Oleh : Hikmah, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Generasi
Masalah pengangguran sampai hari ini tak kunjung selesai bahkan semakin bertambah, mirisnya pengangguran juga melanda orang-orang yang mengenyam Pendidikan di perguruan tinggi. Mengapa para sarjana mengalami kesulitan mendaparkan pekerjaan? Apa sebenarnya akar masalahnya?
Gelar sarjana tidak bisa menjamin seseorang bebas dari ancaman pengangguran. Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional, per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menyebutkan, total penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3 (sarjana). JAKARTA, KOMPAS. (www.kompas.id, 07/08/2026)
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menemukan lima bidang studi yang paling banyak terdapat di antara pengangguran lulusan S1. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, bidang tersebut adalah manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, dan akuntansi, yang secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari pengangguran berpendidikan minimal S1. Data ini menjadi perhatian karena sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja pada pekerjaan yang berada di bawah tingkat pendidikan mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya diikuti oleh ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan keterampilan mereka. KALTIMPOST.ID. (kaltimpost.jawapos.com, 11/08/2026)
Fenomena pengangguran tersebut sangat memprihatinkan dan tentu saja sangat mengecewakan para lulusan sarjana serta para mahasiswa, karena salah satu tujuan mereka masuk perguruan tinggi adalah agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka akan tetapi ternyata gelar sarjana tidak mampu menjamin impian mereka, hal ini akan semakin menurunkan minat untuk kuliah, selain karena biayanya yang tidak murah tetapi tidak dapat menjamin untuk mudah mendapatkan pekerjaan.
Jumlah pengangguran bergelar sarjana yang menembus angka 1 juta orang, ditengarai oleh pertumbuhan lapangan kerja formal yang membutuhkan keterampilan tinggi tidak sebanding dengan jumlah lulusan. Lapangan kerja yang dijanjikan tak kunjung terealisasi, bagaimana negeri ini mampu menyelesaikan masalah pengangguran yang terus bertambah?
Mahasiswa menagih janji 19 juta lapangan kerja. Program MBG dan KDMP dinilai belum banyak menyerap tenaga kerja sesuai kompetensi, khususnya lulusan perguruan tinggi.
Angka pertumbuhan ekonomi naik, namun tidak diikuti pertumbuhan lapangan kerja yang sebanding, bahkan PHK makin meluas.
Dampak dari situasi ini adalah bursa kerja dipenuhi para pencari kerja, bahkan sejumlah orangtua harus mengantar dan menunggu anaknya berburu pekerjaan.
Dalam kapitalisme, pertumbuhan ekonomi diukur dari akumulasi modal, bukan kesejahteraan riil masyarakat, individu per individu. PHK dan pengangguran dibiarkan, karena dalam kapitalisme, keuntungan pemilik modal lebih diutamakan daripada keberlangsungan hidup pekerja.
Dalam kapitalisme, negara menyerahkan penciptaan lapangan kerja kepada pasar dan pihak swasta. Sedangkan negara hanya bertindak sebagai regulator yang memastikan hal tersebut berlangsung.
Kapitalisme membiarkan kepemilikan umum (sumber daya alam, tambang, dan energi) dikuasai korporasi swasta/asing demi investasi, padahal jika dikelola negara untuk rakyat, sektor ini berpotensi menyerap tenaga kerja besar.
Islam menjadikan pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu sebagai ukuran keberhasilan ekonomi, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi ala Kapitalisme atau akumulasi modal. Negara Islam bertanggung jawab menjamin kebutuhan rakyat yang kehilangan pekerjaan, sementara syariat mengatur hubungan kerja dan melindungi hak pekerja.
Negara Islam berperan sebagai raa’in/penanggung jawab dengan membuka lapangan kerja bagi setiap rakyat yang membutuhkan, mengembangkan industri strategis, serta memfasilitasi keterampilan dan penempatan kerja rakyat.
Sumber daya strategis seperti minyak, gas, tambang, hutan, dan air merupakan kepemilikan umum yang dikelola negara untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Melalui prinsip ini, negara Islam mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar.
Dapat disimpulkan bahwa akar masalah penganguran adalah karena kegagalan sistem, sistem yang menaungi negeri ini yaitu kapitalisme sekuler, sistem buatan manusia, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang menjadikan agama hanya sebagai urusan pribadi sedangkan aturan kehidupan dibut oleh manusia.
Akar masalah inilah yang harus dibuang dan diganti dengan sistem kehidupan yang bersumber dari Sang Pencipta manusia yaitu sistem Islam. Sistem yang telah terbukti menyejahterakan umat dan memberi Rahmat bagi seluruh alam.













