Oleh: Zahwa Azizah
Aktivis Muslimah
Tepi Barat hari ini bukan sekadar wilayah konflik, melainkan panggung besar di mana proyek kolonialisme modern dijalankan secara terang-terangan. Di sana, setiap jengkal tanah diperebutkan, setiap rumah bisa hancur kapan saja, dan setiap warga hidup dalam bayang-bayang ancaman. Sementara dunia sibuk berdebat di meja diplomasi, Israel terus melangkah maju dengan strategi yang jelas: memperluas penguasaan, menyingkirkan penduduk asli, dan mengubah wajah Palestina sedikit demi sedikit.
Mengutip dari Antaranews.com (31/7/2026), Pejabat Palestina Hassan Brejieh menyatakan bahwa Israel memperluas strategi yang diterapkan di Gaza ke Tepi Barat. Ia menyebut adanya operasi militer, pemindahan warga Palestina, perluasan permukiman, serta meningkatnya serangan pemukim Israel di wilayah seperti Jenin dan Tulkarm. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan pemerintah Israel mempertimbangkan evakuasi sejumlah desa dan kota Palestina di Tepi Barat dengan alasan mencegah serangan terhadap warga Israel.
Mengutip dari Kompastv (5/8/2026), Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dilaporkan meningkat. Pihak Palestina menyebut sejumlah serangan tersebut terkoordinasi dengan otoritas Israel. Kekerasan itu mencakup serangan terhadap warga dan properti Palestina, serta terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat.
Langkah Israel memperluas penguasaan wilayah Palestina semakin jelas dan tidak bisa disangkal. Gaza dijadikan sasaran penghancuran, sementara Tepi Barat terus dipenuhi pemukiman baru. Ribuan serangan, ancaman, dan teror dari pemukim ilegal, penghancuran masjid, serta rencana pembangunan 2.300 unit rumah ilegal menunjukkan bahwa aneksasi bukan sekadar isu, melainkan proyek kolonialisme modern yang dijalankan dengan sistematis. Tujuannya jelas, yakni menghapus eksistensi Palestina dari tanahnya sendiri.
Tindakan ini bukan hanya pelanggaran hukum internasional, tetapi juga kejahatan kemanusiaan yang nyata. Pengusiran warga sipil, penghancuran permukiman, dan ekspansi pemukiman ilegal adalah bentuk kebiadaban yang menimbulkan penderitaan besar. Dunia internasional seakan gagal menegakkan keadilan, sementara rakyat Palestina terus menjadi korban tanpa henti. PBB dan lembaga dunia hanya bisa mengeluarkan resolusi, tetapi tidak mampu menghentikan agresi. Kritik keras tanpa tindakan nyata hanyalah retorika kosong yang tidak berarti bagi rakyat Palestina yang setiap hari kehilangan rumah, keluarga, dan bahkan tanah mereka.
Lebih jauh, proyek New Gaza melalui kesepakatan BoP memperlihatkan wajah lain dari penjajahan. Dengan dalih pembangunan, proyek ini sebenarnya menjadi ajang bisnis bagi Amerika Serikat. Strategi BoP menjadikan penderitaan Palestina sebagai komoditas ekonomi. Palestina tidak hanya dijajah secara militer, tetapi juga dijerat dalam sistem ekonomi-politik global yang memperkuat dominasi Zionis. Ironisnya, sebagian penguasa Muslim justru ikut mendukung proyek ini. Dukungan tersebut adalah bentuk pengkhianatan, karena memperkokoh cengkeraman Zionis atas Palestina dan melemahkan posisi umat Islam.
Kekerasan pemukim ilegal di Tepi Barat pun bukan sekadar aksi liar. Serangan terhadap warga dan properti Palestina dilakukan dengan perlindungan militer Israel. Pemukim berfungsi sebagai alat teror yang melengkapi operasi militer resmi. Dengan cara ini, Israel menciptakan rasa takut yang memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka. Ini adalah bentuk pembersihan etnis yang berjalan perlahan namun pasti.
Semua fakta ini menunjukkan bahwa Israel tidak pernah serius dengan wacana perdamaian. Solusi dua negara hanyalah ilusi diplomatik yang dipakai untuk menenangkan opini dunia, sementara di lapangan Israel terus memperluas wilayah dan menekan rakyat Palestina. Kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diberikan, karena hal itu bertentangan dengan proyek besar Israel Raya. Selama dunia internasional hanya mengandalkan diplomasi rapuh, penderitaan Palestina akan terus berlanjut.
Namun, kelemahan umat Islam sendiri menjadi faktor utama yang membuat penderitaan Palestina terus berlarut-larut. Ketidakmampuan untuk bersatu menjadikan Palestina terus menjadi korban kolonialisme modern. Selama umat Islam terpecah dan penguasa Muslim terus berkompromi dengan kepentingan asing, penderitaan ini tidak akan pernah berakhir. Nasionalisme sempit telah memecah belah umat, menjadikan mereka lemah dan tidak mampu menghadapi agresi Zionis.
Aneksasi Tepi Barat dan proyek New Gaza tidak bisa dibiarkan tanpa perlawanan nyata. Umat Islam tidak cukup hanya mengecam atau mengutuk, karena proyek kolonialisme ini membutuhkan kekuatan tandingan yang terorganisir. Kekuatan itu hanya bisa terwujud melalui persatuan umat Islam dalam wujud Khilafah. Tanpa Khilafah, umat akan terus tercerai-berai, lemah, dan tidak memiliki kepemimpinan tunggal untuk menghadapi agresi Zionis.
Khilafah bukan sekadar simbol, melainkan institusi politik yang menyatukan potensi umat, politik, ekonomi, dan militer. Dengan Khilafah, umat memiliki kepemimpinan tunggal yang mampu mengarahkan perjuangan secara terorganisir, bukan sekadar retorika solidaritas yang mudah dipatahkan oleh kepentingan asing. Bahkan, Khilafah akan mampu menghapus sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah negeri-negeri Muslim. Nasionalisme telah menjadi penghalang utama persatuan, sekaligus alasan bagi penguasa Muslim untuk berkompromi dengan kekuatan asing.
Pada akhirnya, Khalifah memiliki tanggung jawab syar’i untuk mengirimkan tentara membebaskan Palestina dan memerangi entitas Zionis. Jihad yang terorganisir di bawah kepemimpinan Khilafah bukan sekadar wacana, melainkan solusi nyata untuk menghentikan kolonialisme modern. Palestina tidak akan pernah bebas hanya dengan kecaman atau diplomasi rapuh. Palestina membutuhkan aksi nyata yang lahir dari persatuan umat Islam.
Inilah panggilan sejarah bagi umat Islam, bersatu, bangkit, dan menunaikan amanah besar membebaskan Palestina serta menegakkan kembali kehormatan umat Islam di dunia. Kritik terhadap Israel harus berubah menjadi gerakan nyata, karena tanpa tindakan, kata-kata hanyalah angin lalu belaka.











