PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kalimantan Selatan menghadirkan pemandangan yang patut diapresiasi.
Bagaimana tidak ratusan personel dari berbagai instansi turun langsung membersihkan Sungai Martapura. ASN dan pegawai non-ASN di lingkungan Sekretariat DPRD Kalsel juga bergotong royong membersihkan halaman, taman, hingga saluran drainase yang tersumbat. Semangat kolaborasi itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan masih hidup.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah semangat itu akan bertahan setelah spanduk peringatan diturunkan?
Setiap tahun, aksi bersih-bersih digelar. Setiap tahun pula masyarakat menyaksikan tumpukan sampah yang kembali mengotori sungai dan saluran air.
Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan terletak pada kurangnya kegiatan bersih-bersih, melainkan pada lemahnya perubahan perilaku dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Sungai Martapura bukan sekadar bentang alam. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat Banua. Sungai ini menjadi jalur transportasi, sumber penghidupan, ruang wisata, sekaligus identitas Kalimantan Selatan.
Ketika sungai dipenuhi sampah plastik dan limbah, yang tercemar bukan hanya airnya, tetapi juga wajah daerah yang selama ini dikenal sebagai Kota Seribu Sungai.
Pernyataan Plh Sekdaprov Kalsel Subhan Nor Yaumil bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremonial patut menjadi perhatian serius.
Sebab, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah kegiatan berakhir. Membersihkan sungai selama beberapa jam jauh lebih mudah dibanding menjaga agar sungai tetap bersih sepanjang tahun.
Begitu pula aksi yang dilakukan Setwan Kalsel. Pembersihan drainase yang tersumbat oleh pasir dan tanah membuktikan bahwa masalah lingkungan sering kali muncul akibat kurangnya pemeliharaan rutin.
Ketika saluran air tersumbat, risiko genangan dan banjir meningkat. Artinya, menjaga lingkungan bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah harus menjadikan gerakan kebersihan sebagai program yang terukur dan berkelanjutan.
Edukasi kepada masyarakat harus diperkuat, pengawasan terhadap pembuangan sampah diperketat, dan fasilitas pengelolaan sampah harus terus ditingkatkan. Di sisi lain, masyarakat juga harus berhenti memandang sungai sebagai tempat pembuangan akhir yang gratis dan mudah.
Hari Lingkungan Hidup seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan. Keberhasilan tidak diukur dari banyaknya peserta yang turun ke sungai dalam satu hari, melainkan dari berkurangnya sampah yang masuk ke sungai setiap hari.
Jika sungai tetap kotor setelah berbagai aksi digelar, maka yang perlu dibersihkan bukan hanya bantaran sungainya, tetapi juga cara pandang kita terhadap lingkungan. Sebab sungai yang bersih tidak lahir dari seremoni, melainkan dari disiplin kolektif yang dijaga tanpa mengenal momentum. Selamat Hari ingkugan Hidup.












