RANTAU, Kalimantanpost.com – Pemerintah Kabupaten Tapin melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana dengan melibatkan kader Posyandu sebagai ujung tombak edukasi di tingkat desa dan kelurahan.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Kawasan untuk Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana dengan Keluarga Tangguh Bencana (KATANA) yang berlangsung di Aula BPBD Kabupaten Tapin, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan ini diikuti 45 peserta yang berasal dari sejumlah organisasi perangkat daerah, di antaranya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Satpol PP dan Damkar, serta kader Posyandu bidang ketenteraman, ketertiban umum, dan kebencanaan dari sejumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Tapin.
Mereka mendapatkan pembekalan mengenai mitigasi, pencegahan, dan langkah-langkah penanganan bencana di lingkungan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Tapin, M Noor mengatakan, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi kebutuhan mendesak mengingat Kabupaten Tapin memiliki potensi berbagai bencana alam, mulai dari banjir, banjir bandang, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, tanah longsor hingga cuaca ekstrem.
“Bencana bisa terjadi kapan saja. Karena itu, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kesiapan yang memadai agar mampu melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar saat terjadi keadaan darurat,” kata M Noor.
Menurut dia, program tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kebencanaan.
“Melalui program ini, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana memperoleh akses terhadap informasi, edukasi, dan pelatihan mitigasi secara berkelanjutan,” katanya.
M Noor menilai keterlibatan kader Posyandu menjadi strategi efektif untuk memperluas edukasi kebencanaan hingga ke tingkat keluarga. Selama ini, kader Posyandu memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Kelompok rentan merupakan pihak yang paling berisiko ketika bencana terjadi. Karena itu, kader Posyandu perlu dibekali pengetahuan kebencanaan agar dapat memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat,” ujarnya.
Melalui program KATANA, kader Posyandu didorong tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi agen penyebarluasan informasi kesiapsiagaan bencana.
“Edukasi tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga setiap keluarga memiliki pemahaman tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
BPBD Tapin berharap para peserta mampu menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada warga di lingkungan masing-masing.
“Dengan semakin luasnya pemahaman masyarakat mengenai mitigasi bencana, risiko korban dan kerugian akibat bencana diharapkan dapat ditekan,” pungkasnya.(abd/KPO-4)















