Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

×

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Astuti Ariani, S.Pd
Pemerhati Pendidikan

Di tengah derasnya arus digital dan perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan teknologi, tetapi juga akrab dengan kecemasan. Berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z di Indonesia menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Mereka dihantui kecemasan akan masa depan, tekanan sosial, hingga tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi gejala global.

Kalimantan Post

Data GoodStats menunjukkan sekitar 60 persen Gen Z Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Sementara itu, berbagai laporan juga mengungkap meningkatnya angka depresi pada remaja, tingginya pengangguran usia muda, serta ketidakpastian dunia kerja akibat disrupsi teknologi dan ekonomi. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan budaya media sosial yang membuat hidup seolah menjadi ajang perlombaan tanpa garis akhir.

Namun, menariknya, di balik kecemasan tersebut mulai muncul gelombang baru. Gen Z semakin kritis terhadap sistem yang mereka anggap tidak adil. Mereka mulai mempertanyakan arah pembangunan, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga nilai-nilai yang selama ini dianggap mapan. Berbagai pengamat menyebut fenomena ini sebagai gelombang resistensi—sebuah sikap menolak keadaan yang dianggap gagal memberikan masa depan yang layak. Pertanyaannya, mengapa kecemasan ini begitu masif?

Krisis yang dihadapi Gen Z sesungguhnya bukan semata persoalan individu. Ia merupakan refleksi dari krisis multidimensi yang sedang melanda dunia. Krisis ekonomi berkepanjangan, ketidakstabilan politik global, kerusakan lingkungan, hingga pudarnya nilai-nilai moral menjadi latar yang membentuk kehidupan generasi muda hari ini.

Lebih jauh lagi, peradaban sekuler-kapitalistik telah melahirkan standar hidup yang menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Nilai manusia diukur dari produktivitas, pencapaian, popularitas, dan kekayaan. Akibatnya, ketika gagal memenuhi standar tersebut, banyak anak muda merasa hidupnya tidak berarti.

Baca Juga :  Bintang Lima Untuk Superhero Jalanan

Media sosial memperparah situasi itu. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana belajar dan berjejaring justru berubah menjadi arena perbandingan tanpa henti. Setiap hari mereka disuguhi pencapaian orang lain, gaya hidup mewah, dan citra kesuksesan yang sering kali tidak mencerminkan realitas. Tanpa fondasi kepribadian yang kokoh, tekanan ini mudah berkembang menjadi kecemasan bahkan depresi.

Ironisnya, negara pun sering kali belum hadir secara optimal sebagai pelindung generasi. Persoalan kesehatan mental lebih banyak ditangani sebagai masalah individu, sementara akar persoalan strukturalnya jarang disentuh. Di sisi lain, generasi muda justru kerap memperoleh stigma sebagai generasi yang lemah, manja, atau tidak tahan menghadapi tantangan. Padahal mereka sedang bertumbuh di tengah situasi dunia yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Meski demikian, kecemasan tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Justru dari kegelisahan itulah lahir kesadaran kritis. Banyak anak muda mulai mempertanyakan arah kehidupan modern yang menjanjikan kebahagiaan melalui konsumsi tanpa batas, tetapi justru menghasilkan kesepian dan kehampaan. Mereka mulai mencari makna hidup yang lebih dalam daripada sekadar karier dan materi. Dalam titik inilah, resistensi dapat menjadi awal perubahan.

Islam menawarkan perspektif yang berbeda dalam memandang manusia dan kehidupan. Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh. Ketika manusia memahami bahwa tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah Swt., ukuran kebahagiaan tidak lagi bergantung pada validasi manusia ataupun pencapaian materi semata. Keimanan melahirkan ketenangan batin, sedangkan syariat mengatur kehidupan agar berjalan secara adil.

Sejarah peradaban Islam memberikan banyak contoh bagaimana generasi muda dibentuk menjadi pribadi yang tangguh. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kuat, berakhlak mulia, sekaligus unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Nama-nama seperti Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia muda, Imam Asy-Syafi’i yang telah menjadi ulama besar sejak belia, hingga para ilmuwan Muslim yang memimpin perkembangan sains menunjukkan bahwa pemuda dapat menjadi motor peradaban ketika dibangun dengan fondasi akidah yang benar.

Baca Juga :  Fenomena “Boti” dan Krisis Standar Moral di Era Sekularisme

Dalam Islam, negara juga memiliki peran sentral sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyat. Negara tidak sekadar menjadi regulator ekonomi, tetapi bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, menjaga keamanan, serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi tumbuhnya generasi unggul. Kehadiran negara yang menjalankan amanah tersebut akan memperkuat optimisme generasi muda dalam menatap masa depan.

Karena itu, gelombang resistensi Gen Z seharusnya tidak berhenti pada kritik atau kemarahan terhadap keadaan. Energi besar ini perlu diarahkan menuju perubahan yang hakiki. Generasi muda membutuhkan visi hidup yang benar, identitas yang kokoh, dan kepedulian terhadap persoalan umat. Mereka perlu menyadari bahwa Islam bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan sebuah mabda’ (ideologi) yang memberikan arah bagi kehidupan individu maupun masyarakat.

Masa depan emas tidak akan lahir hanya dari kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Ia membutuhkan generasi yang memiliki keimanan, ilmu, keberanian, dan sistem kehidupan yang mampu menjaga martabat manusia. Dari depresi menuju resistensi hanyalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah mengubah resistensi menjadi kebangkitan—kebangkitan yang dibangun di atas nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Sebab, ketika generasi muda menemukan tujuan hidup yang benar dan hidup dalam sistem yang memuliakan manusia sesuai petunjuk Allah SWT, masa depan bukan lagi sumber kecemasan, melainkan ladang pengabdian untuk membangun peradaban terbaik. Wallahu a’lam bi Ash Shawab.

Iklan
Iklan