Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Tangisan Bayi Menguji Nurani

×

Tangisan Bayi Menguji Nurani

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 13 Juli 2026

TANGISAN seorang bayi yang terdengar dari bawah Jembatan Besi Angsau, Pelaihari, Sabtu pagi, bukan sekadar kabar kriminal.

Tangisan itu adalah suara yang menggugah nurani. Seorang bayi perempuan yang baru dilahirkan ditemukan terbungkus kantong plastik, masih berlumuran darah, lalu diselamatkan warga bersama seorang anggota TNI.

Kalimantan Post

Beruntung, nyawa bayi itu masih dapat diselamatkan. Namun, peristiwa tersebut meninggalkan pertanyaan besar, bagaimana seorang anak yang baru hadir ke dunia justru menjadi korban penelantaran?

Kasus ini tentu harus diusut tuntas. Kepolisian telah bergerak melakukan penyelidikan untuk menemukan orang tua maupun pihak yang bertanggung jawab.

Penegakan hukum menjadi langkah penting agar ada efek jera bagi siapa pun yang tega membuang bayi. Tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan juga pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Namun, penyelesaian persoalan ini tidak cukup berhenti pada penangkapan pelaku. Peristiwa pembuangan bayi hampir selalu memiliki latar belakang yang kompleks.

Kehamilan yang tidak diinginkan, tekanan ekonomi, ketakutan menghadapi stigma sosial, hingga minimnya dukungan keluarga sering menjadi faktor yang saling berkaitan.

Semua itu tidak dapat dijadikan pembenaran, tetapi harus dipahami sebagai akar persoalan yang perlu diatasi bersama.

Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan hanya represif, tetapi juga preventif. Pendidikan kesehatan reproduksi, penguatan peran keluarga, layanan konseling yang mudah diakses, hingga perlindungan terhadap perempuan yang menghadapi kehamilan dalam situasi sulit perlu terus diperkuat. Masyarakat juga harus didorong untuk lebih peduli, bukan sekadar menghakimi.

Di sisi lain, kehadiran warga yang sigap memberikan pertolongan dan tindakan cepat Serma Sugiyanto patut diapresiasi.

Mereka menunjukkan bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat. Nilai kemanusiaan itulah yang menjadi penyeimbang di tengah kisah yang memilukan ini. Tanpa kepedulian tersebut, mungkin nasib bayi itu akan berbeda.

Baca Juga :  Program MBG Jadi Bancakan Korupsi, Hentikan Atau Evaluasi Total!

Peran Dinas Sosial dalam memberikan perlindungan dan memastikan masa depan bayi juga menjadi bagian penting dari rangkaian penanganan. Negara harus hadir memastikan setiap anak memperoleh hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang tanpa diskriminasi.

Tangisan bayi di bawah jembatan seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Jangan sampai peristiwa serupa terus berulang hanya karena kita lebih sibuk mengecam daripada membangun sistem perlindungan yang kuat.

Setiap anak berhak lahir dengan kasih sayang, bukan dengan ketakutan dan penelantaran. Peristiwa di Pelaihari mengingatkan bahwa ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya melindungi mereka yang paling lemah dan tak berdaya.

Iklan
Iklan