Pentingnya Edukasi Budi Pekerti dengan Konten Digital

Oleh: Anisah Rizkina
Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Universitas Sari Mulia

Edukasi atau yang biasa disebut pendidikan atau pembelajaran adalah cara untuk menabah maupun merubah pola pikir individu dengan menjadi harapan bangsa. Dengan perilaku yang terlihat dari perkataan maupun perbuatan berdasarkan nilai, norma dan moral yang berlaku di Indonesia. Konten berkontribusi dalam penyampaian informasi ke medai terutama media digital untuk penguna yang berlangganan maupun menyukai topik tertentu. Konten adalah suatu penyampaian ekspresi melalui beberapa media seperti musik, blog, vlog dan lain-lain dengan bertujuan untuk mengekspresikan diri, promosi, pemasaran dan lain-lain. Konten digital mempunyai beragam kombinasi yang diciptakan dengan harapan dapat dibaca dan mudah dibagikan melalui platform media digital.

Mudahnya pembuatan dan pengaksesan dalam konten digital begitu maraknya juga dalam penyebaran konten hoax di platform digital. Di era sekarang perlu memilah konten yang dapat dipercaya maupun baik untuk diri. Maka dari itu perlu memperkenalkan dan menanamkan nilai budi pekerti menggunakan media konten. Menurut Haidir, penanaman budi pekerti bertujuan untuk mengembangkan nilai, sikap dan prilaku anak usia dini yang memancarkan ahlak mulia/budi pekerti luhur. Hal ini mengandung arti dalam menanamkan budi pekerti tersebut adalah nilai-nilai ahklah mulia ke dalam diri anak yang kemudian terwujud dalam tingkah laku.

Berita Lainnya
1 dari 703
loading...

Menurut Murad Maulana, era digital sekarang tentu telah muncul struktur tatanan baru dimana proses komunikasi telah berubah, dan pada akhirnya cara berperilakupun tentu berubah sehingga anak-anak yang lahir sekarang ini tidak ditanamkan budi pekerti sejak dini, maka akan terjadi adalah dehumanisasi. Era digital, dimana internet sebagai tumpuan lingkungan sosial yang begitu besar tanpa ada pembatas apapun. Jika diibaratkan internet itu bagaikan hutan belantara yang apabila orang masuk ke dalamnya tanpa membawa kompas, maka yang terjadi adalah tersesat. Kompas diibaratkan sebagai agama, pegangan untuk selalu menuju ke arah jalan yang benar. Sementara agama akan selalu mengajarkan kebaikan, perbuatan terpuji. Tapi dengan sikap seperti itu membuat lunturnya nilai-nilai luhur yang mencerminkan perbuatan terpuji. biasanya mereka yang membuat konten pandai bermain pola pikir pembaca atau penonton yang bisa saja membuat mereka berkomentar negatif akibat kurang bisa menahan emosi. Maka dari itu dikatakan pentingnya budi pekerti agar tingkah laku yang baik dan tidak baik dapat terkontrol.

Wakil Ketua Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia Wuri Ardianingsih mengungkapkan, orang tua harus mengembangkan nilai berbudi luhur dalam diri anak sejak dini, dan diimplementasikan dalam keseharian, agar tidak menyimpang saat melakukan aktivitas di dunia maya. “Bagaimana anak-anak bisa komunkasi positif di dunia maya? Perlu mengembangkan nilai luhur di diri anak supaya bisa menyebarkan kebaikan, serta hal positif, itu butuh banyak nilai kominikasi yang positif. Berbudi pekerti, assertive dalam berkomunikasi, artinya dia paham hak dia dan orang lain butuh dipenuhi dan dihormati. Selain itu memegang nilai untuk stand up, untuk sendiri, dan orang lain”. Jika dirumuskan maka budi pekerti sebagai pondasi dasarnya, kemampuan literasi digital yang mumpuni sebagai kemampuan teknisnya, perilaku pencarian informasi sebagai proses pembuktian kebenaran dan hasil yang positif sebagai hasil akhir dalam lingkungan sosial yang begitu besar dijagat maya tanpa batas ini atau dengan apa yang kita sebut internet.

Pada kesempatan ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga juga mengajak orang tua untuk mendampingi anak-anak selama berinternet. Bintang mengimbau agar menjadikan anak partner diskusi yang setara. Google selaku platform digital terbesar di dunia mendukung orang tua dan guru dengan menghadirkan alat dan program yang dapat mengoptimalkan kegiatan internet berkualitas. Head of Public Affairs Google Asia Tenggara Ryan Rahardjo mengungkapkan, pihaknya pun menghadirkan program-program pendididikan yang membantu anak membangun literasi digital. Selain itu, pihaknya juga menghadirkan sarana pengawasan bagi orang tua kepada anak di dunia internet.”Salah satunya aplikasi Family Link dari Google, dapat membantu orang tua menciptakan kebiasaan yang sehat untuk anak mereka dan erta, mengawasi anak saat menggunakan internet di sebagian besar perangkat Android atau Chromebook,”.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya