Tabir Asap Pendidikan Perempuan

Oleh : Adzkia Mufidah, S.Pd
Pendidik

Sejak lama, peningkatan pendidikan perempuan dalam kesetaraan gender telah menjadi isu prioritas global. Hal itu kemudian diangkat dalam forum-forum Internasional, diantaranya pada Konferensi Dunia Keempat (1995) tentang Perempuan di Beijing. Konferensi tersebut menghasilkan kesepakatan yang disebut BPFA (Beijing Platform for Action).

Selama seperempat abad berjalannya BPFA, diakui telah banyak membawa kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan. Sayangnya, realitas menunjukan bahwa masalah kekerasan juga masih rentan dialami perempuan. Hal ini sebagaimana ditulis oleh satuharapan.com, bahwa meskipun terdapat kemajuan dalam pendidikan selama 25 tahun terakhir, kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan masih terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia. (http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pbb-pendidikan-perempuan-meningkat-namun-masih-dibayangi-kekerasan)

Di Indonesia sendiri penyelesaian persoalan pendidikan perempuan tampaknya masih stagnan. Realitas menunjukkan bahwa akses pendidikan perempuan di negara ini belumlah merata. Angka putus sekolah perempuan pun masih tinggi dibandingkan laki-laki. Lalu, bagaimana dengan pendidikan tinggi?.

Pendidikan tinggi adalah sebuah kemewahan bagi kaum wanita. Hal ini ditengarai akibat kuatnya tradisi. Hingga banyak anak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi. Lagi-lagi persoalan ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan. Padahal menurut psikolog Pendidikan Reky Martha, pendidikan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya. (https://new-indonesia.org/perempuan-indonesia-masih-tertinggal-dalam-pendidikan/)

Sebagian pihak menganggap bahwa kompleksnya persoalan yang melanda perempuan saat ini, termasuk dalam hal pendidikan disebabkan adanya ketidaksetaraan gender. Berangkat dari pemikiran itu dirancanglah berbagai solusi yang lebih pro gender atau mengedepankan kesetaraan gender. Pemikiran atau sudut pandang seperti ini tentu saja keliru.

Jika dicermati, ketidaksetaraan gender bukanlah penyebab utama persoalan perempuan. Apalagi menjadi sumber permasalahan pendidikan perempuan.

Banyaknya persoalan yang menimpa perempuan sesungguhnya adalah akibat diterapkannya sistem kapitalistik sekuler. Penerapan sistem ini membawa petaka bagi manusia.

Dalam konteks pendidikan, penerapan sistem kapitalis sekuler berdampak pada dikapitalisasinya sektor pendidikan. Pendidikan berkualitas menjadi mahal dan sulit diakses oleh masyarakat umum. Bukan cuma anak perempuan yang sulit mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi juga anak laki-laki.

Di sisi lain, tidak jarang terjadi pengabaian terhadap sektor ini oleh para penguasa. Hal ini terlihat dari ketidakjelasan arah kurikulum, minimnya fasilitas pendidikan, kurangnya tenaga pendidik berkompetensi, dan banyaknya siswa yang tak bisa melanjutkan pendidikannya.

Kondisi ini makin diperparah dengan proses sekularisasi dalam pendidikan. Pendidikan tidak lagi ditujukan untuk membangun kepribadian Islam. Bahkan muatan kurikulum yang ada banyak yang bertentangan dengan Islam. Akibatnya output pendidikan makin jauh dari Islam dan makin materialistis. Hal ini juga terjadi pada kaum perempuan. Sistem ini telah mengubah mereka menjadi makhluk pemuja kebebasan.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Di samping itu, pendidikan dewasa ini lebih dianggap sebagai passport yang menjamin akses seseorang ke dunia kerja. Terlebih di era kapitalisme saat ini, di mana jumlah lapangan pekerjaan sangat bergantung pada nilai investasi. Tentu saja, para investor dan industri privat tidak akan mengambil tenaga kerja kecuali cukup profesional, terdidik, dan terampil.

