Ada Pohon Langka, 2 Kali Tebang

Benny Sanjaya, S.H., M.H.
Asisten Bidang Penerimaan dan Verifikasi Laporan
pada Ombudsman RI Perwakilan Prov. Kalsel.

Penulis merenovasi rumah pribadi. Imaginasi menjadikan teras indah bernuansa alam, menggunakan bahan baku kayu Ulin, salah satu kayu terkuat di dunia. Sudahkah anda mengetahui bahwa hampir keseluruhan masyarakat Kalimantan Selatan, menggunakan kayu ini untuk pondasi rumah panggung, karna kekuatan kayu ini mungkin saja abadi, betah kuat hampir tanpa lapuk, meski rumah dibuat sejak nenek moyang suku Dayak dahulu. Karena kekuatan dan keawetannya, Kayu Ulin sendiri lebih dikenal dengan nama Kayu Besi. Di Kalimantan Barat dikenal dengan nama Kayu Berlian. Bisa terbayang kekerasannya?

Entah mengapa, saat niat menggebu-gebu, berburu kayu ulin, banyak penjual kayu ulin gulung tikar. Dapat dihitung jari galangan kayu yang masih menjual kayu ulin. Kalaupun ada, harganya sangat mahal sekali. Penulis tahu kondisi ini, karena sekitar 3 tahun yang lalu, masih cukup banyak penjual kayu ulin, sewaktu penulis membeli kayu ulin untuk pondasimembangun rumah kecil sederhana. Dahulu saja, harga kayu ulin sudah sangat mahal, saat ini sudah 2-3 kali lipat harganya. Berbincang nego dengan si tengkulak kayu, didapat informasi bahwa di Kalimantan Selatan, sudah hampir habis jumlahnya pohon ulin, yang dijual saat ini wajar saja mahal, karena sudah hampir keseluruhan penjual kayu ulin, mengambil pasokan dari pedalaman hutan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. 4 hari 4 malam perjalanan darat sampai ke Banjarmasin, belum lagi uang tip yang bukan lagi sedikit harus diberikan dengan oknum-oknum aparat, agar kayu ulin lancar dibawa dari hutan sampai ke kota, hingga sampai ke Banjarmasin.Kita semua tahunya hanya membeli dan membangun, ojek ulindi Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan yang sering anda lihat, hanya mengambil bekas-bekas pangkal akar pohon ulin, untuk dibuat potongan kecil kurang dari 1 meter, jadi pembeli jangan banyak tawar dan bertingkah bila harga mahal, katanya sombong.

Pohon ulin siap untuk dimanfaatkan sudah tergolong langka, penulispun sadar akan hal itu. Pohon ulin rata-rata berusia lebih puluhan hingga ratusan tahun, yang saat ini dinikmati keseluruhan warga Kalimantan Selatan, untuk bangunan maupun pondasi. Bagi Wwarga Banjarmasin maupun daerah kabupaten di Kalimantan Selatan, berkewajiban membuat rumah panggung karna struktur tanah rawa basah, tidak boleh membuat pondasi permanen menguruk tanah, sehingga merusak vegetasi lingkungan hidup, bila tidak ingin banjir karena terusan sungai ditutup. Saat ini menguruk sudah banyak dilakukan sebagian masyarakat jahat di Banjarmasin. Hanya kayu ulin yang ampuh sebagai pondasi, belum ada referensi kayu lain yang menyamai, lebih kuat bahkan dari pondasi permanen.Meski ribuan rumah subsidi dibangun di Kalimantan, bila itu rumah panggung karena jenis tanah yang mengharuskan panggung, mesti juga memakai pondasi kayu ulin, bila ada yang menggunakan kayu ini untuk lantai ataupun dinding, dialah si “sultan” tajir, karna tentu saja bang
unan dari kayu ulin lebih mahal biayanya daripada rumah berdinding berlantai beton marmer sekalipun.

