Islam, Solusi Pandemi

203

Oleh : Fatimah Fitriana, S.hut
Pemerhati sosial kemasyarakatan. Berdomisili di HSS

Pertengahan bulan lalu Presiden menegaskan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama dalam penanganan covid-19.Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman dalam pernyataan pers di Jakarta.”Salus populi suprema lex (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi). (mediaindonesia.com, 22/3/2020)

Namun bertolak belakang dengan pernyataan Ketua Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya dr Prastuti Asta Wulaningrum mengalami kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menangani pasien Covid-19. (Liputan6.com, 20/3/2020)

Sebagaimana pernyataan dr Fariz sebagai ahli dan spesialis paru, Covid-19 merupakan musuh yang teramat besar dan berbahaya untuk dihadapi, sementara pasukan yang maju tak sebanding jumlahnya. Meski begitu, para tenaga medis ini tetap berjuang habis-habisan dengan nyawa dan kesehatan mereka menjadi risikonya. Fariz merupakan salah satu dokter yang beberapa hari ini tak beristirahat dari medan pertempuran untuk merawat dan berusaha menyembuhkan pasien Covid-19. (cnbcindonesia.com, 18/3/2020)

Saking minimnya ketersediaan APD, para dokter ini bahkan kekurangan masker untuk melindungi mereka.Padahal profesi mereka cukup rentan karena berinteraksi langsung dengan pasien covid 19.Bantuan sekecil apapun, kini diterima dengan sukarela oleh para dokter yang bertugas.

Padahal sebelumnya, Presiden memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan laporan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, setidaknya, ada tujuh instruksi yang diberikan Jokowi kepada jajarannya. Salah satunya adalah segera melakukan rapid test, tes cepat dengan cakupan yang lebih bisa agar deteksi dini kemungkinan indikasi awal seorang terpapar Covid-19 dapat dilakukan.(cnbcindonesia.com, 19/3/2020). Nyatanya tidak ada penanganan yang mengutamakan keselamatan rakyat.

Inilah negara kapitalis yang hanya beretorika mengenai prioritas keselamatan rakyat, namun kebijakannya yang nyata tidak memberi jaminan. Bahkan tenaga medispun sebagai garda terdepan juga tidak mendapat perhatian memadai. Perhitungan materi masih menjadi pertimbangan dominan pengambilan keputusannya.

Berbeda halnya penanganannya dalam Islam.Islam menjadikan rakyat adalah unsur utama yang harus diselamatkan.Seorang pemimpin muslim tugasnya adalah sebagai pelayan rakyat. Sehingga ia akan melayani dengan maksimal dan tidak melanggar hukum syariat.

Seorang pemimpin negara Islam akan menjadikan keimanannya sebagai landasan memutuskan kebijakan. Keyakinan pada Allah SWT, membuatnya tawakal dan berserah diri pada Allah dalam menghadapi wabah ini. Ibarat dalam peperangan, sebagaimana firmanNya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya”. (QS. Al Anfal : 60)

Berita Lainnya

Ramadhan Bulan Taubat dan Taat

Ramadhan dan Keikhlasan

Sebagaimana surat Al Anfal ayat 60, kita diperintahkan mengumpulkan amunisi yang banyak untuk persiapan perang. Maka, pemimpin perlu menjamin ketersediaan alat perang (APD) untuk para medis. Sehingga tenaga medis akan merasa aman menjadi garda terdepan penanganan wabah ini.

Kebijakan lockdown tak langsung diambil oleh pemerintah karena pertimbangan pada ekonomi, sosial dan keamanan yang tidak bisa ditanggungnya. Sebagaimana pernyataan dari Tim pakar Gugus Tugas Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan langkah pembatasan gerak ini bisa berpengaruh besar terhadap roda ekonomi masyarakat. (bisnis.tempo.co, 18/3/2020). Padahal kebijakan lockdown akan dipastikan akan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat dalam sementara waktu.

Berbeda dengan sistem Islam/khilafah akan melakukan lockdown dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan potensi Negara dan umat. Itu bisa dilakukan karena dorongan takwa dan taat ulil amri yg dimiliki oleh rakyat.

Kemudian muncul panic buying yang melanda di tengah masyarakat turut menambah masalah baru. Penyebabnya adalah adanya rasa kecemasan yang tinggi hingga mengakibatkan kehilangan sense of control.Yang cenderung bertindak cepat tanpa pikir panjang.

Menurut Ketua Pusat Krisis UI Dicky Palupessy, ia mengungkapkan secara psikologis, merebaknya virus corona menguatkan pemikiran rakyat tentang kematian. Maka seseorang bisa menjadi lebih impulsif, termasuk impulsif pada membeli barang-barang.Ia juga menambahi bahwa informasi keliru, tidak akurat, dan tidak meyakinkan berkembang di tengah ancaman virus, menambah rasa takut setiap orang hingga membeli barang secara berlebihan. (cnnindonesia.com, 22/3/2020)

Panic buying juga melanda Inggris. Netizen Inggris ramai ‘memarahi’ orang-orang yang melakukan panic buying dan menimbun makanan karena memasuki fase karantina saat wabah virus corona.Amarah warga Inggris di media sosial timbul ketika sebuah video yang diunggah seorang perawat yang kelelahan bekerja di rumah sakit dan bermaksud berbelanja di toko namun barang-barang yang dijual telah habis. (london, kompas.com, 21/03/2020)

Sikap masyarakat dalam sistem kapitalisme menyikapi wabah penyakit penuh dengan kepanikan mencerminkan masyarakat yang lemah nilai takwa. Hingga tawakal tidak mendominasi dalam menyikapi setiap masalah.

Bagi orang beriman yang meyakini bahwa penyakit adalah makhluk Allah, maka sikap yang harus ditunjukkan adalah menguatkan keimanan pada Allah. Menyandarkan diri hanya pada Allah SWT (tawakal), lalu bertobat sambil muhasabah kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana tersebut pada suatu kaum.

Allah memerintahkan ikhtiar, maka harus memaksimalkan ikhtiar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya”. (Bukhari dan Muslim). Ini seperti kebijakan lockdown atau karantina. Namun konsep ini saat itu berhasil karena didukung oleh pemimpin negara yang menerapkan sistem Islam/khilafah.

Indonesia harusnya berani mengambil Islam sebagai pilihan tuntas untuk menyelesaikan setiap permasalahan termasuk wabah Corona. Karena Islam ada bukan untuk satu umat semata. Namun Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Maka ketika Islam hadir, Islam akan memberikan solusi bagi semua permasalahan manusia, tak membedakan muslim maupun non muslim.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya