Isra Mi’raj dan Ihwal Kebohongan

Oleh : Moh. Rofqil Bazikh
Mahasiswa Perbandingan Mahzab UIN Sunan Kalijaga

Sepintas agama memang tak jarang tidak masuk di akal. Orang-orang yang dengan tegas menggunakan akalnya atas peristiwa religus tentu akan banyak mempertanyakan banyak hal. Kita tahu bersama bagaimana Nabi Ibrahim selamat dari kobar api, Nabi Yunus keluar dari perut paus yang besar, atau bahkan Nabi Musa yang membelah lautan. Cerita-cerita tersebut bagi orang yang enggan untuk memikirkan akan semata-mata dikembalikan kepada kehendak Yang Kuasa. Namun, bagi orang orang yang dengan cerdas mempertanyakan tentu dikembalikan kepada ‘kehendak Yang Kuasa’ bukan sebuah jawaban. Untuk hal itu, saya menyimpulkan bahwa ada beberapa dimensi di dalam agama yang memang didesain untuk tidak masuk akal.

Rancangan tidak masuk akal di sini saya kira untuk melegitimasi bahwa manusia mempunyai sisi kelemahan. Ia bukanlah entitas yang sempurna dan mampu mencapai puncak pengetahuan terhadap hal di atas. Sehingga, ketidakmampuan untuk menjangkau hal tersebut menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan yang terbatas atau bahkan sempit. Meski, tidak jarang, orang-orang yang tidak mampu menjangkau cerita-cerita di atas akan menafikan eksistensi dari cerita itu. Kasarnya, cerita-cerita tersebut dikatakan bualan karena tidak masuk akal. Tentu, hal ini bisa diterima, sebab bagaimana pun tidak semua orang bisa menerima apa-apa yang tidak diimaninya. Namun, bagi orang Islam sendiri, ingkar terhadap hal tersebut adalah suatu pelanggaran yang sangat besar.

Berita Lainnya
1 dari 266

Realitanya, umat Islam—atau bahkan saya sendiri tepatnya—akan menerima apa-apa yang datang dari agama. Sifat kritis justru akan tumpul jika dikonfrontasikan dengan hal-hal religius. Maka, ihwal cerita-cerita di atas mungkin hanya sedikit dari umat Islam yang mempertanyakannya perihal keabasahan. Terlepas dari apakah cerita tersebut ada di dalam teks teologis atau pun tidak. Kalau tidak hendak mempertanyakan, saya kira perlu untuk kembali menelaah beberapa ibrah yang terkandung di dalamnya. Ada lagi, yang tidak akan pernah terlepas dari iman umat Islam, yakni perihal peristiwa perjalanan Nabi Muhammad ke langit, katakanlah begitu. Cerita ini memang masyhur dan diterima dengan lapang dada, bahkan bertahun-tahun diperingati.

Kita sepakat untuk menyebutnya Isra Mi’raj. Ini adalah perjalanan monumental bagi manusia paling agung. Ini sekaligus awal mula perintah kewajiban atas salat lima waktu. Mula-mula Nabi Muhammad di-israkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu diangkat ke langit menunggangi burak. Perihal fenomena ini ada sebuah perbedaan pandang, yakni apakah Nabi isra hanya ruhnya atau beserta jasadnya. Ketika Nabi kemudian menceritakan kepada orang sekitar, tentu banyak yang tidak percaya. Hal ini juga yang menjadi hujjah bahwa perjalanan Nabi beserta jasadnya. Sebab, andai hanya ruhnya tentu banyak yang menerima dan disebut sebagai mimpi belaka. Karena isra menggunakan jasad, maka banyak yang menolak. Bagaimana pun perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa muhal ditempuh dalam semalam. [Abul Hasan an-Nadwi, 2020: 234]

Pada masa itu Islam masih dalam tahap pengembangan. Sehingga, hal-hal tidak masuk akal akan sangat ditentang. Sesuatu yang semu keberadaannya tidak akan diterima secara mentah-mentah. Buktinya, sesudah Nnabi menceritakan itu banyak sekali orang Islam yang murtad. Tentu, hal tersebut dalam perspektif kita adalah sesuatu yang buruk. Namun, ada beberapa hal yang tidak boleh dilupakan di sini. Semestinya, hari ini perlu banyak belajar dari orang-orang yang ingkar pada masa itu. Bukan belajar ihwal keingkaran atau kemurtadan. Kita belajar bagaimana sesungguhnya menanggapi sebuah berita yang datang. Apalagi, di fase bertebarannya berita yang tidak jelas bahkan sampai dalam taraf kebohongan atau hoaks. Perihal hoaks tentu tidak dapat disanggah kembali, hal ini sudah menjadi rahasia, atau bahkan aib, bersama. Meski, orang-orang sekitar nabi masa itu tidak menyelidiki melainkan menolak secara gamblang.

Sebagaimana dicatat UNESCO, Indonesia masih menjadi negara dengan minat baca yang rendah. Rendahnya minat baca juga menentukan terhadapnya mudahnya mengambil sikap dan terburu-buru dalam menelan kabar yang beredar. Di titik ini, saya perlu menekankan bagaimana kita belajar kembali pada sekitar masa Isra Mi’raj Nabi. Hal yang diklaim negatif hari itu harus direfleksikan kembali hari ini. Kita, terlebih dahulu harus menyelidiki keberadaan kabar yang beredar. Maraknya informasi di satu sisi memang menambah kemudahan. Namun, sisi lainnya justru terdapat sebuah ketimpangan yang besar. Dualisme yang bertentangan ini yang sering tampak ke permukaan. Begitulah, sekali-kali dan di waktu tertentu kita harus menengok ke masa lalu. Belajar tidak hanya dari hal-hal yang positif, namun dari sebaliknya. Semua dilakukan agar tidak menjurumuskan kita terhadap lubang gelap dan jauh dari nilai-nilai agamis. [*]

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya