Hijrah Wujudkan Harapan Indonesia

Oleh : Mariana, S.Pd
Guru MI Al Mujahidin II Banjarmasin

Umat Islam seluruh dunia secara serentak memperingati momen 1 Muharram Tahun Baru Hijriyah. Momen di mana umat Islam sangat berbahagia menyambut datangnya Tahun Baru Islam ini. Setiap dari mereka menginginkan perubahan yang hakiki terutama negeri mereka sendiri yaitu Indonesia.

Namun bagaimana memaknai hakikat hijrah dan esensinya untuk masa sekarang. Agar peringatan hijrah tidak hanya sekedar seremonial tahunan. Momen ini diharapkan bisa menjadi tonggak penting perubahan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw menjadi garis pembeda antara kehidupan jahiliah di Makkah dengan tegaknya peradaban Islam di Madinah.

Banyak orang di berbagai kalangan di Indonesia berhijrah alias mengubah arah kemudi hidupnya, mulai kalangan artis, profesi hingga milenial muda. Yang dulunya tidak berkerudung dan buka-bukaan aurat, sekarang berpakaian tertutup mengenakan kerudung dan jilbab, ada juga yang bercadar. Dari yang dulunya bergaya hidup hedonis, sekuler, dan suka pamer, sekarang lebih bersahaja bahkan suka berdonasi untuk orang-orang miskin dan membutuhkan.

PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia merilis temuan baru fenomena gerakan hijrah di kalangan anak muda di Indonesia. Penelitian bertajuk “Tren Keberagamaan Gerakan Hijrah Kontemporer” ini dirilis oleh koordinator riset CONVEY Indonesia Windy Triana, M.A secara daring Senin (1/2/2021).

Penelitian ini melakukan analisis terhadap 1.237 konten Instagram dan 180 video YouTube. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara mendalam terhadap 24 tokoh dan pengikut komunitas yang terdiri dari 16 laki-laki dan 8 perempuan. Sampel komunitas yang dipilih adalah SHIFT Pemuda Hijrah, Yuk Ngaji, Terang Jakarta, Musawarah, dan The Strangers Al Ghuroba (ppim.uinjkt.ac.id, 1/2/2021).

Hijrah individual hingga komunitas sudah menjadi pemandangan yang umum. Apa jadinya jika yang berhijrah adalah sebuah Negara. Dari negara yang hedonis sekuler menjadi negara yang islami secara kafah. Berharap Indonesia bisa seperti itu.

Indonesia dikenal sebagai Negeri Zamrud Khatulistiwa, negeri muslim yang besar di dunia dengan beragam kekayaan sumber daya alam dan suku, agama, ras serta budaya. Bermacam-macam potensi yang dimiliki bangsa ini tidak juga menjadikan Indonesia sebagai negeri Indonesia masuk dalam perangkap utang ribawi yang dampaknya berkepanjangan.

Posisi utang pemerintah per akhir Juni 2021 berada di angka Rp6.554,56 triliun. Komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp 842,76 triliun (12,86 persen) dan SBN sebesar Rp 5.711,79 triliun (87,14 persen). No free lunch, pinjaman utang dari negara asing menjadikan Indonesia bergantung kepada negara lain.

Aset-aset vital negara juga dijual kepada asing dengan bagi hasil yang kecil untuk Indonesia sendiri. Sektor-sektor strategis seperti pertambangan dan energi banyak dikelola dan dikuasai oleh pihak asing.

Akhirnya, bukan bangsa Indonesia yang makmur dan menikmati semua kekayaan sumber daya yang dimiliki. Besarnya dana investasi asing membuat asing semakin lama bercokol di Indonesia.

Mental korupsi di tubuh birokrasi juga menjadi bahaya laten yang sulit diberantas. Karena sistem kapitalisme sekuler membuka lebar kran korupsi bahkan memfasilitasinya. Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi yang dirilis Transparency International merosot di peringkat 102 yang sebelumnya di peringkat 85.

Hijrah dapat diartikan berpindah dari kondisi yang buruk ke tempat dan kondisi yang lebih baik, dari kejahiliahan dan kemaksiatan menuju cahaya kebenaran, dari kehidupan sistem sekuler-kufur menjadi Islami yang menerapkan nilai-nilai Ilahi.

Sistem kapitalisme dan sosialisme telah gagal membawa bangsa Indonesia menuju kemakmuran. Rakyat masih merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan pokoknya. Ekonomi semakin sulit, ditambah dengan kondisi pandemi yang belum usai.

Selain tidak membawa kemakmuran, sistem kapitalisme dan sosialisme juga tidak membawa keberkahan hidup. Manusia masih bergelimang maksiat kepada Allah Swt dan itu malah dianggap sebagai hak asasi. Mereka menganggap, asalkan perbuatan mereka tidak merugikan orang lain maka sah-sah saja dilakukan.

Ini juga menunjukkan bahwa sistem kapitalisme dan sosialisme tidak menjaga kemuliaan akhlak manusia. Maka wajarlah, perilaku culas korupsi buah dari penerapan kapitalisme dan sosialisme yang masih menjadi masalah besar bangsa Indonesia tak bisa dihentikan.

Berita Lainnya

Hati yang Gelisah

Jalan Terjal Penghapusan Kekerasan Seksual

1 dari 332

Di negeri ini, panggung politik nyaris dipenuhi para aktor berkarakter licik oportunistik. Mereka bersenang-senang di atas kursi kekuasaan, seraya menindas rakyat dengan kebijakan tak berperasaan.

Bahkan pun di tengah wabah yang kian menjadi. Kezaliman demi kezaliman terus dipertontonkan. Mereka tempatkan kepentingan rakyat jauh di bawah kepentingan korporasi. Dan urusan nyawa rakyat pun mereka posisikan lebih rendah dari urusan pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, kondisi ekonomi pun nyatanya tak juga membaik. Negeri yang kaya raya justru makin tenggelam dalam kubangan utang ribawi. Pertumbuhan yang dibangga-banggakan, nyatanya hanya dinikmati segelintir orang, bahkan korporasi asing.

Di aspek moral, generasi mudanya pun kian kehilangan jati diri. Segala bentuk budaya rusak, bebas berkembang tanpa pencegah. Free sex, perilaku hedonis, miras, napza, bahkan penyimpangan seksual seakan menjadi gaya hidup yang diwajarkan.

Begitu pun di bidang hukum. Berbagai bentuk kejahatan dan kriminalitas kian merajalela. Termasuk korupsi yang dilakukan para pejabat dan berbagai kejahatan yang dilakukan para pemilik uang di negeri ini.

Wajar jika rasa aman dan keadilan makin jauh dari harapan. Karena sistem hukum yang diterapkan nyatanya tak mampu menjadi pilar penjaga. Bahkan bisa dibeli oleh uang dan kekuasaan.

Adapun dalam konstelasi politik internasional, alih-alih bisa memimpin peradaban dunia, umat dan bangsa ini tampak kian tak berdaya. Bahkan terus didikte kepentingan asing dalam berbagai aspek kehidupan mereka.

Saatnya Indonesia bangkit dari keterpurukan ini dan saatnya rakyat sejahtera dan tidak ada lagi penderitaan yang tiap harinya ada rintihan kelaparan dan kemiskinan. Cara Indonesia berhijrah secara sistemis dari kondisi yang menyengsarakan menuju kondisi yang menyejahterakan yaitu

Pertama, harus ada kesadaran umum bahwa ideologi kapitalisme dan sosialisme beserta turunannya telah nyata terbukti gagal membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Yang dihasilkan dari penerapan kedua ideologi ini justru ketimpangan ekonomi antara sinkaya dan si miskin, kemaksiatan yang merajalela, dan kesengsaraan hidup sebagaimana fakta dan sejarah yang kita lihat bersama.

Kedua, adanya tekad kuat dari kaum muslimin bersatu dengan ikatan akidah kepada Allah tanpa sekat nasionalisme, meskipun berbeda harokah dakwah dan organisasi. Kaum muslimin harus legowo mencari unsur persamaan, bukan perbedaan mazhab yang ada. Juga menyiapkan diri menghadapi risiko dakwah yang ada.

Ketiga, mengangkat (membaiat) seorang pemimpin yang akan memimpin kaum muslimin di seluruh dunia di bawah naungan Negara Islam yang akan membentuk struktur pemerintahan yang baru dan menyelesaikan permasalahan negeri-negeri muslim yang bergabung dengannya, apakah terkait utang jahiliyah dengan negara kafir di masa lalu atau perjanjian-perjanjian lainnya.

Keempat, Negara Islamiyah membentuk struktur instansi negara mulai dari mua’win tanfidz, mu’awin tafwidh, departemen-departemen, gubernur (wali), amil, dan seterusnya sampai ke level setara RT/RW yang efektif dan efisien dalam bekerja. Semua mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya.

Kelima, harus ada partai-partai Islami yang nanti berfungsi mendakwahkan Islam serta mengoreksi penguasa Islam di wilayah negeri jika sudah terbentuk.

Hijrah sistemis memang tidak semudah membalikkan telapak. Namun sejatinya Indonesia bisa melakukannya. Harus ada political will yang besar dari simpul-simpul umat di Indonesia untuk berhijrah, mengganti sistem kehidupan kita menuju sistem Islam kafah yang telah menjadi opini umum di tengah masyarakat. Kesadaran menuju perubahan hakiki ini bukan hanya membawa keberkahan, tetapi juga adalah kewajiban dari Allah Swt..

Oleh karenanya menjadi tugas kita untuk meluruskan kembali makna hijrah bagi umat Islam. Bahwa hijrah bukan sekadar berpindah keadaan, apalagi sekadar urusan individual. Tapi hijrah adalah momentum bagi umat Islam menuju kebangkitan hakiki, dengan jalan mengambil Islam sebagai ideologi, bukan Islam yang dimoderasi.

Maka hijrah tak boleh salah arah, agar momentum kebangkitan yang kerap kita peringati tak kembali lewat seperti yang sudah-sudah. Umat Islam harus belajar sungguh-sungguh memahami gambaran Islam sebagai ideologi.

Karena itulah kunci kembalinya peradaban emas Islam yang akan menggantikan peradaban rusak yang tegak hari ini. Saatnya Islam memimpin dunia dan menerapkan Islam secara kaffah kesemua lini kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya