Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Ketika Profesi Dosen Tak Lagi Menarik

×

Ketika Profesi Dosen Tak Lagi Menarik

Sebarkan artikel ini
IMG 20260626 110508

Banjarmasin, kalimantanpost.com – ADA masa ketika profesi dosen dipandang sebagai pekerjaan terhormat, penuh wibawa, sekaligus menjanjikan masa depan yang cukup mapan.

Menjadi dosen identik dengan intelektualitas, pengabdian, dan posisi sosial yang dihormati di tengah masyarakat.

Kalimantan Post

Namun, gambaran itu perlahan berubah. Hari ini, terutama di banyak perguruan tinggi swasta, profesi dosen justru makin jauh dari kata menarik jika dilihat dari sisi kesejahteraan.

Pandangan itu setidaknya tergambar dari pernyataan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan, Dr Ir Murjani.

Ia menyebut profesi dosen saat ini, khususnya dosen di perguruan tinggi swasta, lebih menyerupai profesi pengabdian murni. Dalam bahasa sederhana, pekerjaan itu dijalani bukan karena menjanjikan penghasilan besar, melainkan karena kecintaan terhadap dunia pendidikan.

Ungkapan Murjani terasa jujur sekaligus menohok. Dalam bahasa Banjar, ia menyebut profesi dosen “kada kawa dijadikan mata pencaharian”, atau tidak bisa sepenuhnya dijadikan sandaran hidup sehari-hari.

Kalimat itu mungkin terdengar getir, tetapi justru di situlah letak kenyataannya. Banyak dosen tetap bertahan bukan karena hidup mereka sudah sejahtera, melainkan karena mereka masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian yang layak diperjuangkan.

Di balik ruang kuliah, tugas mengajar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, laporan administrasi, hingga tuntutan publikasi ilmiah, ada realitas lain yang kerap luput dari perhatian.

Dosen juga manusia biasa yang harus memikirkan kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, tagihan bulanan, hingga masa depan keluarga. Ketika penghasilan dari kampus tak cukup menopang semuanya, maka tak sedikit dosen harus mencari jalan lain agar dapur tetap mengepul.

Murjani mengaku, banyak dosen menjalani hidup dengan berbagai cara yang halal. Ada yang berwirausaha, bertani, menjadi konsultan, mengajar di beberapa tempat, hingga mengambil pekerjaan tambahan di luar kampus. Semua dilakukan agar dua hal tetap berjalan beriringan: kewajiban Tri Dharma perguruan tinggi terpenuhi, dan keluarga tetap dinafkahi dengan layak.

Baca Juga :  SPMB Berakhir, Kursi Siswa Baru di SMPN 29 Banjarmasin Belum Terisi Penuh

Di titik inilah persoalannya menjadi serius. Jika profesi dosen terus dipersepsikan sebagai pekerjaan yang mulia tetapi tidak cukup menjamin kehidupan yang layak, maka lambat laun profesi ini bisa kehilangan daya tarik di mata generasi muda.

Anak-anak muda terbaik mungkin akan berpikir dua kali untuk meniti jalan akademik. Mereka bisa saja tetap mencintai dunia pendidikan, tetapi memilih profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

Padahal, kualitas pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh kualitas dosennya. Sulit berharap lahir kampus yang kuat, riset yang maju, dan lulusan yang unggul jika para pengajarnya sendiri harus terus berjuang di tengah keterbatasan. Pengabdian memang mulia, tetapi pengabdian tidak semestinya identik dengan ketidakcukupan.

Karena itu, pembicaraan tentang dosen tak boleh berhenti pada pujian terhadap dedikasi mereka. Sudah waktunya ada perhatian lebih serius terhadap kesejahteraan tenaga pengajar, terutama di perguruan tinggi swasta. Sebab jika profesi dosen tak lagi menarik, yang terancam bukan hanya nasib para dosen, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.(nau/KPO-1)

Iklan
Iklan