Akhiri Derita Perempuan dengan Sistem Berkah

Oleh : Ridha Yanty
Pemerhati Masalah Perempuan dan Sosial Kemasyarakatan

Kasus memprihatinkan yang menimpa perempuan tak luput dari pemberitaan, kasus buruh hamil yang diperkerjakan pada shift malam dengan kondisi yang tidak layak dengan beban yang berat, seperti dialami Elitha, buruh pabrik es krim PT Alpen Food Industry (AFI) atau Aice. Elitha harus rela kehilangan janinnya lantaran pekerjaan berat yang harus dia lakukan. Upayanya untuk dipindahkan ke divisi yang lebih ringan karena riwayat penyakit endometriosisnya, malah direspons dengan ancaman PHK. Sejak 2019 telah terjadi lebih 20 kasus buruh perempuan yang keguguran dan bayi meninggal saat proses persalinan https://depok.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-09764908/kasus-alpen-food-belum-usai-tagar-boikot-aice-kembali-trending-di-twitter-akibat-besaran-upah-turun).

Aice, bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengabaikan hak-hak perempuan. Keguguran, bukan satu-satunya persoalan. Tindakan diskriminasi, intimidasi, kekerasan seksual, kekerasan fisik dan serumit persoalan yang membayangi kehidupan buruh perempuan. Perempuan terpaksa harus bekerja demi membantu suami, karena biaya kebutuhan hidup yang semakin mahal. Menurut data PBB, 1/3 penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan, 70 persen di antaranya adalah kaum perempuan (jurnalperempuan.com).

Kemiskinan telah mendorong lebih dari 40 juta perempuan Indonesia terjebak dalam dunia kerja yang tak ramah dan tak memihak perempuan. Seperti halnya kasus yang menimpa buruh Aice. Permasalahan perempuan yang terdiskriminasi membuat para pengamat buruh dan pegiat gender angkat bicara dengan melihat persoalan buruh perempuan di negeri ini, akibat budaya patriarki di sektor ketenagakerjaan, yaitu budaya yang meninggikan derajat laki-laki di atas perempuan. Maka dari itu, mereka menyerukan kesetaraan gender. Tak boleh ada yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Benarkah demikian? Apa sebenarnya yang menjadi akar masalahnya, hingga perempuan kehilangan kemuliaannya dan makhluk yang selalu tertindas? Lantas adakah konsep lain yang tuntas menyelesaikan permasalahan ini?

Ide Gender yang Membahayakan

Pemikiran yang menganggap tidak boleh ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang membahayakan kehidupan perempuan. Hak dan kewajiban mereka berbeda dengan laki, dianggab diskriminalisa terhadap perempuan. para pengiat gender pun mendorong perempuan untuk bekerja di luar rumah untuk menghasilkan materi. Dari sinilah perempuan memiliki peran ganda yang akan membuat beban yang berat untuk dipikulnya. Peran perempuan yang seharusnya menjadi ibu yang totalitas menjadi pendidik utama generasi terabaikan karena tuntutan ekonomi yang mengharuskan perempuan ikut membanting tulang demi kebutuhan keluarganya. Menyebabkan kasus perempuan stres meningkat.

Akar masalah yang menjadi malapetaka bagi buruh adalah permasalahan yang timbul bermula dari penerapan sistem demokrasi kapitalis di negeri ini. Sistem yang lahir dari akal manusia yang memisahkan urusan dunia dengan urusan agama, sehingga peraturan yang dibuat tidak bersandar pada aturan sang Khalik, Allah SWT. Akan tetapi aturan dibuat berdasarkan akal manusia, bila menguntungkan diambil, bila tidak akan dibuang. Contohnya adalah UU Omnibus Law Cipta Kerja yang sarat demi kepentingan penguasa dan pengusaha. Membuat derita buruh kian mencekam. Perempuan jadi imbasnya.

Sistem Islam Akhiri Derita Perempuan

Berita Lainnya

Jangan Buang Minyak Jelantah Sembarangan

Hari Bumi dan Darurat Ruang di Kalsel

1 dari 268

Islam adalah Dien yang sempurna, miliki seperangkat aturan yang sempurna. Tidak hanya masalah urusan ibadah saja, namun urusan permasalah kehidupan sosial politik, budaya, ekonomi, kesehatan dan keamanan lengkap diatur dalam sistem Islam kaffah.

Islam menetapkan jalan memenuhi semua kebutuhan dengan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan dibebankan pada setiap individu hmasyarakat, baik dipenuhi langsung atau melalui ayah, suami ,atau ahli waris.

Bagi perempuan tak ada kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dari sini akan terselesaikan problem buruh perempuan. Jika wali, ayah, suami, ahli warisnya lemah atau cacat atau tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, negara akan berperan langsung untuk memenuhinya.

Kebutuhan akan biaya pendidikan, kesehatan dan peradilan semua ini langsung diurus negara. Sehingga pendapatan  keluarga hanya untuk membiayai kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Begitu jelas dan rincinya aturan Islam, ketika diterapkan. Sistem yang bukan hanya mengakhiri derita perempun, tetapi juga menjadi keberkahan dalam kehidupan umat di negeri ini.

Sejarah membuktikan bahwa ketika Islam kaffah diterapkan perempuan menjadi mulia. Seperti perempuan boleh memberikan masukan atas berbagai kebijakan negara, lebih-lebih yang terkait dengan kesejahteraan perempuan. Ummu Salamah memberikan saran pada Rasulullah SAW untuk bertahalul ketika para Sahabat masih berat bertahalul selepas perjanjian Hudaibiyah.

Demikian juga Khaulah binti Tsa’labah yang menasihati Umar bin Khaththab sebagai khalifah agar tetap dalam ketakwaan kepada Allah, atau seorang muslimah yang mengoreksi kebijakan pembatasan mahar perempuan yang ditetapkan Umar bin Khaththab sebagai Khalifah saat itu. Dalam sejarah Islam tidak ada perempuan yang dieksploitasi tenaga dan jiwanya, namun perempuan didorong untuk berlomba-lomba dalam mewujudkan peran dan fungsi strategisnya sebagai ibu dan manejer rumah tangga sekaligus menjadi politisi unggul yang cerdas untuk kebaikan umat Islam. Walau pun bekerja semata-mata hanya untuk mendedikasikan ilmu yang dimilikinya, bukan karena materi.

Tidakkah kita rindu dengan sistem Islam yang akan mengakhiri derita perempuan yang selama ini tak pernah berujung. Wallahu a’lam

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya