BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Menjelang Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin pada 24 September 2026, pembangunan kota dinilai perlu kembali menempatkan sungai sebagai bagian utama dari kehidupan masyarakat.
Pengamat Perkotaan Ir H Khuzaimi mengatakan, selama lima abad, Banjarmasin tumbuh dan berkembang sebagai kota yang tidak bisa dipisahkan dari sungai. Karena itu, pembangunan ke depan harus mengubah cara pandang terhadap sungai, dari sekadar persoalan yang harus ditanggulangi menjadi potensi besar yang harus dikelola dan dikembangkan.
“Paradigmanya harus diubah, dari menanggulangi air menjadi membangun bersama air,” ujarnya kepada awal media, Senin (27/06/2026).
Menurutnya, selama ini pembangunan kota cenderung berupaya menyingkirkan air melalui penimbunan parit, penutupan kanal hingga perubahan alur sungai. Padahal, sekitar 26 persen wilayah Banjarmasin merupakan kawasan perairan.
Karena itu, pemerintah harus berhenti memperlakukan sungai sebagai masalah. Sebaliknya, sungai harus dipandang sebagai modal terbesar yang dimiliki Kota Banjarmasin. Sungai tidak perlu ditutup, tetapi harus ditata, dijaga kebersihannya dan dihidupkan kawasan tepiannya.
Khuzaimi menilai, tata kelola sungai harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan kota. Kebersihan sungai harus dijaga dari hulu hingga hilir, bukan hanya pada kawasan yang menjadi tujuan wisata.
Pengelolaan air, lanjutnya, juga tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu organisasi perangkat daerah. Sungai dan air harus menjadi bagian dari kerangka utama perencanaan pembangunan kota. Setiap program pemerintah, termasuk pembangunan jalan dan pemberian izin bangunan, harus memperhitungkan dampaknya terhadap sungai dan sistem tata air.
Selain itu, fungsi sungai sebagai urat nadi transportasi dan perdagangan juga perlu dikembalikan. Pemerintah perlu membangun sistem transportasi sungai yang teratur, aman, nyaman dan terintegrasi dengan transportasi darat.
“Transportasi sungai jangan hanya mengandalkan perahu tambangan tradisional. Harus ada armada yang terjadwal dan terintegrasi dengan sistem transportasi kota,” katanya.
Pasar terapung dan dermaga rakyat juga dinilai perlu ditata menjadi ruang ekonomi masyarakat yang layak, bersih dan teratur. Dengan demikian, sungai kembali menjadi ruang untuk berdagang dan berinteraksi, bukan tempat pembuangan sampah.
Di sektor pariwisata, sungai harus menjadi identitas sekaligus daya tarik utama Banjarmasin. Menyambut usia 500 tahun, pemerintah didorong membangun taman-taman di tepian sungai yang saling terhubung. Kawasan tersebut dapat menjadi ruang publik yang memungkinkan warga dan wisatawan menikmati sungai dengan berjalan kaki secara nyaman.
Menurut Khuzaimi, berbagai infrastruktur yang berada di kawasan sungai juga perlu dirancang dengan memperkuat identitas Banjar. Jembatan, tanggul hingga penerangan harus memiliki nilai seni dan karakter lokal.
“Jadikan sungai sebagai panggung terbuka kehidupan kota, bukan tembok pembatas yang kotor,” tegasnya.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan hak masyarakat atas air. Pengelolaan air bersih, limbah dan aliran sungai harus dilakukan secara terintegrasi dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Khuzaimi menegaskan, tidak seharusnya kota yang sekitar 26 persen wilayahnya berupa air justru menghadapi persoalan dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Memasuki usia 500 tahun, Banjarmasin dinilai perlu menyadari bahwa sungai bukan sekadar bagian dari bentang alam, melainkan telah menjadi jiwa dan identitas kota.
“Daratan yang kita tempati hanya 74 persen, tetapi sungai yang membentuk jiwa kota ini adalah 26 persen. Selama lima abad sungai telah memberi kehidupan. Sudah saatnya kita memberi sungai kebersihan, penghormatan dan tempat yang layak dalam perencanaan kota. Jika Banjarmasin kehilangan sungainya, maka Banjarmasin bukan lagi Banjarmasin,” pungkasnya.(nau/KPO-1)















