanya hidup beberapa jam di lapangan upacara setiap tahun?

Kalimantan Post

Tema Hari Lahir Pancasila 2026, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” , sesungguhnya mengandung pesan yang sangat relevan. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian. Perang masih berlangsung di berbagai kawasan. Polarisasi politik semakin tajam. Teknologi digital berkembang pesat, tetapi pada saat yang sama melahirkan banjir informasi palsu, ujaran kebencian, dan ruang-ruang perpecahan baru.

Di tengah situasi itu, Indonesia memiliki modal besar yang tidak dimiliki banyak negara: Pancasila.

Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah hasil pemikiran para pendiri bangsa. Ia adalah kesepakatan nasional yang memungkinkan ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama hidup dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Namun justru karena itulah, tantangan terbesar hari ini bukanlah menghafal lima sila, melainkan mengamalkannya.

Kita masih menyaksikan korupsi yang merampas hak rakyat. Kita masih melihat ketimpangan sosial yang lebar. Kita masih menemukan praktik intoleransi, perundungan di media sosial, penyebaran hoaks, hingga politik identitas yang sewaktu-waktu dapat mengoyak persatuan bangsa.

Ironisnya, semua itu sering dilakukan oleh orang-orang yang setiap tahun ikut memperingati Hari Lahir Pancasila.

Karena itu, peringatan 1 Juni tidak boleh berhenti sebagai ritual seremonial. Pancasila harus hadir dalam kebijakan pemerintah, dalam pelayanan publik, dalam dunia pendidikan, dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan dalam aktivitas sederhana sehari-hari.

Sila Ketuhanan mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Sila Kemanusiaan mengingatkan pentingnya menghargai martabat sesama manusia. Sila Persatuan menolak segala bentuk politik pecah belah. Sila Kerakyatan menghendaki musyawarah, bukan saling membenci. Sila Keadilan Sosial menuntut keberpihakan kepada rakyat kecil.

Baca Juga :  Pancasilais

Semua nilai itu sesungguhnya sangat konkret.
Di Kalimantan Selatan, pesan tersebut menjadi semakin penting. Daerah ini dikenal memiliki budaya gotong royong yang kuat, masyarakat yang religius, serta tradisi kebersamaan yang telah terbangun sejak lama. Nilai-nilai itu sejatinya merupakan manifestasi nyata dari Pancasila.

Namun zaman telah berubah. Generasi muda kini hidup di ruang digital yang tanpa batas. Mereka lebih banyak menerima informasi dari media sosial dibandingkan ruang kelas. Mereka menghadapi pengaruh global yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjadikan Pancasila sebagai Living ideology atau ideologi yang hidup, sebagaimana disampaikan dalam berbagai upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini.

Pancasila harus mampu menjawab persoalan nyata generasi muda: etika bermedia sosial, toleransi dalam keberagaman, kepedulian terhadap lingkungan, semangat kewirausahaan, hingga integritas dalam kehidupan publik.
Generasi muda tidak cukup hanya diminta menghafal Pancasila. Mereka harus melihat contoh nyata dari para pemimpin, pejabat, tokoh masyarakat, dan seluruh penyelenggara negara.Sebab Pancasila tidak diajarkan melalui pidato semata. Pancasila diajarkan melalui keteladanan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Hari Lahir Pancasila bukanlah seberapa banyak upacara yang digelar atau seberapa meriah peringatannya. Ukurannya adalah apakah setelah 1 Juni berlalu, bangsa ini menjadi lebih jujur, lebih adil, lebih toleran, dan lebih bersatu.

Jika Pancasila hanya menjadi slogan tahunan, maka kita kehilangan maknanya. Tetapi jika Pancasila benar-benar hadir dalam tindakan sehari-hari, maka ia akan tetap menjadi bintang penuntun bangsa, sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri republik ini 81 tahun lalu.

Peringatan boleh berakhir. Upacara boleh selesai. Namun pengamalan Pancasila tidak boleh berhenti.

Iklan
Iklan