Digitalisasi Keilmuan Guru
(Refleksi Hari Guru Nasional)

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Seperti yang diketahui bersama bahwa Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap 25 November 2022. HGN ini bertujuan untuk menghormati peran dan jasa-jasa guru di Indonesia. Guru sebagai pendidik menjadi bagian penting dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Guru juga menjadi tonggak utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah guru sangat layak disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Menarik ketika disimak tema yang diangkat dalam HGN 2022, yaitu “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Dalam mewujudkan merdeka belajar, tentunya para guru sangat dituntut memiliki inovasi yang selalu mencerdaskan anak didik terlebih di era digital saat ini.

Di era yang serba digital saatini, merupakan era yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi. Tanpa disadari, para guru sudah melebur pada era modern. Di era tersebut, semua hal dapat diakses tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Seorang guru hanya cukup menggenggam smartphonenya dengan akses internet, maka akan segera mengetahui kondisi dan informasi terbaru dengan cepat dan mudah tanpa menunggu bertahun-tahun. Kemajuan seperti ini menjadikan anggapan bahwa segala sesuatu yang mustahil akan menjadi mungkin dan lumrah dimanfaatkan oleh semua orang.

Salah satu tokoh terkemuka yang bernama Alvin Toffler dari Amerika, menegaskan bahwa era kemanusiaan sebenarnya terdiri dari tiga fase. Pertama, fase masyarakat agraris, kemudian fase masyarakat industri dan masyarakat informasi. Jika disesuaikan dengan kondisi sekarang, maka hari ini telah memasuki fase masyarakat informasi, fase dimana terjadi pertukaran maupun penggunaan teknologi komunikasi dengan durasi dan intensitas yang tinggi serta informasi menjadi bagian inti dari kebutuhan manusia.

Hadirnya teknologi saat ini tentu tak bisa dibendung lagi, mau tak mau seluruh aspek kehidupan harus mampu menerima dan merespon dengan baik. Salah satunya yakni sisi pendidikan atau proses digitalisasi pendidikan. Proses ini tentu berkaitan dengan aspek literasi digital.

Berita Lainnya
1 dari 703
loading...

Menurut maknanya, digitalisasi merupakan proses perubahan sesuatu menjadi digital atau bisa didefinisikan sebagai serangkaian proses digitasi, dimana terdapat tahapan pengambilan pada benda fisik serta proses analog menjadi bentuk digital. Sedangkan, literasi digital adalah kemampuan pada aspek pengetahuan dan kecakapan individu pada penggunaan media digital, jaringan internet maupun alat komunikasi pada proses penemuan informasi lalu kemudian dievaluasi.

Fenomena digitalisasi pendidikan dianggap sebagai bentuk rasa syukur. Sebab keberadaan teknologi tersebut mempermudah berbagai pekerjaan khususnya bagi guru dan peserta didik. Dengan adanya teknologi, pendidikan tak lagi memerlukan tempat yang luas untuk memulai forum. Cukup dengan menampilkan wajah sebagai adab dalam majelis, maka anda sudah bisa merasakan suasana belajar. Contoh dari digitalisasi pendidikan yang positif yakni terlaksananya kebijakan PJJ yang mengusung konsep penggunaan teknologi sebagai bentuk dari penjagaan protokol kesehatan. Kemudian, para guru sendiripun juga mendapat kemudahan dalam mengisi penilaian maupun memberikan tambahan dukungan bagi pembelajaran peserta didik. sebab segala sesuatu dapat dijalankan secara online.

Dengan adanya teknologi, pendidikan tak lagi memerlukan tempat yang luas untuSelain itu, digitalisasi pendidikan juga menjadi solusi yang cukup ampuh bagi beberapa pendidikan yang tidak memiliki banyak ruang untuk menyimpan arsipnya. Semua arsip dapat dibuat dan diunggah ke media digital sehingga memudahkan penyimpanan.

Selain itu, konsep ini juga menjadikan lembaga dapat mengurangi anggaran untuk melakukan pembangunan sebab dana yang dibutuhkan cukup dialokasikan pada perawatan atau maintenance bagi sistem online yang sedang digunakan.

Selain itu, fenomena digitalisasi semakin meningkat seiring berkembangnya kebutuhan para peserta didik terhadap informasi yang ada. Jika dahulu guru dan peserta didik harus berjalan ribuan kilo dan bahkan hanya bisa mendapatkan satu materi saja, namun hari ini kecanggihan teknologi mengubah segalanya. Bahkan sebelum peserta didik diajarkan topik tersebut, mereka bisa mencari tahu terlebih dahulu untuk mempelajarinya.

Sehingga sekolah dapat menjadi tempat untuk wadah konfirmasi keilmuan. Dengan begitu, maka peserta didik dapat belajar lebih optimal lagi dibandingkan hanya sekedar menggunakan teknologi untuk hal-hal tak bermanfaat.

Tak ada alasan bagi para guru untuk tidak mengadaptasi teknologi dalam proses belajar-mengajar sehari-hari. Guru harus bertanggung jawab untuk mempersiapkan Generasi Indonesia Emas, suatu generasi yang sarat dengan SDM IPTEK. Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2022, Berkah selalu ilmu yang engkau ajarkan, Aamiin.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya