Bijak Terhadap Teknologi, Guru Belajar dari Covid-19

Oleh : Hj Wenni Meliana, S.Pd
Guru MAN 1 Banjarmasin, Wakil Sekretaris Jenderal Matematika Nusantara

Oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi internasional. Dalam situasi Pandemi Covid-19, kebijakan pendidikan tentu sangat memperhatikan kesehatan seluruh siswa, guru, kepala sekolah dan warga sekolah. Kebijakan physical distancing “melarang peserta didik belajar di sekolah” merupakan tantangan besar yang harus dihadapi oleh seorang guru.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) antara lain menyatakan Ujian Nasional (UN) Tahun 2020 dibatalkan, proses belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh, ujian sekolah untuk kelulusan dan ujian akhir semester untuk kenaikan kelas dalam bentuk tes yang mengumpulkan siswa tidak boleh dilakukan, mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) mengikuti protokol kesehatan dengan mencegah berkumpulnya siswa dan orang tua secara fisik di sekolah. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dapat digunakan untuk membiayai pembelajaran daring/jarak jauh.

Kebijakan yang digulirkan Mas Menteri mau tidak mau membuat semua warga sekolah wajib berbenah. Hal itu bukanlah perkara yang sangat mudah, karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) menuntut kreatifitas dan inovasi yang tinggi. Untuk mengatasi keterbatasan ruang dan waktu di masa Pandemi Covid-19 ini, penggunaan Teknologi Informasi Komputer (TIK) berbasis jaringan (online) sangat diperlukan dalam mendukung PJJ. Teknologi itu tergantung kita sendiri menyikapinya. Apakah dipandang sebagai hal yang membantu, memudahkan atau bahkan dianggap menyebalkan. Yang jelas, kita tak bisa lepas dari teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada HP jadul yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. Kalaupun masih juga tidak memilikinya, mungkin itu adalah kebahagiaan seseorang yang tak perlu kita caci. Setiap orang pasti punya pemikiran yang berbeda.

“Cara yang terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah keluar dari zona nyaman tersebut. Itu satu-satunya cara untuk memperbaiki diri” kata Mas Mentri dalam program Belajar dari Covid-19 pada peringatan Hardiknas Tahun 2020, Jakarta, Sabtu (2/5/2020) yang ditayangkan di TVRI dan Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sama dengan siswa, kemampuan guru juga berbeda-beda. Ada guru yang lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi ada juga guru yang lebih lambat. Untuk itulah, Mendikbud mengajak para guru untuk tidak enggan saling berbagi informasi antarsesama guru, hal ini akan meningkatkan semangat guru.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Kondisi sekarang ini di satu sisi adalah tantangan, namun di sisi lain merupakan peluang, ajang guru untuk terus mencoba, belajar, serta berproses dalam memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif dengan sentuhan TIK sesuai dengan tuntutan pendidikan di era 4.0. Dari yang tidak kenal TIK, berusaha untuk mempelajarinya minimal dengan HP yang dimiliki. Yang sudah memahami maka berusaha mengajari dan memberikan suport kepada yang lainnya.

Banyak tutorial pembelajaran bertebaran di media sosial, youtube dan lainnya mulai pembelajaran daring dengan menggunakan Learning Management System (LMS) segala versi seperti Moodle, Schoology, Google Classroom. Ada juga dengan Telegram hingga Whatsapp yang dianggap sederhana bagi sebagian orang. Sehingga tak ada alasan bagi guru dan siswa untuk tidak memulainya. Diharapkan, tak akan ada lagi cibiran guru hanya memakan gaji buta karena tak ada kegiatan tatap muka, tak akan terdengar lagi selentingan kualitas guru yang sangat rendah.

Akan sangat aneh bila masih ada guru yang tak mau keluar dari zona nyamannya. Yang terpaku pada alasan yang kadang terlihat dibuat-buat. Apalagi seperti ini “Toh, gaji, tunjangan, tetap dibayar juga, ngapain repot ke siswa, biar mereka menikmati liburnya”. Semoga tidak ada guru yang seperti itu. Guru-guru kita semua punya semangat untuk maju dan berkembang. Buktinya seminar online diburu oleh banyak orang, diklat online laku keras baik yang berbayar apalagi gratisan, grup medsos ramai membahas tips pembelajaran daring, saling diskusi dan komunikasi di dunia maya berjalan 1×24 jam.

Tanpa memandang remeh mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah. Yang untuk makan saja tak tahu apa yang harus dimakan bagi keluarganya, sehingga jangankan beli kuota, HP saja tidak punya, jadi makan setiap hari saja belum ada gambaran. Situasi pandemi Covid-19 tak semua orang menghendakinya, semua terasa begitu sulit. Tapi sesungguhnya sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Allah SWT akan bersama orang-orang yang sabar, mau berusaha dan terus berdoa.

Tulisan ini ingin membuka mata dan pikiran semua orang terutama guru, dan mengajak yang lainnya, jangan sampai siswa lainnya kita abaikan. Kita harus ingat tugas yang diemban seorang guru, walau situasi tak memungkinkan dengan tatap muka. Guru harus tetap menjalankan perannya sebagai pendidik dengan hati yang senang. Beberapa siswa sudah punya HP, ada kuota, dan mereka bahkan lebih mengerti teknologi dari guru itu sendiri. Pembelajaran di rumah memang bukan untuk mengejar ketuntasan kurikulum, bukan sekedar memberi tugas yang banyak sehingga siswa dan ortu jadi stres, bukan itu yang dikehendaki. Disinilah peran serta guru sangat penting dan dominan untuk berkreasi disesuaikan kondisi masing-masing.

Teknologi pasti tak mampu menggantikan peran seorang guru, kita pasti tak membantah hal ini. Tapi setidaknya teknologi sangat diperlukan sebagai penghubung utama saat PSBB diberlakukan dibeberapa daerah, solusi utama pembelajaran daring dari rumah. Beberapa hal bisa tergantikan dengan teknologi. Penilaian ataupun ujian online, pengumuman kelulusan daring, SKL otomatis dikirim, kegiatan PPDB online, Acara kelulusan siswa online, bahkan beberapa kampus melakukan wisuda juga secara online. Kembali ke diri kita sendiri, mau tidaknya menerima teknologi dengan ikhlas, menggantikan beberapa peran dengan teknologi. Jangan-jangan teknologi dianggap hal yang membuat berkurangnya penghasilan, kehilangan job sebagai petugas Ujian, PPDB, dan hal lainnya.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya