Satgas Bongkar Posko PMK Sangga Lima, Sempat Ada Kesalahpahaman

Pembongkaran dilakukan karena bangunan milik salah satu pemadam kebakaran yang ada di Banjarmasin ini berdiri tepat di atas Sungai Veteran

BANJARMASIN, KP – Upaya Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui Satgas Normalisasi Sungai dalam menanggulangi banjir terus dilakukan. Mulai dari pengerukan sungai, hingga pembongkaran bangunan yang dinilai mengganggu arus sungai.

Kali ini giliran bangunan milik Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemadam Kebakaran (PMK) Sangga Lima yang disasar oleh Satgas Normalisasi Sungai untuk dibongkar.

Ketua Ormas Sangga Lima, Sulaiman mengaku jauh sebelum pembongkaran dilakukan, anggota posko itu sudah membongkar sendiri sebagian posko tersebut.

Ia mengatakan bahwa bila memang program yang dicanangkan merupakan normalisasi sungai, maka pihaknya tidak keberatan.

“Tapi kami harap sesudah dibongkar, sungai juga dikeruk. Kemudian, jangan sampai nanti ada tebang pilih. Yang ini dibongkar yang lain tidak. Jadi tidak ada kecurigaan,” harapnya.

Lebih jauh, pembongkaran yang dilakukan kemarin sore baru sebagian. Pasalnya, dikarenakan permintaan pihak PMK Sangga Lima untuk melakukan pembongkaran sendiri.

Ketua Satgas Normalisasi Sungai, Doyo Pudjadi mengatakan, pembongkaran tersebut dilakukan karena bangunan milik salah satu pemadam kebakaran yang ada di Banjarmasin ini berdiri tepat di atas Sungai Veteran.

“Bangunan-bangunan ini jelas melanggar Perda (Peraturan Daerah) nomor 2 tahun 2007 Pasal 16 ayat 1. Sebenarnya mereka yang membuat bangunan di atas sungai memang melanggar dan bisa dikenakan denda,” ungkapnya pada awak media, Jumat (5/2) sore.

Menurutnya, momen banjir yang terjadi beberapa pekan yang lalu akan dijadikan sebagai taring untuk menunjukkan bahwa Pemko Banjarmasin memang tegas menangani banjir.

“Ini momen yang sangat bagus untuk memaksimalkan normalisasi sungai dengan melakukan pengerukkan dan pembongkaran bangunan di atas sungai. Masyarakat juga masih semangat untuk melakukan pembenahan,” ungkapnya.

Untuk di kawasan Sungai Veteran, pihaknya akan melakukan pengukuran mulai dari Klenteng Soetji Noerani akan ditarik lurus mengikuti data yang dimiliki Pemko.

Berita Lainnya

Siapkan Khotbah Khusus dan Pemusatan Isolasi

Minimnya 3T Jadi Sorotan Epidemiolog

1 dari 3.226

Sehingga jembatan dan bangunan lainnya yang kedapatan menghalangi sungai akan dibongkar. Termasuk jembatan yang dibangun dengan konstruksi urukan tanah.

“Sungai tidak boleh dipersempit dengan alasan pembangunan jembatan. Gara-gara itu, aliran sunga jadi tidak normal dan akhirnya meluap,” tandasnya.

Di sisi lain. Ketika pembongkaran Posko Ormas PMK Sangga Lima, sejumlah wartawan sempat bersitegang dengan aparat .

Perkaranya, lantaran aparat yang berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) spontan menjawab wartawan, berapa banyak titik yang bakal dibongkar di kawasan Jalan Veteran. Padahal pertanyaan itu sendiri, sebenarnya ditanyakan kepada Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Doyo Pudjadi, selaku Ketua Tim Satgas Normalisasi Sungai dan Penanganan Bencana Banjir.

Namun, saat pertanyaan itu disodorkan, sang aparat yang saat itu berada di samping Doyo, lantas menjawab. “Sampean cari sendiri, baru sampaikan ke kita. Jangan nanya gitu,”celetuknya.

Celetukan itu lantas dijawab dengan santai oleh sang wartawan, ia mengatakan data terkait titik mana saja yang bakal dibongkar, tentu dimiliki oleh tim.

Ketika wartawan kembali menyatakan bahwa Tim Satgas lah yang memiliki data, itu sang aparat dengan langsung memberikan jawaban bahwa si wartawan tidak usah ngotot.”Anda tidak usah ngotot sama saya,” cetusnya.

Melihat situasi kurang mengenakkan, rekan wartawan lainnya pun mencoba melerai dan menjelaskan. Namun, sang aparat justru meminta agar si wartawan memperlihatkan tanda pengenal atau id card kepadanya. Sayangnya, pada kesempatan itu, sang wartawan lupa membawa tanda pengenal.

“Tertinggal di Press Room Balai Kota,” ucap si wartawan dari salah satu radio di Banjarmasin, itu.

Hal yang sama juga dialami salah seorang wartawan lain dari media cetak. Padahal tujuannya hanya memberikan penjelasan bahwa dia dan rekan-rekannya tergabung dalam pressroom Pemko Banjarmasin.

Karena, Tim pastilah mempunyai data tersebut. Sehingga wajar jika ia bersama rekannya, menanyakan hal itu. Namun sayangnya, aparat meminta id card wartawan media cetak. Lantas saja, id card pun Ia tunjukan. Seketika Ia pun mengambilnya kembali. “Nih Id Card saya pak !,” cetusnya.

Ia juga mempertanyakan, apa maksud dari ajudan aparat yang bersangkutan merekam video saat percekcokan terjadi. Padahal jika untuk dokumentasi kegiatan, harusnya perekaman video tidak hanya saat kejadian itu saja. Melainkan sepanjang kegiatan yang menjadi inti laporan. “Saya khawatir potongan-potongan itu justru jadi fitnah bagi kami,” tegasnya. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya