KEPERGIAN H. Rudy Ariffin meninggalkan duka mendalam bagi Kalimantan Selatan. Bukan sekadar karena Banua kehilangan seorang mantan gubernur, tetapi karena berpulangnya seorang tokoh yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk masyarakat dan daerah yang dicintainya.
Minggu, 6 September 2026, ribuan pelayat mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhir di Taman Makam Bahagia, Kota Banjarbaru. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman. Keluarga, sahabat, pejabat, dan masyarakat datang memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang pernah memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode.
Kepergian seorang pemimpin memang selalu menyisakan kenangan. Namun, yang akan bertahan lebih lama bukanlah jabatan yang pernah disandang, melainkan jejak pengabdian dan keteladanan yang ditinggalkan.
H. Rudy Ariffin telah melewati perjalanan panjang dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Dari memimpin Kabupaten Banjar sebagai bupati hingga dipercaya menjadi Gubernur Kalimantan Selatan selama dua periode, 2005–2010 dan 2010–2015. Kepercayaan itu tentu bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan lahir dari perjalanan, kerja keras, dan kedekatannya dengan masyarakat.
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi, saat mengantarkan almarhum ke pemakaman, mengenang Rudy Ariffin sebagai pemimpin yang senantiasa memperhatikan masyarakat dan menjaga ukhuwah islamiyah. Sebuah kesan yang sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.
Sebab, seorang pemimpin sejatinya tidak hanya dikenang dari gedung yang dibangun, jalan yang diresmikan, atau program yang pernah dijalankan. Pemimpin akan dikenang dari bagaimana ia memperlakukan rakyatnya, menjaga persaudaraan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Dalam kehidupan politik dan pemerintahan yang sering kali penuh dengan perbedaan, menjaga silaturahmi dan persatuan merupakan warisan penting. Rudy Ariffin telah menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang menjaga hubungan antarmanusia.
Kini, perjalanan panjang pengabdian itu telah selesai. Jabatan telah lama ditinggalkan, tetapi penghormatan masyarakat saat kepergiannya membuktikan bahwa kenangan terhadap seorang pemimpin tidak berakhir ketika masa tugasnya selesai.
H. Rudy Ariffin telah kembali kepada Sang Khalik. Namun, Banua memiliki kewajiban moral untuk menjaga ingatan tentang jasa dan pengabdiannya. Bukan untuk sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikannya pelajaran bagi generasi yang akan datang.
Kepemimpinan yang peduli kepada masyarakat, menjaga persatuan, dan mengutamakan silaturahmi adalah nilai yang selalu relevan, kapan pun zaman berubah.
Selamat jalan, Abah H. Rudy Ariffin.
Kalimantan Selatan telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun, jejak pengabdian seorang pemimpin tidak akan ikut terkubur bersama jasadnya. Ia akan tetap hidup dalam kenangan masyarakat, dalam perjalanan sejarah Banua, dan dalam doa-doa yang terus dipanjatkan.
Semoga segala amal ibadah dan pengabdian almarhum diterima di sisi Allah SWT. Dan semoga keteladanan yang ditinggalkan menjadi warisan berharga bagi Kalimantan Selatan.
Selamat jalan, pemimpin Banua. Namamu telah menjadi bagian dari sejarah.