Sampai di sini, isu meningkatkan pendidikan perempuan dengan perspektif gender kembali dimainkan. Kenyataan di atas, telah membuat kaum perempuan gagap dan terdorong untuk menuntut kebebasannya meraih pendidikan lebih. Rupanya kapitalisme liberalisme lewat turunannya ide kesetaraan gender telah mencuci otak kaum perempuan. Bahwa mereka hanya akan diakui eksistensinya atau dipandang berdaya jika mampu mengaktualisasikan diri dan menghasilkan materi.

Diblow up-lah opini bahwa selama ini perempuan merasa terkungkung dengan kodratnya. Hingga muncul tuntutan agar perempuan keluar dan mengambil peran lebih di ranah publik. Hal ini dilakukan sekaligus untuk menghilangkan dominasi laki-laki yang dipercaya oleh sebagian pihak menjadi penyebab terpinggirkannya kaum perempuan.

Walhasil, dengan modal pendidikannya, kaum perempuan berbondong-bondong keluar. Bersaing dengan laki-laki untuk mengisi lapangan pekerjaan. Kenyataaan itu bukan tanpa efek. Keluarnya perempuan untuk bekerja di ranah publik, sedikit banyak membawa dampak bagi keluarganya. Peran utamanya sebagai istri dan ibu-pendidik generasi kadang terlalaikan. Akibatnya, keluarga menjadi tidak harmonis. Anak-anak menjadi tidak terperhatikan. Tidak jarang itu justru berujung pada keretakan keluarga. Tidak hanya itu, keberadaan kaum perempuan di luar membuat mereka kadang dieksploitasi dan rentan mengalami pelecehan serta tindak kekerasan.

Sungguh, ide peningkatan pendidikan perempuan dalam kesetaraan gender bak tabir asap yang dapat mengalihkan perhatian perempuan. Yakni, mengalihkan mereka dari menjalankan peran-perannya sesuai kodratnya. Hal itu jelas, tidak akan mampu menuntaskan persoalan perempuan.

Ide peningkatan pendidikan perempuan perspektif gender, sejatinya bukan untuk meningkatkan derajat atau memajukan perempuan. Ujung-ujungnya hanya untuk menjadikan perempuan sebagai mesin pendorong pertumbuhan ekonomi. Sekaligus menjamin ketersediaan SDM dan buruh murah bagi proyek-proyek investor kapitalis.

Sesungguhnya Islam mempunyai pandangan yang khas terkait pendidikan perempuan. Hal ini diawali dari bagaimana Islam memandang kedudukan perempuan.

Dalam Islam, perempuan mempunyai kedudukan dan peran yang sangat mulia. Perempuan tidak hanya berperan sebagai istri, pendamping suami dan pengatur rumah tangga. Tetapi dia juga berperan sebagai ibu, pendidik generasi-pembangun peradaban. Dalam waktu yang bersamaan perempuan juga berperan sebagai anggota masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan serta kondisi sosialnya. Hal ini terutama dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Agar peran mulia nan strategis tersebut dapat berjalan optimal, hal itu mengharuskan perempuan memiliki kepribadian dan tsaqafah Islam serta ilmu pengetahuan yang cukup bahkan mumpuni. Maka Islam menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Untuk itu negara Islam, yakni khilafah wajib memberikan layanan pendidikan yang berkualitas lagi gratis bagi seluruh rakyatnya, tanpa terkecuali. Artinya ini juga berlaku bagi kaum perempuan, mengingat kedudukan mereka yang sangat strategis. Pendidikan tersebut tidak hanya sebatas pada pendidikan dasar, tetapi hingga pendidikan tinggi.

Tentu saja, pendidikan bagi perempuan bukan untuk menyaingi laki-laki. Apalagi mengambil tempatnya. Akan tetapi, pendidikan bagi perempuan lebih untuk menguatkan dan mengoptimalkan perannya. Sehingga mereka bisa bekerjasama dengan laki-laki, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan menyiapkan generasi membangun peradaban yang diridhoi Ilahi. Wallahua’lam.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya