Ikhlas Kunci Ibadah

Oleh : Andi Nurdin Lamudin
Praktisi Hukum dan Pengamat Sosial Budaya

Budaya ibadah yang rusak dikarenakan oleh karena manusia selalu mempunyai keinginan yang kadang terpisah dari petunjuk wahyu ketuhanan. Dari peristiwa zaman Nabi Musa sampai banyaknya nabi yang dibunuh dikarenakan mereka terlalu berkeinginan untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh wahyu itu sendiri. Padahal wahyu itu adalah pengetahuan atau dari Ilmu Allah SWT. Di mana sifat dari ketuhanan, yang bersifat Qiyamu binafsihi, atau berdiri dengan sendirinya itu, ditunjang oleh ilmu dan qudrat serta iradat.

Namun perjalanan sejarah manusia yang dilihat dari sejarah para Nabi dan Rasul, telah membuktikan jika keinginan manusia untuk melihat pikirannya sendiri, melanggar yang sebenarnya untuk kepentingan manusia itu sendiri di muka bumi ini. Dua sejarah Rasul yang juga mengalami pembelotan, adalah Musa dan Isa, sehingga budaya itu sampai sekarang masih mendominasi kehidupan budaya dan peradaban di dunia ini.

Oleh karena itulah berkat Alqur’an yang disampaikan Rasulullah SAW, maka keadaan umat yang pada mulanya dihinngapi penyakit ruhani yang sudah auh sekali dan dapat dikatakan sekarat, dapat dikatakan jahiliyah telah menjadi Islam. Maka seperti di Saudi Arabia dalam waktu singkat telah berbalik menjadi umat pembina negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, umat yang berjiwa pahlawan dan pelopor dalam segala macam pembangunan yang mengagumkan para ahli sejarah dunia sampai sekarang ini.

Di mana sejarah Arab waktu itu,umat yang pada mulanya terpecah-pecah menjadi 360 kabilah/partai/golongan yang selalu berselisih, bermusuhan dan saling berebutan pengaruh dan kedudukan, akhirnya telah menjelma menjadi umat yang satu, umat yang bersaudara yang mengarahkan tujuannya di atas kepentingan bersama demi kesejahteraan hidup bersama tanpa memandang kulit dan bulu, antara kepentingan pria dan wanita, serta semuanya itu didasarkan atas ketaqwaan kepada Allah SWT. Semuanya untuk mencapai kebahagiaan hidup bersama baik di dunia maupun akhirat.

Sebagaimana Alqur’an : “Hendaklah kamu berpegang kepada tuntunan Allah keseluruhannya dan janganlah kamu menjadi umat/ bangsa yang berpecah-belah, dan hendaklah kamu menyadari nikmat Allah yang dikaruniakan atasmu pada waktu kamu saling bermusuhan, lalu Allah jadikan kamu umat yang bersatu hati, maka dengan nikmat Allah tadi terciptalah persaudaraan diantaramu”. (QS. Ali Imran : 103)

Oleh karena bersasarkan buku yang membahas “Esensi Puasa Kajian Metafisika” berdasarkan firman Allah tersebut, jelaslah bahwa persatuan lahir dan bathin membawa kesejahteraan hidup bangsa di dalam negara. Dengan persatuan lahir dan bathin tak mungkin timbul sengketa, permusuhan, dengki, iri hati, loba, tamak, berebut kedudukan dan saling menjatuhkan sebagaimana yang dialami masyarakat Arab.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Dengan demikian setelah mereka menerima ajaran-ajaran Allah SWT, berupa Alqur’an yang diinjeksikan kepada mereka oleh Rasulullah SAW, mereka menjadi umat yang satu hati, satu cita-cita dan satu tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama, mereka bukan lagi umat jahiliyah, melainkan telah menjelma menjadi umat yang berbahagia. Maka dengan demikian jadi negara sejahtera, bukan hanya bergantung atas kekayaan bumi dan alamnya semata, melainkan harus dititik beratkan atas budi pekerti rakyatnya. Maka oleh karena itulah walau suatu negara menurut pandangan lahir telah mencapai puncak kemajuan teknologi, namun belum dapat dinamakan negara sejahtera.

Sebuah pengabdian, berdasarkan agama Islam hendaklah ikhlas. Walaupun sebenarnya setiap rakyat Indonesia terlibat secara langsung ataupun tidak langsung untuk membela negaranya berdasarkan UUD 45. Maka dengan demikian ‘sistim keterbukaan’ itu sudah menjadi suatu yang realita, di mana kontrol sosial itu menjadi suatu yang disukai karena demi kepentingan bersama. Oleh karena itu kritik sosial itu memang perlu sangat diperhatikan. Karena kritik sosial itu demi kepentingan rakyat dan tentunya akhirnya kepentingan negara.

Oleh karena itulah,negara bukan milik golongan/partai/dan bangsa tertentu, semuanya untuk kepentingan rakyat. Rakyat itulah yang perlu dilihat kehidupannya. Apakah sejahtera ataukah telah menurun kesejahteraannya. Bagaimana pendidikannya? Bagaimana ekonominya? Bagaimana juga pengetahuannya tentang bernegara? Sebagaimana setiap Muslim akan melihat negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang maha Esa, dan sehubungan juga dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Karena itu beramal memang harus ikhlas. Untuk melakukan amal kebajikan diperlukan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan tanpa diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Amal yang tidak ikhlas adalah sesuatu yang sia-sia dan percuma. Ikhlas artinya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT sebagaimana yang dijelaskan pada surat Al-Ikhlas, di mana kita hanya pengabdi pada satu Tuhan. “Tempat bergantung dan memohon, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, Tiada satupun yang menyerupaiNya”.

Karena itu jika hanya berfokus pada selain Allah SWT, dapat dikatakan sebagai pemberhalaan. Dapat dikatakan sebagai kafir, tidak percaya kepada Tuhan. Atau musyrik, percaya kepada Tuhan namun juga percaya pada pikiran manusia yang dibuatkan patung-patung atau berhala atau manusia yang terlalu dipuja seperti berhala. Dengan alasan kepentingan negara, padahal negara hanyalah kesepakatan manusia di dalamnya, di mana setiap orang dapat memberikan saran untuk dijadikan UU. Namun jangan sampai pikiran manusia itu menadi berhala, karena itu sebenarnya hasil pikiran mereka sendiri.

Maka juga negara itu, suatu negara belum dapat dinamakan sejahtera jika di dalam negara itu tidak terdapat ketertiban (rust on orde and welvarend), terlebih lagi kalau di negara tadi senantiasa timbul permusuhan, penindasan, perampasan dan semacamnya. Oleh karena itu ketertiban bathin (gesstelijke vreede) dan ketertiban lahir harus dimiliki setiap orang.

Ketertiban lahir dan bathin akan banyak berhasil dengan pendidikan PUASA. Orang tidak melakukan pelanggaran karena takut kepada petugas keamanan, maka orang itu tidak memiliki ketenangan lahir dan batin. Di samping itu juga orang yang memiliki ketertiban lahir dan batin, baik ada petugas maupun tidak ada, ada inspeksi atau tidak ada, ada kontrol atau tidak ada ia akan berlaku jujur.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya