Model Pembelajaran Jarak Jauh Perlu Ditinjau Ulang

Oleh : Dr H Kasypul Anwar
Dosen UNISKA MAB

Corona Virus Diseases 2019 atau Covid-19, pandemi global yang saat ini menyerang 213 negara dengan kasus terkonfirmasi positif lebih dari 2,9 juta jiwa, telah berdampak langsung pada kebiasaan dan rutinitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Wabah ini menyebar dengan sangat cepat dan telah memakan banyak korban. Indonesia harus “memaksa” rakyatnya untuk melakukan kegiatan apapun di rumah sebagai upaya pembatasan sosial untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Perubahan-perubahan pun kian nampak jelas terutama dalam dunia pendidikan. Dalam menanggapi pemberlakuan social distancing atau physical distancing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merespon cepat dengan mengeluarkan surat edaran, yang berimplikasi pada perubahan model pembelajaran di Indonesia menjadi pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring (online).

Pembelajaran jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi informasi sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh. Pembelajaran berbasis online ini sudah diberlakukan dalam sistem pendidikan Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini seperti yang dilakukan oleh beberapa universitas di Indonesia. Dengan demikian, sistem ini telah menjadi bagian yang menyatu dalam dunia pendidikan di Indonesia. Lantas apakah Indonesia siap jika model pembelajaran ini harus diterapkan secara serentak untuk semua jenjang pendidikan di seluruh wilayah Indonesia dengan keadaan yang “memaksa” dan “tiba-tiba”?

Pembelajaran online, sebagai kejutan pandemi Covid-19, tentunya membuat kaget seluruh elemen, tak terkecuali dari elemen pendidik,peserta didik, dan orangtua peserta didik. Dilansir dari situs dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id, terdata sebanyak 220.353 sekolah dan 42.587.055 peserta didik, dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, secara otomatis melakukan pembelajaran jarak jauh. Hal ini belum ditambah dengan banyaknya mahasiswa dari berbagai universitas negeri maupun swasta yang juga menerapkan sistem serupa. Dalam implementasinya, berbagai polemik muncul seiring berjalannya proses pembelajaran jarak jauh tersebut. Polemik yang munculini merupakan tantangan baru yang harus dikaji dan dicari solusinya.

Kesiapan sekolah dalam menerapkan pembelajaran jarak jauh tidaklah sama. Di Indonesia, ketimpangan pembangunan infrastruktur pendidikan sangat nyata terjadi. Sekolah-sekolah yang tidak terbiasa menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran tentunya akan mengalami banyak kesulitan dan butuh penyesuaian saat pertama kali menjalankannya. Pola kebiasaan dari proses pembelajaran yang dilakukan secara konvensional membuat tenaga pendidik dan peserta didik mengalami shock dan gagap dalam menghadapi pembelajaran berbasis daring. Fasilitas yang kurang memadai dan faktor ekonomi peserta didik yang rendah menjadikan pembelajaran jarak jauh sebagai kejutan yang menimbulkan banyak kendala yang kompleks. Hal ini berbeda dengan sekolah-sekolah yang sejak dini menggunakan perangkat teknologi dan fasilitas pembelajaran online dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Tentunya sekolah tersebutmenyambut baik pembelajaran jarak jauh karena minimnya kendala yang mereka hadapi.

Polemik yang dihadapi dari sisi peserta didikdapat dilihat dari ketidakmerataan fasilitas siswa untuk belajar di rumah. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat teknologi seperti laptop atau smartphone untuk mengakses pembelajaran dan tidak semua peserta didik memiliki penguasaan teknologi yang sama. Ada peserta didik yang memiliki smartphone, tetapi digunakannya bersama dengan orang tua, sedangkan orangtua membutuhkan smartphone tersebut untuk bekerja pada jam yang sama dengan jam sekolah anak. Bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki smartphone dalam satu keluarga.Kebutuhan kuota internet yang semakin melonjak dan jaringan sinyal yang lemah pun menjadi kendala berikutnya. Sebenarnya bisa saja dilakukan pembelajaran secara berkelompok dengan teman yang memiliki fasilitas memadai. Namun hal ini menjadi kontradiktif dengan tujuan belajar di rumah, karena hanya memindahkan problem berkumpul di kelas menjadi berkumpul di rumah masing-masing. Padahal kebijakan belajar di rumah ditujukan untuk menghindari kontak fisik guna mematuhi social distancing. Dengan keluhan-keluhan tersebut, khawatirnya menyebabkan mereka tidak dapat mengikuti pembelajaran jarak jauh tersebut.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Keluhan yang dirasakan oleh peserta didik merupakan masalah yang dihadapi oleh orangtua.Kini keluhan dari orang tua tidak hanya mengenai variasi pembelajaran saja,melainkan juga faktor pendukung tercapainya pembelajaran. Pasalnya, orangtua harus memenuhi kebutuhan sang anak dalam belajar. Kebijakan pemerintah dalam social distancing melalui “stay at home” dan “work from home” membuat banyak orang kehilangan pendapatannya, terutama bagi para pekerja harian. Orangtua masih harus memikirkan kebutuhan akan kuota internet dan perangkat teknologi di tengah keberlangsungan hidupnya di tengah krisis akibat pandemi ini.

Beberapa orangtua masih minim pengetahuan akan teknologi. Akibatnya, masih ada sebagian orang yang tidak memiliki, bahkan tidak mengerti cara pengoperasian teknologi tersebut. Keterbatasan dalam mengakses teknologi berbasis online akan menyebabkan pendampingan yang tidak efektif selama proses pembelajaran jarak jauh. Selain tak dapat membantu anak dalam mengakses teknologi, terutama bagi siswa jenjangsekolah dasar yang masih membutuhkan arahan dalam pengoperasiannya, komunikasi dengan sekolah dalam upaya pengawasan dan kontrol selama anak belajar di rumah pun menjadi tidak efektif. Komunikasi yang baik antara tenaga pendidik dan orangtua peserta didiksangat diperlukan dalam pembelajaran jarak jauh ini. Pemantauan belajar mandiri siswa dapat dilakukan sekolah dengan membuat grup WhatsApp yang beranggotakan wali murid dan guru, sehingga pemantauan dan pendampingan dapat berjalan dengan baik.Namun, pengawasan juga terkendala apabila kedua orangtua harus keluar untuk bekerja, sehingga tidak ada yang mendampingi
anak untuk belajar di rumah.

Keterbatasan fasilitas yang dimiliki peserta didik memaksa tenaga pendidik untuk mencari alternatif lain agar peserta didik tersebut tak kehilangan hak belajarnya. Pasalnya, tak mungkin guru memaksa masing-masing orangtua untuk membelikan smartphone secara mendadak, terlebih dengan kebutuhan kuota yang tak sedikit. Guru pada akhirnya harus hadir mendampingi proses belajar siswa dengan bimbingan door to door, mendatangi satu per satu siswanya dan belajar bersama di rumah. Namun hal ini sangat berisiko karena terjadi interaksi fisik yang secara teknis tengah dihindari dalam upaya pencegahan Covid-19.

Keterbatasan pendidik dalam penggunaan teknologi juga menjadi problema. Tidak semua pengajarmelek teknologi. Hal ini berpengaruh pada kreativitas pengajar dalam mengelola media untuk metode pembelajaran yang digunakan.Akibatnya, pembelajaran pun hanya sekedar memindah proses tatap muka menjadi penggunaan aplikasi digital dan membebani peserta didik dengan tugas-tugas setiap harinya sebagai formalitas demi mengikuti kebijakan pemerintah saja.Pengajar hanya memberikan materi melalui saluran grup telekomunikasi, seperti Whatsapp, dan siswa hanya mempelajarinya sendiri disertai dengan tugas-tugas mandiri. Hal ini tentunya tidak efektif jika materi tersebut seharusnya disampaikan melalui metode simulasi, praktik, dan eksperimen.Akibatnya, peserta didik kesulitan mencerna konsep materi secara maksimal tanpa adanya penjelasan langsung dari tenaga pendidik. Kondisi ini menjadi problem yang banyak dikeluhkan oleh orangtua dan peserta didik, karena seolah-olah pembelajaran jarak jauh ini sama dengan “distribusi tugas”
semata.

Polemik selanjutnya adalah tidak terpusatnya sistem pembelajaran. pada sistem pembelajaran yang tidak terpusat pada satu portal, sekolah menyerahkan kebijakan sepenuhnya kepada tenaga pendidik. Hal ini membuat siswa menjadi bingung dan berakibat pada banyaknya aplikasi yang harus diunduh dan portal-portal yang harus diakses. Meskipun terdapat beberapa portal yang direkomendasikan oleh Kemendikbud, namun hal itu hanyalah suatu pilihan, dan pembelajaran sekolah tidak menggunakannya. Dengan demikian, bagi peserta didik yang “malas” dan terkendala oleh minimnya kuota internet maka hal ini akan menjadi salah satu alasannya untuk “bolos” atau tidak mengikuti pembelajaran jarak jauh tersebut.

Pada prinsipnya, sistem pembelajaran jarak jauh harus membuat setiap orang dapat memperoleh akses pendidikan yang berkualitas seperti halnya pendidikan tatap muka pada umumnya. Kemajuan teknologi seharusnya membuat proses belajar menjadi serba mudah. Peserta didik dapat belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi sesuatu, dan belajar untuk hidup bersama dan berinteraksi dengan pendekatan yang sangat berbeda dari sebelumnya.Di tengah pandemi global ini, dunia pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan teknologi. Meskipun kewaspadaan terhadap Covid-19 tengah menjadi fokus utama, namun jangan sampai mengorbankan pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Sistem pendidikan Indonesia yang menerapkan pembelajaran jarak jauh saat ini perlu ditinjau ulang agar pelaksanaannya lebih efektif. Pemerintah dapat segera membuat formulasi yang tepat untuk pembelajaran jarak jauh ini sehingga dapatmenjadi acuan sekolah dan tidak terjadi ketimpangan antar peserta didik dalam memperoleh hak belajarnya. Seluruh elemen harus beradaptasi dengan cepat dan bersama-sama memperbaiki sistem pembelajaran yang ada, serta memaknai pembelajaran jarak jauh itu sendiri. Polemik yang ada menjadi catatan penting dimana kita harus mengejar pembelajaran jarak jauh berbasis online ini secara cepat. Tak hanya sekedar di tengah pandemi saat ini, melainkan pendidikan Indonesia harapannya dapat menjadi lebih baik dan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan di masa mendatang.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya