Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mendidik Anak Seminal Mungkin, Mungkinkah Hasilnya Semaksimal Mungkin?

×

Mendidik Anak Seminal Mungkin, Mungkinkah Hasilnya Semaksimal Mungkin?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Meita Ciptawati
Pemerhati Generasi

Apakah masih ingat tentang hilangnya nyawa karena tren Freestyle. Dua orang anak kecil yang hilang nyawanya karena patah tulang leher dari daerah Lombok. Padahal mereka masih duduk dibangku Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Sebenarnya tren viral di media sosial dan game banyak diikuti anak TK dan SD itu sangat berbahaya. Sampai akhirnya muncul himbauan KPAI agar ada pendampingan dari orang tua lebih diperhatikan. Ini jadi alarm keras bagi peran orangtua dan sistem pendidikan hari ini dalam mendidik generasi. (www.kompas.com, 08/05/2026)

Kalimantan Post

Salah satu hambatan dalam mendidik anak adalah lemahnya peran keluarga. Belum mampu menyiapkan anak dan mengawasi tumbuh kembangnya. Sering kita dapati orangtua sibuk dengan pekerjaannya, menjadikan Handphone (HP) atau gadget sebagai solusi bagi pengasuhan anak. Anak diberi HP, menjadi solusi agar anak diam dan tidak merepepotkan orang tua. Apalagi pada usia balita yang suka masih rewel. Tapi dampaknya tidaklah baik bagi perkembangan anak. Hal tersebut menjadikan anak sulit lepas dari HP hingga dewasa. Banyak kasus tentang anak kecanduan HP hingga sampai pada hal yang memprihatinkan yaitu masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Belum lagi tontonan tanpa batas usia yang mudah diakses. Sangat mudah masuk informasi apapun di HP yang anak pegang, padahal mereka belum sempurna akalnya. Belum bisa membedakan yang mana yang patut dicontoh dan yang mana yang harus dijauhi.

Di negara kita tidak ada hukum tentang batasan usia penggunaan HP. Negarapun tidak memfilter sepenuhnya konten media sosial yang tidak bermanfaat ataupun yang mengandung sesuatu yang tidak baik. Sehingga perlu peran orangtua memberi pengawasan ketat bagi anak yang belum baligh. Yaitu menyiapkan anak agar siap menjalani berbagai kehidupan kedepannya, dan agar bisa membedakan hal yang baik dan buruk berdasarkan pandangan yang benar. Anak-anak yang dalam masa prabalig ataupun masa balig harus dibelakali dengan ilmu yang memadai sampai akalnya sempurna. Maka itu perlu peran orang tua, lingkungan dan sekolah untuk saling support.

Baca Juga :  Pustakawan: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa atau Sekadar Penjaga Rak?

Sangat penting menyiapkan pendidikan untuk mencetak generasi yang berkualitas. Dimulai dari perhatian penuh terhadap pendidikan prabaligh, yaitu masa anak-anak menuju dewasa. Pada usia kelas satu sekolah dasar sampai kelas sekolah dasar atas. Dengan cara menetapkan kurikulum yang baku yaitu membentuk aqidah yang kuat. Kemudian mengajarkan tsaqofah Islam agar anak paham Islam, dan mampu membedakan hal yang baik dan yang buruk. Maka ini bisa berjalan optimal jika ada peran negara.

Disinilah peran negara dalam menyiapkan lingkungan yang kondusif. Pengaruh yang besar bagi tumbuh kembang anak adalah lingkungan. Lingkungan melindungi anak dari bahaya, tapi bisa juga malah mendatangkan bahanya. Ketika keluarga Islami mampu membentuk akal anak, maka anak akan matang cara berfikirnya, tau yang mana yang baik dan yang mana yang buruk. Mereka akan senantiasa melindungi dalam pertemanan. Maka ketika keluar rumah orangtua tidak khawatir karena lingkungan pertemanan saling mendukung dalam kebaikan. Tetapi menjadi was-was ketika orangtua melepas anaknya dilingkungan hari ini, karena tidak ada jaminan kebaikan dari lingkungan yang ada.

Dalam Islam negara berperan memberikan edukasi kepada orangtua yang mau menikah agar paham tugasnya nanti sebagai orangtua. Kemudian memberikan rasa aman kepada masyarakat dengan memberikan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Kemudian negara memberikan Pendidikan yang terbaik untuk rakyatnya, yaitu Pendidikan yang berasaskan Islam. Dengan menetapkan kurikulum Islam, yang nantinya akan mampu menyelesaikan masalah kehidupan. Karena Pendidikan sangat penting untuk membentuk manusia agar menjadi insan yang mandiri dan bermanfaat. Dan tujuan dari pendidikan Islam berjalan sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia. Yaitu beribadah kepada Allah (lihat surah ad-dzariyat: 56). Karena pendidikan itu sendiri untuk membentuk manusia berkepribadian Islam, pola pikir dan sikapnya berdasarkan standar Islam. Maka ini perlu peran negara agar menciptakan suasana yang mendukung masyarakat agar paham akan perannya berada di muka bumi ini. Wallahu ‘alam bis shawab.

Iklan
Iklan