Penulis semakin penasaran. Mulai membaca aturan kembali. Mari sedikit menelaah aturan hukum. Kesimpulannya, perlu untuk diketahui, bahwa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 29 Juni 2018, menerbitkan Peraturan Menteri Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Mengatur jelas bahwa pohon ulin termasuk tumbuhan yang dilindungi pada urutan nomor 813. Masih pada tahun yang sama, pada 05 September 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menerbitkan Peraturan Menteri Nomor P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2018, menggantikan peraturan sebelumnya. Pohon Ulin masih termasuk dalam tumbuhan yang dilindungi, naik peringkat di urutan 806 ternyata. Tapi entah kenapa, plin-plan ternyata. Masih juga ditahun yang sama, lebih singkat dari masa iddah istri dicerai mati, 28 Desember 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, menetapkan Peraturan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutana
n Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa yang Dilindungi. Di Peraturan ini, pohon ulin bahkan tidak lagi di zona degradasi, melainkan pohon ulin sudah keluar, dilepas, Pohon ulin langka yang sudah ditebang, duakali ditebangdengan perlindungannya. Tidak lagi termasuk dalam tumbuhan yang dilindungi.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Pertimbangan peraturan ini, membuat penulis sedih. Pasal 1A, yang menyisipkan pertimbangan hukum dalam ayat (1a). Bertameng pertimbangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menteri LHK menetapkan Ada beberapa pertimbangan perlindungan tumbuhan yang dilindungi termasuk kayu ulin, kini dihapus boleh-boleh saja ditebang. Beberapa dari 5 pertimbangan, Karena banyaknya tumbuhan/pohon yang dilindungi, terkendala dalam proses penatausahaan hasil hutan, sehingga tidak bisa keluar atau dipasarkan. Kemudian pertimbangan lain bahwa banyaknya Industri Primer Hasil Hutan yang menerima dan mempunyai stok/persediaan baik dalam bentuk kayu bulat maupun kayu olahan jenis tumbuhan/pohon yang dilindungi, tidakdapat dipasarkan dan pasokan bahan bakuindustri menjadi terkendala.

Dari pertimbangan di atas. Ternyata, urusan bisnis mengalahkan urgensi urusan perlindungan lingkungan hidup dan kehutanan. Kembali keurusan beli kayu ulin tadi. Meskipun sekarang sudah bebas ditebang. Dahulu sewaktu masih dilindungi, dan pembalakannya masih kucing-kucingan dengan aparat, masih banyak yang menjual kayu ulin, sekarang setelah bebas tidak dilindungi, kenapa bukannya bertambah banyak menjual karena bebas? tapi malah banyak galangan kayu ulin tutup usahanya? Ada benarnya ternyata kata si tengkulak kayu tadi. Kayu Ulin di Kalimantan Selatan sudah langka dan hampir habis, sehingga banyak penjual tutup karena ketidak tersediaan bahan baku untuk dijual.

Lagi untuk diketahui, saat referensi dicari, belum pernah ada yang berhasil maksimal, membudidayakan pohon ulin. Usia tanam maupun layak tebang yang sangat lama, dari sumber bacaan kompas 25 februari 2012, pertumbuhan pohon ulin berdasarkan diameter, rata-rata hanya 0,058 sentimeter (cm) per tahun. Bila mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pemanfaatan Dan Peredaran Kayu Belian dalam Wilayah Provinsi Kalimantan Barat, benar di Kalimantan Barat, karena di Provinsi Kalimantan Selatan, penulis belum menemukan aturan daerah terkait. Di dalam Pasal 12 Ayat (4), disebutkan bahwa “Pohon Belian yang boleh ditebang adalah pohon yang telah mencapai diameter 60 cm ke atas”. Cukup sulit menghitung, tapi bila disederhanakan penulis anggap saja 1 cm pertumbuhan diameter pertahun, untuk mencapai 60 cm agar dapat ditebang, berarti Pohon Ulin siap tebang harus ditanam selama 60 tahun agar layak tebang? Benar saja kata si Tengkulak Kayu yang juga mengatakan, “biar saja kayu ulinnya
masih muda, bila ada ulin belum sebesar piringpun diameternya, sudah kami suruh tebang”

Namun, entah mengapa tidak ada sanggahan apalagi gugatan untuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini. Kalaupun ada, hanya sebatas petisi-petisi yang merupakan wujud keprihatinan, ketidakpuasan. Apakabar para aktivis lingkungan?

Terakhir, penulis pribadi berniat untuk lebih bijaksana dalam memanfaatkan alam. Pemerintah perlu lebih mengayomi perlindungan lingkungan hidup, Perlu ada batasan agar kayu kebanggaan masyarakat Kalimantan ini, karena tidak lagi dilindungi, lantas tidak sembarang ditebang. Perlu dukungan agar Kayu ini bisa dilestarikan, bila belum menemukan altrnatif budidaya yang tepat. Lebih harus lagi, bila Pohon Ulin kembali menjadi tumbuhan yang dilindungi, doa harap Penulis.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya