Kita Harus Hadapi Dua Virus Mematikan Sekaligus

337

Oleh : Umi Diwanti
Pemerhati Masalah Sosial

“Tidak merencanakan kesuksesan sama dengan merencanakan kegagalan”. Inilah barangkali yang sedang terjadi di negeri ini terkait penanganan kasus Corona. Tentu kita masih ingat saat awal-awal si Virus mungil mematikan ini telah membuat ribut negeri asalnya dan negara lain di dunia. Negeri ini dengan santai masih membuka pintu masuk WNA bahkan berusaha meningkatkan dengan promo habis-habisan.

Kemudian lebih disayangkan lagi saat sudah ada berita positif Corona di dalam negeri pun tak membuat penguasa negeri ini segera bertindak. Solusi masih seputar himbauan. Bahkan sangat minim edukasi dan sosialisasi cara menyikapi wabah ini.

Padahal andai sejak awal negeri ini mengetahui ada rakyatnya terkena virus ini sudah bisa melakukan persiapan lockdown, sehingga jika memang diperlukan masyarakat sudah siap. Baik persiapan mental rakyat dengan sosialisasi dan edukasi juga persiapan materi untuk menjamin kebutuhan hidup rakyat saat lockdown.

Lebih parahnya lagi, negara justru lebih memilih menutupi sebagian informasi terkait wabah ini. Padahal ini sangat dibutuhkan untuk menentukan tingkat kewaspadaan. Jika disembunyikan, justru lebih membahayakan.

Wilayah yang aslinya daerah rawan bisa bikin warganya leyeh-leyeh. Tidak membatasi interaksi dan akhirnya penyebaran semakin menjadi. Sebaliknya di daerah yang aslinya belum darurat malah ada warganya yang ketakutan berlebihan hingga panic buying pun tak terelakan.

Selain itu, hal ini juga memancing rakyat untuk mencari dan saling berbagi informasi mandiri. Aslinya mereka tidak berniat menakut-nakuti tapi agar saling berhati-hati. Sayangnya penguasa bukannya merespon dengan membuka semua informasi tapi justru lebih konsen menegakkan UU ITE untuk menangkapi nitizen yang sebar berita tidak resmi tentang Corona ini. Banyak sudah yang dipolisikan, kasus terbaru adalah seorang buruh bangunan di Makasar. (https://m.detik.com/news/berita/d-4946364/sebar-hoax-soal-corona-kuli-bangunan-asal-sidrap-diamankan-polisi)

Yang menyedihkannya alasan tidak terbukanya pemerintah terhadap data sebenarnya itu dengan alasan memelihara bisnis. Bisnis fasilitas kesehatan. Karena jika disampaikan jumlahnya berapa dan dirawat di mana, akan menjatuhkan pamor faskes tersebut. Orang takut berobat ke sana dan omset faskes akan menurun.

“Itulah kenapa kami dari awal keras tidak mau menyebut nama rumah sakit”, kata Pak Yurianto, juru bicara pemerintah terkait Corona terkait saat wawancara dengan Dedy Corbuzer. (https://www.suara.com/entertainment/2020/03/18/090258/deddy-corbuzier-gebrak-meja-di-depan-jubir-pemerintah-untuk-corona)

Ini logis tapi tak etis. Dan sadarilah bahwa ini adalah efek faskes tidak diselenggarakan seutuhnya oleh negara. Wajar jika para pemilik modalnya takut rugi, sebab mereka bangun faskes buat cari laba. Beda kalau yang menyelenggarakan pemerintah yang memang tujuannya untuk pelayan umat. Tidak akan dan tidak boleh ada hitungan untung rugi.

Sudahlah tak sejak awal antisipasi, dan sekarang saat wabah mulai menggila pun negara masih lebih mengutamakan dunia bisnis ketimbang nyawa rakyat. Semoga semua ini semakin meningkatkan kesadaran kita bahwa hanya sistem pemerintahan berdasar Islam yang memiliki perencanaan terbaik untuk kemaslahatan warga negaranya. Yang bisa diandalkan saat lapang maupun sempit.

Karena dalam Islam sudah dikenal sejak belasan abad silam tentang penanganan wabah di suatu negeri. Yakni adanya hadis Rasulullah saw tentang perintah isolasi atau lockdown total pada wilayah yang terkena wabah. Saat itu lockdown sangat efektif dan efisien mengatasi wabah karena setidaknya terdapat tiga hal berikut.

Berita Lainnya
Loading...

Pertama, sejak awal pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang pro rakyat. Pemimpinnya mencintai dan dicintai rakyat. Sami’na waatho’na atas setiap kebijakan. Mereka melakukan apa saja yang diminta penguasanya dengan segera secara suka cita.

Bahkan saat situasi genting, mereka kompak mendukung penguasa dengan harta dan apa saja yang mereka punya. Yang kaya membantu yang miskin bahkan membantu negara jika keuangan negara untuk menjamin kebutuhan rakyat saat lockdown mulai menipis. So sweet bukan?

Ini sulit terjadi saat ini di negeri ini. Sebab sejak awal sudah ada gap lebar antara penguasa dan rakyat jelata. Banyak fakta ketidakberpihakan negara pada rakyatnya kecuali pada para pengusaha. Krisis kepercayaan ini pun seolah dibiarkan begitu saja.

Bahkan makin hari kebijakan penguasa makin memilukan kaum duafa yang menjadi penghuni terbesar negeri ini. Karenanya wajar jika himbauan penguasa hanya dipandang sebelah mata oleh rakyatnya.

Kedua, jauh sebelum ada wabah fungsi negara sebagai pelindung dan penjamin kebutuhan rakyat memang sudah dirasakan warganya. Sehingga saat adanya kebijakan lockdown yang memang menuntut semua berdiam diri di rumah, maka mereka yang tak punya simpanan harta tak takut kekurangan.

Mereka akan mudah diarahkan karena faktor kepercayaan yang tinggi pada penguasa. Sedang di negeri ini sejak sebelum Corona rakyat apa-apa harus berjuang sendiri. Bagaimana masyarakat mau mengurung diri di rumah sementara tak ada yang mereka percaya bisa memenuhi hajat mereka selam di rumah.

Ketiga, negara Islam memiliki kekuatan ekonomi yang cukup tinggi. Dengan demikian sangat mudah untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya termasum saat lockdown diberlakukan. Meskipun kekurangan, maka kembali ke kekuatan nomor satu di atas. Kekuatan umat.

Sejatinya negeri muslim itu memang kaya raya. Allah yang Maha pengatur segalanya telah menitipkan harta di bumi negeri-negeri kaum muslimin. Apalagi Indonesia, tak diragukan lagi kekayaan alamnya.

Sayangnya negeri muslim telah lama meninggalkan aturan Allah dalam pengelolaan SDA, jadilah negeri yang miskin bahkan banyak utang di tengah keberlimpahan SDA. Jangankan saat lockdown, saat normal saja selalu mengaku rugi dan defisit.

Jadi, wahai kaum muslimin saat ini kita tak hanya harus berjuang melawan Corona yang bisa jadi Allah turunkan untuk pengingat kita yang telah banyak lalai pada aturan-aturan-Nya. Tapi kita juga harus berjuang bersama melawan virus sekuler kapitalis yang selama ini juga sudah menjadi pandemi bahkan tanpa disadari.

Virus sekuler kapitalis inilah penyebab penanganan sangat lamban hingga korban terus berjatuhan. Bahkan lebih dari itu, paham yang memisahkan agama dari kehidupan inilah yang menjadi sumber dari semua kesempitan hidup hari ini.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, …”. (QS Thaha [20] : 124)

Jadi kita harus melawan Corona sekaligus melawan sekulerisme kapitalis. Agar negeri ini dan seluruh dunia selamat, aman dan bahkan bisa hidup sejahtera.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya