Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

RUPIAH MELEMAH, MEMBERATKAN MASYARAKAT

×

RUPIAH MELEMAH, MEMBERATKAN MASYARAKAT

Sebarkan artikel ini

Oleh : MARLINA SHOFIYYAH

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.937 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026) pagi. Mata uang Garuda menguat 51,5 poin atau 0,29 persen dari perdagangan sebelumnya. (cnbcindonesia.com, 12/06/2026).

Kalimantan Post

Melemahnya rupiah terhadap dollar berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Bagaimana tidak, harga barang di pasar sudah mulai naik, harga beras, minyak goreng, bahkan gorengan saja semakin mengecil bentuknya. Semua karena bahan baku dan energi masih banyak yang impor. Jika rupiah melemah maka harga menjadi lebih mahal.

Masyarakat menengah bawah yang paling merasakan dampaknya. Pengeluaran menjadi lebih banyak daripada pendapatan. Tidak sedikit dari mereka terjebak pinjaman offline dan online. Bukan untuk berfoya-foya tetapi untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Sedangkan orang kaya punya dollar dan aset mungkin tidak terlalu terdampak.

Mirisnya, respon pemerintah yang menyatakan bahwa keadaan aman. “Pangan aman. Energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” kata Presiden. (Kompas.com). Ini berbanding terbalik dengan realita. Di pasar, di warung, di dompet para ibu yang belanja setiap hari, tidaklah aman.

Mengapa bisa begitu? Di satu sisi karena konstelasi politik Internasional. Adanya perang AS-Iran mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Di sisi lain, masalah kebijakan dalam negeri. Impor yang terus dilakukan, utang yang selalu bertambah. Rakyat berharap negara hadir, menjadi perisai. Bukan berlepas tangan, akhirnya rakyat menanggung beban sendirian.

Masalah sebesar ini dibutuhkan sistem ekonomi yang memang didesain untuk menjaga stabilitas dan melindungi yang lemah. Di sinilah sistem ekonomi Islam menawarkan konstruksi yang berbeda.

Pentingnya sistem uang yang stabil. Islam mewajibkan penggunaan emas dan perak sebagai standar nilai. Uang bukan komoditas yang bisa dicetak tanpa batas seperti fiat saat ini. Ketika uang memiliki nilai intrinsik, inflasi yang disebabkan pencetakan uang berlebihan bisa ditekan. Nilai tukar pun lebih stabil karena tidak bergantung sepenuhnya pada kepercayaan pasar.

Baca Juga :  Ancaman El Nino di Kalsel

Mekanisme syariat untuk menjaga harga. Islam melarang riba, karena riba memisahkan uang dari sektor riil dan memicu spekulasi. Islam juga melarang ihtikar atau penimbunan barang. Negara berkewajiban menjamin distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar dan harga tidak dimainkan kartel. Kepemilikan sumber daya vital seperti air, energi, dan tambang juga dikembalikan ke tangan publik, bukan diserahkan ke swasta yang orientasinya profit.

Peran pemimpin sebagai ra’in dan junnah. Dalam Islam, pemimpin adalah penggembala yang bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Ia bukan sekadar regulator, tapi pelindung. Jika ada rakyat yang kelaparan, pemimpinlah yang pertama ditanya di hadapan Allah SWT. Konsep ini menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tanggung jawab negara.

Maka sampai kapan kita mau bertahan dengan sistem yang gagal melindungi yang lemah?

Iklan
Iklan