Oleh : Marliyana
Jurnalis Kalimantan Post
Pagi belum terlalu tinggi ketika aktivitas di sebuah rumah produksi sasirangan mulai menggeliat, Senin (24//8/26). Potongan-potongan kain dengan warna mencolok tersusun di sejumlah meja. Ada yang sedang mencelup kain, mengikat motif, hingga merapikan hasil akhir sebelum dipajang untuk dijual.
Di tempat itu, tradisi dan teknologi berjalan berdampingan Tangan-tangan terampil masih mengerjakan sasirangan dengan cara yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun ketika seorang pembeli datang dan memilih kain yang diinginkannya, transaksi tidak selalu lagi dilakukan dengan uang tunai.
Sebuah telepon genggam dikeluarkan. Kamera diarahkan ke kode QRIS yang terpampang di meja kasir. Beberapa detik kemudian, transaksi selesai.
Tidak ada lembar uang berpindah tangan. Tidak ada pembeli yang harus mencari mesin ATM. Hanya bunyi notifikasi dari telepon genggam yang menandai bahwa pembayaran telah berhasil.
Perubahan kecil itu menjadi gambaran bagaimana pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sasirangan di Kalimantan Selatan mulai beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sasirangan yang selama ini identik dengan tradisi dan kebudayaan Banjar kini perlahan menemukan cara baru untuk berinteraksi dengan konsumen.
Bukan hanya melalui kain yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui teknologi digital.
“Sekarang pembeli banyak yang lebih nyaman menggunakan pembayaran digital. Tinggal scan, selesai,” kata Nurul, pelaku UMKM sasirangan di Kampung Sasirangan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Dari Tradisional Menuju Digital
Sasirangan bukan sekadar kain dengan warna dan motif yang beragam. Di balik setiap lembar kain terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan.
Mulai dari memilih bahan, membuat pola, menjelujur, mengikat, memberi warna hingga membuka ikatan untuk melihat motif yang terbentuk.
Proses tersebut tetap dipertahankan. Yang berubah adalah cara produk itu dipasarkan dan dijual.
Jika dulu transaksi sangat bergantung pada uang tunai, kini teknologi pembayaran digital mulai menjadi bagian dari aktivitas perdagangan.
Bagi pelaku UMKM, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun dampaknya cukup besar terhadap kenyamanan transaksi.
Pembeli tidak harus membawa uang tunai dalam jumlah tertentu. Pelaku usaha juga tidak perlu terlalu khawatir menyediakan banyak uang kembalian.
Bagi konsumen dari luar daerah, kemudahan ini menjadi nilai tambah tersendiri. “Kadang pembeli datang tidak membawa uang tunai.
Kalau ada pembayaran digital, mereka tetap bisa membeli,” ujar Nurul.
Nurul adalah salah satu perajin sasirangan yang ada di Kampung Sasirangan Sungai Jingah. Di lokasi perajin sasirangan ini terdapat puluhan perajin lainnya. Mereka tidak hanya menjual kain sasirangan yang belum jadi, tetapi juga menjual pakaian yang sudah jadi, seperti kemeja untuk pria dan wanita, kaos, rok, kaos serta lawung.
Bahkan menurut Nurul, perajin yang sudah menekuni kerajinan sasirangan ini sejak tahun 2016 silam ini, umumnya para pembeli yang datang tidak hanya membeli satu atau dua picis, tetapi membeli dalam jumlah besar.
“Normalnya kita memproduksi 30 picis perhari, bahkan mungkin bisa lebih jika ada pesanan khusus dari pembeli untuk keperluan instansi maupun acara hajatan,” ungkapnya.
Perubahan perilaku konsumen inilah yang kemudian mendorong pelaku usaha untuk ikut beradaptasi.
Mereka menyadari bahwa mempertahankan usaha tidak cukup hanya dengan menjaga kualitas produk. Cara menjangkau dan melayani konsumen juga harus mengikuti perkembangan zaman.
Ketika Ponsel Menjadi Etalase
Digitalisasi UMKM sasirangan sebenarnya tidak berhenti pada sistem pembayaran.
Ponsel yang dahulu hanya digunakan untuk berkomunikasi kini berubah menjadi etalase berjalan.
Foto kain sasirangan dapat dipajang melalui media sosial. Pesanan bisa masuk melalui WhatsApp. Produk dapat dipromosikan melalui Instagram, Facebook, TikTok, maupun platform perdagangan digital.
Dengan cara tersebut, batas antara toko dan konsumen menjadi semakin tipis.
Pembeli yang berada di luar Banjarmasin, bahkan di luar Kalimantan Selatan, tetap dapat melihat produk tanpa harus datang langsung ke toko.
“Sekarang kami juga mencoba memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk. Jadi orang bisa melihat dulu motif dan warna yang tersedia,” kata Nurul.
Di sinilah teknologi memberikan peluang baru bagi produk tradisional. Pedagang UMKM sasirangan tidak lagi hanya menunggu pembeli datang. Produk dapat bergerak lebih jauh melalui layar ponsel.
Selembar kain yang dibuat di sebuah rumah produksi di Kalimantan Selatan bisa dilihat oleh calon pembeli dari kota lain dalam waktu yang hampir bersamaan.
Namun, peluang tersebut juga membawa tantangan. Pelaku UMKM dituntut tidak hanya memahami produksi, tetapi juga belajar membuat foto produk, menulis keterangan, membalas pesan konsumen, mengelola pesanan dan memahami berbagai metode pembayaran digital.
Bagi sebagian pelaku usaha yang sudah lama menjalankan bisnis secara konvensional, perubahan itu tentu tidak selalu mudah.
Tradisi yang Tidak Boleh Hilang
Di tengah perubahan tersebut, ada satu hal yang tetap harus dijaga: identitas sasirangan itu sendiri.
Teknologi hanyalah alat. Ia membantu memperluas pasar, mempercepat transaksi dan memudahkan komunikasi dengan konsumen. Namun nilai budaya yang melekat pada sasirangan tetap berada di tangan para perajinnya.
Karena itu, digitalisasi seharusnya bukan berarti meninggalkan cara-cara lama yang menjadi identitas produk. Justru sebaliknya. Teknologi dapat menjadi jembatan agar generasi baru semakin mengenal sasirangan.
Anak muda yang mungkin tidak pernah datang ke rumah produksi dapat mengenalnya melalui media sosial. Konsumen dari luar daerah yang sebelumnya tidak mengetahui sasirangan dapat menemukan produk tersebut melalui pencarian di internet.
Dari sana, kain tradisional mendapatkan kesempatan untuk berbicara kepada generasi yang berbeda.
Bukan Sekadar Transaksi
Bagi UMKM sasirangan, penggunaan pembayaran digital mungkin dimulai dari kebutuhan yang sangat sederhana: memudahkan pelanggan membayar.
Namun dari sebuah kode QRIS di meja kasir, ada perubahan yang lebih besar sedang berlangsung. Pelaku UMKM mulai memahami bahwa dunia usaha telah berubah.
Konsumen ingin serba cepat. Informasi ingin diperoleh dengan mudah. Produk ingin ditemukan melalui ponsel. Pembayaran ingin dilakukan tanpa harus membawa uang tunai.
Dan UMKM sasirangan tidak ingin tertinggal. Di antara kain-kain yang masih dibuat dengan proses tradisional, ponsel pintar kini menjadi bagian dari keseharian para pelaku usaha.
Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan dua dunia tersebut. Sasirangan tetap dibuat dengan tangan. Motifnya tetap lahir dari ketelitian manusia. Warna-warnanya tetap membawa karakter budaya Banjar.
Tetapi ketika kain itu sampai kepada konsumen, cara transaksinya bisa sangat modern. Satu sisi mempertahankan warisan. Sisi lainnya bergerak mengikuti zaman.Pada akhirnya, digitalisasi bukan tentang menggantikan tradisi dengan teknologi. Ia tentang bagaimana tradisi diberi ruang untuk bertahan, berkembang dan menemukan pasar baru.
Di sebuah meja penjualan sasirangan, sebuah kode QRIS mungkin hanya terlihat sebagai gambar hitam-putih berukuran kecil. Namun di baliknya, ada cerita besar tentang perubahan. Tentang perajin yang tidak ingin kalah oleh zaman.Tentang UMKM yang mulai berani masuk ke dunia digital. Dan tentang sasirangan yang terus berjalan—dari tangan para perajin banua, menuju layar ponsel, lalu menemukan jalan baru menuju konsumen.
Tradisi tetap dijaga. Cara berdagang berubah. Dan sasirangan terus menemukan jalannya untuk bertahan.
Beda lagi dengan pencinta sasirang, Dwi Naniek, yang merupakan pelanggan sasirangan yang seringkali membeli kain khas Kalsel ini tanpa rencana, karena melihat keindahan motif dan warna yang ada.
“Jadi seringkali beli tanpa rencana, dan adanya QRIS sangat memudahkan membayar di kala tidak membawa uang tunai,” kata PNS di Pemko Banjarmasin.
Apalagi sebagai aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan mengenakan busana bermotif sasirangan, baik setiap Kamis ataupun pada event yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Gunakan QRIS
Bank Indonesia mengharapkan agar semua UMKM di wilayah Kalsel bisa menggunakan Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS) atau kode QRIS sebagai alat pembayaran. Bahkan kali ini menggalang kerjasama dengan Dekranasda Kalsel dan menetapkan Ibu Gubernur Kalsel, Hj Fathul Jannah sebagai Bunda QRIS untuk mendorong usaha kecil di bidang kerajinan dan kesenian menggunakan teknologi digital.
“Ini awal yang bagus untuk mendorong UMKM di Kalsel bertransaksi menggunakan QRIS,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, Haris Munandar.
Rencananya penggunaan QRIS tidak hanya dilakukan pada satu bank, namun seluruh bank yang ada, termasuk bank milik Pemprov Kalsel, Bank Kalsel.
Jika semua transaksi UMKM bisa menggunakkan QRIS, maka digitalisasi ini diharapkan dapat mendorong perekonomian, terutama bagi UMKM agar bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Kalsel.













