BANJARMASIN, kalimantanpost.com – Program MTN Lab x Lab Batang Banyu Gawi Sabumi 2026 kembali menghadirkan ruang pengembangan bagi para pelaku musik tradisi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Puncak kegiatan bertajuk MTN Presentasi digelar di Panggung Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Rabu (15/7/2026) malam.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bidang Kebudayaan, serta Komune. Program ini dirancang sebagai wadah pembelajaran, inkubasi, hingga panggung presentasi karya bagi talenta musik tradisi daerah.
Tim Ahli MTN Seni Budaya Bidang Musik, Aristofani Fahmi mengatakan kekuatan musik tidak hanya terletak pada nilai hiburan, tetapi juga kemampuannya membangun pengalaman emosional yang mendalam.
Menurut Aristofani, Kalsel telah memiliki identitas musik tradisi yang kuat. Namun memang perlu terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan kreatif.
Aristofani menilai proses kolaborasi dan eksperimen menjadi jalan untuk melahirkan karakter musikal baru tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Kalimantan Selatan harus mampu menghadirkan estetika baru. Tradisi yang sudah ada perlu terus diolah melalui eksperimen agar melahirkan identitas musik yang semakin khas,” kata Aristofani.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas seni. Pemerintah diharapkan hadir sebagai fasilitator melalui kebijakan dan dukungan program. Sedangkan komunitas menjadi penggerak utama karena memahami kebutuhan serta perkembangan di lapangan.
Menurutnya, jika pola pembinaan seperti ini dilakukan secara konsisten selama beberapa tahun, bukan tidak mungkin karya musik tradisi Kalimantan Selatan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk tingkat internasional.
Sementara itu, Kepala Program Lab Batang Banyu, Novyandi Saputra menjelaskan MTN Presentasi merupakan tahapan lanjutan dari proses pembinaan talenta yang telah dimulai sejak tahun lalu.
Pada kesempatan tersebut, sebanyak 25 musisi muda yang terbagi dalam lima kelompok menampilkan karya hasil proses inkubasi. Peserta ini berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, seperti Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, hingga Kota Banjarmasin.
Novyandi menyebut para peserta merupakan talenta yang sebelumnya terpilih dari sekitar 200 peserta dalam program MTN Asah Bakat. Tahun ini, pihaknya kembali menjaring hampir 200 bibit baru yang akan mengikuti proses pembinaan serupa pada periode berikutnya.
“Regenerasi terus berjalan. Dengan sistem pembinaan yang berjenjang, kami optimistis keberlangsungan musik tradisi Kalimantan Selatan akan semakin terjaga,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan RI, UPTD Taman Budaya Kalsel, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari ruang inkubasi ini, pihak juga penyelenggara tengah bersiap untuk mengelar Antasan Banjar edisi kedua yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 dengan dukungan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel.
Agenda tersebut diharapkan menjadi ruang lanjutan bagi para talenta untuk memperkenalkan karya sekaligus memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di bidang musik tradisi. (ham/KPO-3).















