Trik Sukses Mengajar Pembagian untuk Siswa SD

Oleh : Agus Kriswanto, S.Pd
Kepala Sekolah SDN Purwodadi, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu

Operasi hitung pembagian merupakan operasi hitung dalam Matematika yang kurang disukai siswa. Karena operasi hitung ini dianggap paling sulit oleh siswa, terutama oleh siswa yang kesulitan mengerjakan operasional perkalian. Rata-rata siswa yang mengalami sulit mengerjakan perkalian, dia pasti menyatakan sulit pula untuk operasi hitung pembagian.

Pembagian adalah merupakan kebalikannya dari operasi hitung perkalian. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), pembagian adalah proses, cara, perbuatan membagi atau membagikan; atau hitungan membagi. Dan pada pengoperasiannya, pembagian digunakan untuk menghitung hasil atau jumlah pada suatu bilangan terhadap pembaginya. Ketika siswa belajar pembagian, maka tidak akan asing dengan tanda bagi berupa “titik dua” atau ( : ) bisa juga menggunakan tanda “garis miring” atau (/), atau pun tanda “per” (?).

Mengajarkan pembagian pada siswa yang perlu dilakukan oleh guru pertama kali adalah menanamkan konsep pembagian kepada anak yang baru belajar berhitung; untuk kelas rendah atau yang tidak hafal perkalian bilangan dasar tentu tidaklah mudah. Mengajarinya operasi hitung pembagian memerlukan kesabaran tinggi, terutama mengajari siswa yang memiliki daya serap dan daya nalar yang lemah.

Konsep pembagian adalah pengurangan berulang oleh bilangan pembagi sampai sisanya 0. Banyaknya bilangan pembagi merupakan hasil pembagian. Misalnya 18:2 =18-2-2-2-2-2-2-2-2-2=0, jadi 18 : 2 = 9 (karena angka 2 sebagai pengurang tersebut sebanyak 9 kali). Sebagai awal pembelajaran pembagian, biasanya diberikan contoh bilangan yang jika dibagi tidak bersisa atau sisa 0.

Konsep pembagian yang perlu disampaikan tersebut tentunya dengan mediasi barang yang ada di sekitar. Barang yang dikenal oleh siswa di lingkungannya. Bisa pada saat pembelajaran tentang pembagian, siswa membawa barang kongkrit/nyata, diharapkan dengan adanya contoh benda kongkrit siswa mudah memahami penjelasan guru tentang pembagian. Kalau pun tidak ada benda kongkrit untuk demonstrasi tentang pembagian maka guru bisa dengan gambar atau visual. Sebagai contoh dapat digambar di papan tulis; misalnya permen, kelereng dll. Misalnya disampaikan pada siswa; Anak-anak pernahkah kalian memiliki 10 permen? Jika punya, misalnya 10 permen tersebut kemudian dibagikan kepada 5 orang teman kalian dengan sama rata, maka masing-masing anak mendapat berapa permen? Jawabannya adalah 2 permen. Konsep itulah yang disebut pembagian.

Kalau ditulis dengan notasi Matematika adalah 10 : 5 = 2 (terbukti digunakan atau perkenalkan pada siswa tanda “titik dua” atau ( : ) sebagai tanda operasional pembagian. Perlu dijelaskan pula pada siswa bahwa 10 : 5 = 2, kalau ditulis sebagai 2 X 5 = 10 (terbukti, bahwa pembagian adalah kebalikan dari operasi hitung perkalian).

Berita Lainnya
1 dari 648
loading...

Bisa mencontohkan lagi pada anak-anak, misalnya; Adi memiliki kelereng sebanyak 36 hutir kelereng. Kelereng tersebut dibagikan kepada 9 temannya. Mendapat bagian berapa butir kelerengkah masing-masing temannya tersebut? Jawabannya adalah 4 butir kelereng. Dengan notasi Matematika bisa ditulis 36 : 9 = 4 maka kalau ditulis dalam bentuk perkalian menjadi 4 X 9 = 36. Selanjutnya siswa yang sudah hafal perkalian bilangan dasar 1 sampai 10 tentu akan lebih mudah belajar operasi hitung pembagian. Karena merasa mudah dan bisa, tentu siswa tersebut akan semangat dan percaya diri dalam mengikuti pembelajaran Matematika yang disampaikan oleh guru kelasnya. Demikian pula, jika guru menyampaikan lagi kepada anak-anak tentang hafalan perkalian bilangan dasar 1 sampai 10 itu sangatlah penting, tentu belum terlambat. Sehingga akan memotivasi siswa dalam kelas tersebut yang belum hafal perkalian bilangan dasar untuk segera menghafalnya.

Mengajarkan operasi hitung pembagian pada siswa, memang ada hubungannya dengan materi pembelajaran sebelumnya yaitu operasi hitung perkalian. Jika siswa hafal perkalian bilangan dasar 1 sampai 10 maka siswa akan mudah menerima atau mengikuti pelajaran operasi hitung pembagian.

Setelah siswa paham dan mengerti tentang cara mengerjakan pembagian bilangan yang menghasilkan bilangan yang pas artinya tidak bersisa, maka selanjutnya siswa juga perlu diajarkan tentang pembagian bilangan yang memiliki sisa. Misalnya 10 : 3 = … ( jawab 10 : 3 = 3 sisa 1 ) karena 3 X 3 = 9. Jadi kalau 10 : 3 = 3 sisa 1. Contoh lagi misalnya 30 : 4 = … (jawab 30 : 4 = 7 sisa 2) karena 7 X 4 = 28 Jadi 30 : 4 = 7 sisa 2 dan seterusnya.

Siswa perlu dijelaskan, bahwa tidak semua bilangan itu habis dibagi. Seperti halnya contoh diatas yaitu bilangan yang dibagi ada yang bersisa. Setelah siswa dijelaskan tentang pembagian bilangan; bilangan kalau dibagi ada yang pas dan ada yang bersisa. Selanjutnya Metode pembagian yang umum dipakai adalah metode pembagian bersusun (porogapit, bhs Jawa). Mengajari metode pembagian bersusun kepada siswa membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang lebih, serta trik-trik yang memudahkan anak untuk memahaminya.

Intinya dalam mengajarkan operasi hitung pembagian, jika siswa tidak hafal perkalian bilangan dasar, maka jelas bahwa siswa tersebut akan merasa kesulitan dalam mengikuti pembelajaran tentang pembagian. Dalam hal ini guru seharusnya tetap sabar dalam mengajar materi pembagian pada siswa. Ini memang sebuah dilemma bagi guru kelas. Dan akan jadi PR bagi guru tersebut untuk bisa menyampaikan materi operasi hitung pembagian, yang sekiranya mudah dan bisa dipahami oleh siswa secara klasikal. Kira-kira dengan cara apa dan strategi yang bagaimana? Namun, berdasarkan pengalaman penulis dapat disimpulkan bahwa siswa akan mengalami kesulitan mengikuti belajar tentang pembagian, kalau siswa tersebut tidak hafal perkalian bilangan dasar 1 sampai 10. Maka dalam hal ini seorang guru harus menegaskan pada siswa harus hafal perkalian bilangan dasar.

Jika siswa sudah merasa mengalami kesulitan dalam belajar operasi hitung pembagian, maka yang dialami siswa adalah adanya perasaan takut mengikuti pelajaran Matematika. Siswa tidak suka pelajaran Matematika. Siswa akan takut dengan guru kelasnya. Dan siswa cenderung akan minder atau memiliki perasaan rendah diri terhadap teman-temannya.

Untuk tidak terjadi hal yang demikian pada siswa, maka guru harus tetap sabar dan telaten dalam membimbing dan mengajar siswa secara profesional. Membuat suasana pembelajaran menyenangkan; tetap sejuk dan ramah. Sehingga siswa akan belajar dengan penuh semangat hingga bisa dan suka pelajaran Matematika.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya