Nasib Porter Pelabuhan di Tengah Pandemi

Banjarmasin, KP – Sejak merebaknya wabah covid-19 banyak sektor yang menjadi imbasnya terutama segi penghasilan, lebh lebih diperlakukan Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Salah satunya usaha jasa layanan angkut barang penumpang (Porter) di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Terbukti dengan jumlah Porter yang terus berkurang setiap tahunnya. Tercatat ada sebanyak 42 orang dan sekarang hanya berjumlah 15 Porter saja, itupun kadang bekerja, kadang tidak.

Seperti penuturan Syamsul, seorang porter di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Sekarang sangat berbeda dengan dulu, Sebelum pandemi kapal yang datang ramai penumpang dan porter sangat banyak.

“Sekarang ini penumpang kapal yang menggunakan jasa porter sangat sedikit, akibatnya teman –teman banyak yang berhenti dan mencoba peruntungan dilain,” kata Syamsul yang sudah berkecimpung selama 16 tahun lebih sebagai jasa porter pelabuhan. Jumat (27/8/2021) sore.

Ditambahkannya pula, pekerja Porter dipelabuhan rata-rata bertempat tinggal jauh. Akibatnya harus keluar modal dulu kalau mau ke Pelabuhan, belum lagi penghasilan yang tidak pasti jadi Porter.

“Pekerja porter hanya mengandalkan otot untuk mengangkut barang, baik mengandalkan bahu, atau juga gerobak dorong saat membawa barang penumpang kapal,”katanya.

Kecuali, momen menjelang lebaran, para Porter sedikit bernafas lega.

“Hanya bulan Ramadan, mendekati lebaran, penghasilan kami lumayan,” terang Syamsul.

Hal yang sama pula dituturkan Fahrul, yang sudah 10 tahun lebih menjadi Porter di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Baru dua tahun terakhir ketika pandemi , jumlah penumpang kapal lebih sedikit, sehingga berdampak terhadap penghasilannya sebagai Porter.

Berita Lainnya
1 dari 930

“Terlebih saat ini diberlakukan PPKM, penumpang kapal sangat sepi,”ucapnya.

Walau pun demikian Fahrul tetap setia menawarkan diri untuk mengangkut barang kepada para penumpang.

“Mau gimana lagi ya, sekarang memang sepi penumpang kapal, apa lagi bila ada larangan kapal beroperasi, enggak kerja kami, gimana nasib keluarga dirumah” ucapnya.

Karena penghasilan yang tidak menentu sebagai porter, Fahrul nyambi sebagai tukang ojek.

“Kalau lagi tidak ada kapal, jadi tukang ojek, buat tambahan. Kalau mengharap penghasilan Porter rasanya saat ini tidak cukup. Dalam satu kali mengangkut barang mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu itupun jika ada penumpang yang mau,” jelasnya.

Tak jauh pula yang dikeluhkan Adi rekan satu profesi Fahrul, dengan upah angkutan yang mereka dapat, tidak sebanding dengan risiko pekerjaan yang dilakukan.

“Kalau saat mengangkut barang terjatuh, atau sakit karena kelelahan bekerja ya tangung sendiri masing-masing kami,” keluhnya.

Para Porter pun berharap pihaknya mendapat jaminan perlindungan saat bekerja, dari pemangku kepentingan terkait.

“Hendak kami ada perlindungan kerja dari pihak terkait, karena kerjaan kami ini risikonya besar, terlebih pandemi ini cepat berlalu dan kembali normal hinga penumpang bisa banyak,” harapnya. (Zak/K-1))

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya