Iklan
Iklan
OPINI

PEREMPUAN, RAMADHAN & INFLASI

×

PEREMPUAN, RAMADHAN & INFLASI

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rofi Zardaida
​Wartawan Senior,Wirausaha, Konsultan PR & Brand
Management, Aktivis Bidang Pangan & Pertanian

Tugas perempuan sebagai istri dan ibu sangatlah besar. Tanggung jawab dan eksistensinya bahkan digambarkan bagai tiang negara, sebagai bentuk manifestasi yang mencerminkan kekokohan figur dan fungsi perempuan dalam pembentukan kualitas generasi dan peradaban.

Di Indonesia, penduduk perempuan mencapai 49,5 persen dari total penduduk yang mencapai 273 juta. Jumlah populasi yang besar ini merupakan asset berharga yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Dibidang perekonomian misalnya, peran perempuan semakin hari menunjukkan banyak perbaikan. Dalam skala kecil, keberadaan perempuan yang hanya aktif diwilayah domestik seputar dapur, pasar dan sekolah anak saja pun diyakini memiliki kemampuan mengendalikan pertumbuhah ekonomi dan inflasi. Wow, sesakti itukah makhluk indah ciptaan Allah ini ? Mari kita buktikan.

Mumpung sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, saya mengajak anda untuk melihat perempuan dalam perspektif baru, dalam menjawab tantangan peningkatan konsumsi selama puasa yang berujung pada peningkatan permintaan. Menurut AC Nielsin, penjualan barang termasuk pangan dan pakaian mengalami peningkatan sebesar 9,2%. Angka ini adalah sebuah ironi, alih-alih Ramadhan harusnya tingkat konsumsi menurun karena muslim tengah berpuasa, namun mengapa ternyata justru 9,2% lebih banyak konsumsinya. Mari kita berprasangka baik bahwa bisa jadi sedekah kita selama Ramadhan membuat tingkat konsumsi masyarakat menjadi lebih banyak.

Namun kondisi ini tentu akan mengubah titik keseimbangan pada proses interaksi antara permintaan dan penawaran dalam sebuah perekonomian sehingga terjadilah inflasi. Disinilah letak peran perempuan agar dapat menjadi agen penyeimbang pembangunan ekonomi, bukan hanya sebagai subjek konsumsi namun juga mulai merambah masuk dalam proses produksi misalnya dalam bidang penyediaan pangan sederhana melalui konsep urban farming,seperti yang dilakukan Kelompok Wanita Tani Kecamatan Sadananya Ciamis Jawa Barat dan ibu-ibu yang tergabung dalam Harakah Majelis Taklim (HMT) DKI Jakarta yang ditemui penulis minggu lalu saat mereka melakukan uji coba panen bawang merah Brebes yang ditanam dalam polybag sederhana bersama Menteri Tenaga Kerja RI, Ida Fauziah.

Di bulan Ramadhan tahun ini, ada baiknya kita mulai belajar lebih dewasa untuk melihat pola konsumsi kita selama ini sambil mengukur kadar nilai ekonomi yang meliputi kebahagiaan material, spiritual, individual dan sosial. Untuk itu eksistensi keimanan dalam perilaku ekonomi menjadi titik krusial dalam proses konsumsi, produksi dan distribusi. Sementara perilaku konsumsi dituntun oleh dua nilai dasar yaitu rasionalisme dan utilitarianisme. Kedua nilai dasar ini membentuk perilaku konsumsi yang hedonistik, materistik dan boros (wastefull). Rasionalisme bersumber dari self interest (kepentingan individu) yang cenderung individualistik sehingga sering mengabaikan kesimbangan dan keharmonisan sosial. Sementara utilitarianisme menekankan pola konsumsi yang menekankan bagaimana bisa mendapat manfaat terbesar meski harus mengorbankan kepentingan pihak lain.

Hadist yang mengatakan “makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang” merupakan nasihat yang mengajarkan pada manusia untuk menggunakan barang dan jasa yang dibutuhkan secukupnya (hemat) tidak rakus, atau serakah. Mengkonsumsi barang dan jasa selama bulan Ramadhan adalah asumsi yang memang wajar-wajar saja karena dilakukan agar dapat hidup dan beraktivitas kendati berpuasa. Namun yang penting konsumsi dilakukan agar manusia tetap hidup, bukan hidup untuk konsumsi.

Pastikan makan secukupnya, tidak berlebihan dan tidak perlu menahan stok agar kita dapat membagi jatah stok barang dengan orang lain yang tidak mampu membeli dalam jumlah besar. Yang pasti apa yang kita konsumsi selayaknya dapat mencapai 4 prinsip keadilan yaitu efesien – kebutuhan dihasilkan dengan biaya yang serendah-rendahnya. Kedua, Equity atau fairness (keadilan) – kesetaraan dalam peluang dan kesempatan, ketiga Growth – peningkatan total produksi dalam perekonomian dan keemoat Stability – kondisi produksi yang tetap atau meningkat dengan tingkat inflasi rendah dan tidak ada sumber daya yang mengganggu (idle resources). Insyaa Allah.