Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

SEMANGAT MERDEKA

×

SEMANGAT MERDEKA

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Lambran Ladjim (1926-2011) adalah seorang saksi, pelaku sejarah dan anggota Veteran RI yang semasa hidupnya dulu, sering saya wawancarai dan berbagi kisah tentang suka duka di zaman penjajahan Belanda.

Kalimantan Post

“Kue mau merdeka ya. Paling sedikit beli senjata 70 milion gulden baru bisa melawan Belanda. Kue tau Nagara ini biang kerok ekstremisten. Kue orang pedalaman ya?. Eksremis ya?” Inilah sebagian ucapan serdadu KNIL- Belanda- didampingi seorang serdadu Belanda bule (KL) ketika menangkap dan menginterogasi saya beberapa jam sewaktu berusaha menerobos blokade Belanda (NICA) sesudah perang terbuka rakyat Nagara (Palagan Nagara) 2 Januari 1949, ujarnya mengenang.

Pertempuran tersebut terjadi atas instruksi Pemimpin Umum ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan Letkol Hassan Basry pada 25 Desember 1948 untuk membalas aksi Militer Belanda II tgl 19 Desember 1948. Saat itu Jendral Spoor, mengerahkan tentara dengan semboyan Door Stood Yogya untuk menghapus Republik Indonesia.

Aksi militer Belanda mendapat perlawanan sengit rakyat, termasuk di Nagara, HSS, Kalimantan Selatan. Digerakkan oleh Pembakal Arpan kampung Hamayung, 7 km dari Kantor Kiai (tangsi polisi Belanda). Setelah shalat zuhur berjamaah, makan bersama dan berdoa, berangkatlah rombongan penyerang diiringi pemuda, dewasa dan orang tua dari seberang menyeberang sungai. Sebelah kiri arah Selatan melalui kampung Hamayung, Pasungkan, Baruh Kambang dan Sungai Mandala. Sebelah kanan kampung Pakan Dalam dan Tambak Bitin, dibantu kampung Panggalaman dan Tambangan. Dari Selatan kampung Bayanan, Tumbukan Banyu, Sungai Pinang dan Parigi. Tujuannya menyerang tangsi Belanda yang dijaga beberapa peleton dan senjata jangle semiotomatis dan bren.

Rakyat penyerang hanya bersenjata tajam; parang mandau, pisau dan tombak. Senjata api hanya beberapa karaben dengan sedikit peluru yang dipegang oleh beberapa orang TNI kiriman Markas pejuang di pedalaman. Meski serba terbatas, rakyat penyerang tetap maju merangsek sampai kolong tangsi poliai. Pasukan musuh berkumpul di kantor kiai, 40 m dari tangsi. Pemuda yang dari Pakan Dalam dan Tambak Bitin yang sempat dilatih kemiliteran seadanya ingin menyerang langsung daripada bertahan, tetapi pemimpinnya melarang, sebab hujan peluru musuh terus berdesingan. Akhirnya diperintahkan mundur setelah diketahui tiga kompi serdadu Belanda KNIL dan KL didatangkan dari Kandangan. Kemudian datang lagi balabantuan dua kompi dari Amuntai serta empat kapal perang dan dua kompi dari Banjarmasin. Balabantuan Belanda berdatangan karena orang yang ditugasi memutus kabel telpon tidak berhasil.

Baca Juga :  Efisiensi dan Kreativitas: Kunci Sukses Kepemimpinan Daerah

Secara nasional aksi militer II adalah titik balik kekalahan Belanda. Dunia internasional geger sehingga PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) terdiri dari AS, Australia dan Belgia untuk menjadi mediator. Dari prakarsa KTN digelar Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang akhirnya terpaksa mengakui Kedaulatan RI. KTN aktif mengajak kedua pihak berunding karena takut revolusi Indonesia menjalar ke negeri-negeri lain karena terinspirasi perjuangan rakyat Indonesia yang dahsyat dan heroik. Bagi Indonesia sebenarnya tidak begitu memerlukan perundingan, sebab diyakini 2-3 tahun ke depan Belanda pasti akan kalah dan hengkang.

Fakta sejarah ini menunjukkan, rakyat Kalimantan sebenarnya memiliki semangat keberanian tinggi dan ikut berkontribusi dalam perjuangan nasional. Adanya Proklamasi 17 Mei 1949 oleh ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan menunjukkan Kalimantan ikut menegakkan proklamasi dan mempertahankannya. Selain itu Belanda pernah pula mengirim Vander Plas, ahli agama Islam menemui KH Muhammad Jakfar di Nagara membujuknya menjadi Qadhi Besar Kalimantan sekaligus memimpin Mahkamah Syariah bentukan Belanda. Saya, ujar Lambran Ladjim, turut mendampingi ulama kharismatik ini, dan beliau tegas menolak karena tidak ingin bersekutu dengan penjajah.

Belanda juga berencana mendatangkan Kapten Raymond Westerling yang telah membantai 40 ribu rakyat di Sulawesi Selatan, komandannya Venendaal sudah tiba di Banjarmasin untuk merencanakan pembantaian. Pemerintah RI di Yogya juga mengirim Mayjen Suhardjo Hardjowadojo untuk berunding dengan pejuang Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan. Ini juga atas permintaan Belanda karena sudah kewalahan menghadapi perlawanan rakyat Kalimantan. Dengan adanya fakta ini dan masih banyak fakta lain, jelas Kalimantan berperan besar dalam perjuangan nasional. Seharusnya dengan peran ini, pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat Kalimantan. sebab tidak hanya di masa perjuangan, masa kini pun Kalimantan berkontribusi besar terhadap pembangunan. Sebagian besar potensi SDA daerah ini, khususnya batubara, juga untuk memasok kebutuhan energi nasional.

Iklan
Iklan