BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Suasana penuh keakraban mewarnai peringatan ulang tahun ke-73 H Rudy Arifin pada Agustus 2026.
Mantan Gubernur Kalimantan Selatan dua periode itu mendapat penghormatan khusus melalui pembacaan puisi karya H Sukhrowardi, aktivis 1990-an sekaligus mantan anggota DPRD Kalsel periode 2019–2024.
Puisi berjudul Ayahnda H. Rudy Arifin Berusia 73 Tahun tersebut dibacakan setelah pembawa acara Hadi Susilo mempersilakan sejumlah tokoh untuk menyampaikan kesan dan penghormatan kepada Rudy Arifin.
Dalam puisinya, Sukhrowardi menggambarkan perjalanan 73 tahun Rudy Arifin sebagai perjalanan panjang yang sarat pengalaman, pengabdian, tawa, air mata, hingga keteduhan dalam menjalani kehidupan.
“Rambut memutih bagai kapas di ufuk sore. Garis wajah adalah peta dari waktu,” demikian salah satu penggalan puisi yang dibacakannya pada malam Syukuran Milad Tokoh Kalsel H Rudy Ariffin, di Rumah Pribadinya Jalan Garuda, Sabtu (16/08/2026) malam hari.
Dihadapan H Rudy Ariffin dan sejumlah tokoh yang hadir lada acara syukuran, Menurut Sukhrowardi, usia 73 tahun merupakan anugerah sekaligus momentum untuk mengenang perjalanan hidup dan pengabdian Rudy Arifin.
“Tiada lagi amarah yang membakar dada, hanya kasih yang tulus memeluk semesta. Tujuh puluh tiga tahun sebuah anugerah terindah, menuju senja dengan terang cahaya,” ungkapnya.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh, di antaranya mantan Bupati Kotabaru Syairi Jafar serta sejumlah mantan pejabat di era kepemimpinan Rudy Arifin.
Dalam kesempatan itu, Sukhrowardi juga menyampaikan sejumlah catatan mengenai capaian Rudy Arifin selama memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode.
Salah satu yang dinilainya monumental adalah pembangunan kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi Kalsel di Banjarbaru. Menurutnya, pemindahan pusat pemerintahan dari Banjarmasin ke Banjarbaru merupakan keputusan strategis untuk menghadapi persoalan tata ruang dan ancaman banjir rob di kawasan perkotaan.
Selain itu, pembangunan sejumlah infrastruktur strategis, termasuk jalan layang atau flyover di Banjarmasin, dinilai turut memberikan solusi terhadap persoalan kemacetan sekaligus memperindah wajah kota.
Sukhrowardi juga menyoroti pembangunan dan peningkatan akses jalan dari kawasan Km 0 menuju sejumlah wilayah, termasuk keberadaan underpass dan infrastruktur jalan di kawasan Sungai Puting yang membantu mengurangi pertemuan kendaraan umum dengan angkutan berat.
Di bidang olahraga, Rudy Arifin juga dikenang karena mendorong renovasi Stadion 17 Mei Banjarmasin sehingga sempat dapat digunakan sebagai kandang Barito Putera dalam kompetisi Liga 1. Namun, pemanfaatannya kemudian terkendala setelah kompetisi sepak bola nasional mengalami persoalan dan PSSI dibekukan.
Sukhrowardi turut mengingat masa ketika Kalsel menghadapi persoalan pasokan listrik. Menurut dia, persoalan tersebut kemudian perlahan teratasi melalui pembangunan pembangkit PLN Asam-Asam dengan dukungan dan sinergi berbagai pihak, termasuk perbankan.
Pengalaman lain yang dikenangnya adalah persoalan antrean bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU. Sukhrowardi menyebut Rudy Arifin menerima masukan dari sejumlah aktivis dan tokoh pers, antara lain almarhum Muhammad Med, almarhum Faisal, almarhum Desmon, almarhum Frans Samuel Ampong, Faturrahman yang saat itu menjabat Ketua PWI, serta Ady Khairuddin dari Hismawamigas.
Masukan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan kebijakan terkait pembelian BBM bagi kendaraan dinas, yang menurut Sukhrowardi turut membantu mengurangi antrean BBM.
“Pak Rudy juga selalu menjaga hubungan ulama dan umara. Komunikasi dan hubungan itu dibangun melalui berbagai kegiatan,” katanya.
Di bidang pers, Sukhrowardi menilai Rudy Arifin memberikan perhatian terhadap peningkatan kapasitas wartawan. Dukungan terhadap kegiatan pers bulanan, pelatihan jurnalistik hingga pelaksanaan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Kalsel menjadi bagian dari catatan tersebut.
Porwanas bahkan sempat dibuka di Stadion Demang Lehman, yang saat itu baru selesai dibangun.
Tak hanya pembangunan fisik, perhatian terhadap peningkatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari catatan Sukhrowardi. Di antaranya bantuan beasiswa bagi mahasiswa yang melanjutkan pendidikan S2 serta dukungan kepada perguruan tinggi seperti ULM dan IAIN untuk mendorong percepatan peningkatan kualitas SDM di Kalsel.
“Ini yang tercatat dari kepemimpinan Pak Rudy Arifin dalam membangun Kalsel selama dua periode. Mungkin masih banyak lagi yang belum tercatat,” ujar Sukhrowardi.
Sukhrowardi mengaku bersyukur dapat hadir dalam peringatan usia ke-73 Rudy Arifin. Ia hadir atas undangan khusus melalui Khairil, mantan jurnalis Radar Banjarmasin dan Media Kalimantan milik Haji Leman, salah satu tokoh Kalsel.
“Terima kasih Khairil yang telah mengundang. Sekarang beliau juga menjadi sahabat yang mendampingi Pak Rudy ketika membutuhkan bantuan, termasuk menjadi sopir dan membantu berbagai keperluan. Yang penting komunikasi dengan Pak Rudy tetap lancar,” pungkasnya.(nau/KPO-1)















