Penangkal Radikalisme Melalui Moderasi Beragama

Oleh : Gumaisha Syauqia Azzalfa
Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan

KBRN, Banjarmasin : Regional Kalimantan Selatan mendapat giliran untuk melakukan pelatihan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya, yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT pada tanggal 5 hingga 8 Oktober 2020.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut, sebanyak 50 orang generasi potensial dari Kalsel berhasil direkrut. Ketua Pelaksana Regenerasi Duta Damai Regional Kalsel Eka Wahyu Sholeha mengatakan, kegiatan ini bertujuan menjaring anak muda dari berbagai kalangan untuk menyebarkan pesan perdamaian agar konten didunia maya dipenuhi dengan konten positif dan pesan toleransi. “Untuk peserta nya kita menjaring anak anak muda dan kita juga berharap kedepannya bisa regenerasi setiap tahun untuk bisa menjaring anak muda agar lebih cerdas dalam bermedia sosial“ ujar Eka, Kamis(8/10/2020).

Sementara itu, Kasubdit Kontra Propaganda Direktorat Pencegahan BNPT Kolonel Pasukan Drs. Sujatmiko mengungkapkan, pelatihan ini dilakukan sebagai bentuk sinergritas antara BNPT dengan para penggiat dunia maya dalam menyuarakan perdamaian dan menangkal ancaman radikal terorisme yang terjadi didunia maya. “Kaderisasi ini kita berusaha untuk lebih memperluas jaringan, mereka ini dari penggiat dunia maya di Kalsel yang terdiri dari kemampuan IT , Desain Komunikasi Visual dan Blogger , mereka kita harapkan akan berpartisipasi di dunia maya memperluas kiprah di dunia maya dalam menyuarakan perdamaian, menjauhi kekerasan dan hoax dengan bahasa anak muda“ kata Sujatmiko.

Kalimantan Selatan merupakan Regional kelima pelatihan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya 2020, setelah sebelumnya sukses melakukan regenerasi di empat regional yakni Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Banjarbaru, Sonora.ID – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKTP) Kalimantan Selatan melaksanakan Survei Kebhinekaan dan Literasi Digital Tahun 2020, pada Rabu (19/8/2020) lalu. Kegiatan tersebut didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang telah didahului dengan Coaching Enumerator Survey kepada 20 tenaga enumerator atau petugas pengumpul data di lapangan pada 15 Maret lalu. “Namun karena pandemi CoVID-19, kegiatan pengkajian ke lapangan untuk monitoring dan evaluasi (monev) terpaksa diundur menjadi tanggal 18-20 Agustus lalu,” jelas Ketua FKTP Kalimantan Selatan, Aliansyah Mahadi.

Banjarmasin (ANTARA) – Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polresta Banjarmasin memberikan sosialisasi guna mencegah tumbuh kembangnya paham Radikalisme dan anti Pancasila di masyarakat pesisir sungai yang berlokasi di Kampung Hijau kota setempat. “Kegiatan sosialisasi ini kami lakukan secara terus menerus terhadap masyarakat yang ada di pesisir Sungai Martapura,” ucap Kasat Polair Polresta Banjarmasin Kompol John Louis Letedara SIK melalui Kanit Harkan Ipda Sutopo Yuwono di Banjarmasin, Jumat.

Dikatakannya, dalam kegiatan yang bertempat di halaman langgar Machrisyatul U’budiyyahi, Jumat (25/9) pagi, itu pihak Satpolair Polresta Banjarmasin menggandeng narasumber dari akademisi STKIP PGRI Banjarmasin Muhammad Hidayat.

Berita Lainnya

Jangan Buang Minyak Jelantah Sembarangan

Hari Bumi dan Darurat Ruang di Kalsel

1 dari 268

Rand Corporation menghadapi muslim pasca 9/11 menurut Cherryl Bernard, terbagi menjadi empat: ekstrimis, tradisionalis, modernis, dan sekularis. Dalam rekomendasinya menyatakan bahwa kelompok modernis dan sekularis yang harus didukung.

Barat menginginkan cara pandang umat Islam dirubah. Mereka merubah makna jihad. Merubah makna pernikahan dengan menyatakan bahwa pernikahan tidak harus antara pria dan perempuan. Ini adalah pandangan yang sangat berbahaya, pandangan yang sekuler.

Mengajak seluruh elemen umat untuk berjuang menangkal liberalisme ini. Kalau mereka (kaum liberal) melakukan secara formal, kita bisa melakukan secara informal melalu kelompok kajian seperti ini (diskusi yang dilakukan Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa), pendidikan maupun cara lainnya.

Ghazwul fikr dan ghazwuts tsaqafi dengan upaya memasukkan istilah Barat ke dalam Islam. Atau mencampur yang haq dan bathil. Bahwa kesalahan fatal menggunakan terma Barat memaknai Islam. Muslim tidak mungkin moderat, radikal, dan liberalis. Karena seorang muslim itu tunduk dan patuh pada Allah. Pun demikian, kata Wasathiyah yang kerap dihubungkan dengan moderat jelas berbeda maknanya. Jihad bukan terorisme. Khilafah bukan khilafahisme dan radikalisme. Itu penyebutan salah dan fatal.

Moderasi Islam menjadikan umat meragukan ajaran Islam, tidak bangga dengan agamanya, dan sinkretisme dengan pemikirian di luar Islam. Penjajahan pemikiran ini untuk melumpuhkan kebangkitan umat. Mendiskriminasi Islam dan umatnya dengan cara monsterisasi. Karena itu, saya tekankan moderasi itu salah, Islamnya benar. Bahkan ini melemahkan nilai-nilai Islam. Moderasi Islam berarti melemahkan cara pandang Islam.

Menilik definisi ini, maka predikat radikalisme dianggap layak untuk disematkan kepada kaum muslimin yang menginginkan aturan agamanya diterapkan secara utuh. Mereka yang menginginkan interaksi sosial dijalankan berdasarkan hukum Islam adalah radikal. Mereka yang menginginkan diterapkannya sanksi pidana Islam adalah radikal. Mereka yang meminta pemimpin muslim dan menolak yang nonmuslim, radikal. Mereka yang meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar, juga radikal.

Lantas muncullah stigma radikal bagi para pemakai cadar dan celana cingkrang. Bahkan memisahkan pergaulan anak laki-laki dan perempuan juga dicap radikal. Mereka sejatinya tengah menjalankan peran sejarah, sebagai penghalang-penghalang dakwah yang kemenangannya justru telah di janjikan oleh Allah. Mereka menukar hidayah dengan kesesatan yang menjerumuskan, didunia dengan kokohnya penjajahan dan di akhirat dengan azab yang tidak berkesudahan. Naudzubillahimindzalik.

Maka sebagai ummat Islam adalah tugas kita, untuk menyadarkan umat akan situasi sebenarnya. Bahwa mereka saat ini ada di antara dua pilihan. Berislam dan cara Barat yang mengundang kemudaratan. Atau istiqamah memegang Islam kaffah dan Khilafah, yang menjanjikan kemuliaan.

Kita sebagai ummat yang diutus Allah untuk menyebarkan Islam Kaffah yang Rahmatan lil alamiin, harus berupaya untuk dakwah di masyarakat serta membongkar upaya makar musuh-musuh Islam terhadap umat Islam. Dengan harus mengikuti thoriqoh (jalan) dakwah Rasulullah SAW yaitu dengan pemikiran dan bukan dengan kekerasan. Serta memiliki tujuan untuk menegakkan sendi-sendi kehidupan yang berdasarkan akidah Islam dibawah satu kepemimpinan yaitu dalam naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bisshowab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya