BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Peristiwa kebakaran masih menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat Kota Banjarmasin. Hingga pekan pertama Agustus 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Banjarmasin mencatat sebanyak 63 kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.
Data tersebut, wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat yang paling banyak terjadi kebakaran, yakni 23 kasus. Disusul Kecamatan Banjarmasin Selatan dan Kecamatan Banjarmasin Tengah masing-masing mencatat 10 kasus.
Sementara itu, Kecamatan Banjarmasin Utara tercatat enam kejadian dan Kecamatan Banjarmasin Timur sebanyak lima kasus.
Kepala Bidang (Kabid) Pemadaman Disdamkarmat Kota Banjarmasin, Marliansyah, yang mewakili Kepala Disdamkarmat Hendro, membenarkan jumlah tersebut.
Menurut Marliansyah, kasus kebakaran masih terus terjadi bahkan memasuki awal Agustus. Bahkan dalam satu pekan pertama bulan tersebut, tercatat lima kejadian baru.
“Empat di antaranya terjadi di Banjarmasin Barat dan satu kasus di Banjarmasin Selatan,” ungkap Marliansyah, Kamis (13/8/2026).
Sejumlah kebakaran terbaru juga terjadi di kawasan yang dikenal cukup padat. Di antaranya Taman Kamboja dan Pasar Teluk Dalam yang berada di Kecamatan Banjarmasin Tengah, serta kawasan Pasar Baimbai, Kelayan B, di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Dugaan gangguan pada instalasi listrik menjadi salah satu faktor yang kerap muncul dalam kejadian kebakaran. Salah satunya kebakaran di Kelayan B yang terjadi ketika rumah dalam kondisi tidak berpenghuni. Api diketahui membesar sekitar pukul 04.00 Wita.
Kendati demikian, jumlah kebakaran tahun ini hingga periode tersebut masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan per 31 Agustus 2025, jumlah kejadian kebakaran mencapai 97 kasus.
“Jadi tahun ini masih dibawah dibandingkan dari kebakaran tahun 2026 ini,” bebernya.
Selain persoalan sumber api, proses penanganan kebakaran di lapangan juga dapat terkendala faktor keselamatan. Kondisi tersebut salah satunya terjadi ketika petugas harus menunggu aliran listrik dipastikan padam sebelum melakukan penyemprotan.
Ia saksi mata sekaligus petugas jaga malam di lokasi kejadian, mengatakan armada Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) dan DPKP telah tiba dengan cepat. Namun, proses pemadaman sempat tertunda karena listrik masih dalam kondisi menyala.
“Listrik saat itu masih menyala, jadi petugas BPK harus menunggu aliran padam terlebih dahulu demi keselamatan sebelum menyemprotkan air. Jika listrik padam lebih cepat, penanganan tentu bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Secara terpisah, Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin mengimbau masyarakat untuk memperhatikan intalasi listrik di rumah maupun tempat usaha di tengah tingginya intensitas kebakaran terjadi.
Apalagi salah satu penyebab kebakaran dipicu konsleting listrik hingga hal ini perlu jadi atensi dari PLN sendiri.
“Kepada instansi vertikal, khususnya PLN untuk mencek kondisi dan situasi perlistrikan kabel yang ada di Kota Banjarmasin. Tidak hanya di rumah tapi bisa jadi tempat lain,” kata Yamin.
Yamin juga mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam penggunaan listrik. Terlebih, dalam kondisi listrik yang masih terjadi pemadaman secara bergilir.
“Harapan kita kepada seluruh masyarakat agar selalu berhati-hati dalam penggunaan listrik dan tentunya bisa terjadi konsleting-konsleting. Apalagi di tengah sering padamnya listrik dan ini kami terus berkomunikasi dengan PLN untuk segeranya diakhiri,” jelasnya.
Dari PLN lanjutnya, diharapkan bisa terbuka dalam memberikan informasi terkait pemadaman listrik kepada masyarakat agar bisa diantisipasi dari awal terhadap potensi kebakaran maupun kerusakan barang elektronik.
“Sampai saat ini masyarakat menuntut itu dan kami akan coba kembali kepada pihak PLN. Sebelumnya sudah sampaikan kepada Sekda untuk ke pusat untuk menyampaikan kondisi ini,” pungkasnya. (ham/KPO-3)















