Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

DUA MANUSIA

×

DUA MANUSIA

Sebarkan artikel ini

Oleh : AHMAD BARJIE B

Suatu hari Rasulullah SAW duduk-duduk dengan para sahabat. Tidak lama kemudian lewatlah seseorang. Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya. Bagaimana penilaian kalian tentang orang itu? Mereka menjawab, “Orang itu sangat terpandang dan dihormati di tengah kaumnya, jika ia melamar wanita pasti diterima, dan jika ia berbicara dan mengusulkan sesuatu pasti didengar dan diikuti”.

Tidak lama kemudian lewatlah seorang lagi. Kembali Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana penilaian kalian tentang orang ini”. Para sahabat menjawab, “Orang itu miskin, tidak berkedudukan dan tidak terpandang di tengah kaumnya. Jika ia melamar wanita pasti ditolak, jika berbicara tidak akan didengar, dan jika memberi usul tidak akan diikuti”.

Mendengar jawaban para sahabat, Rasulullah SAW menegaskan, orang kedua jauh lebih baik dalam pandangan Allah melebihi bumi seisinya. Allah tidak meletakkan kemuliaan seseorang pada harta kekayaannya, kedudukannya, jabatannya dan status sosialnya di tengah masyarakat. Allah hanya melihat pada keimanan, ketakwaan dan zikirnya kepada Allah SWT. Dunia ini bertahan dengan sebab adanya orang-orang yang beriman dan bertakwa. Dunia yang penuh gemerlap, kemajuan dan kemegahan ini segera dihancurkan Allah nantinya di hari qiyamat, ketika tidak ada lagi orang-orang yang berzikir kepada-Nya. Demikian makna sebuah hadits dalam kitab Fadhail Amal.

Sudah banyak umat manusia yang dihancurkan Allah, akibat mereka hanya menuhankan kedudukan dan materi dunia. Kaum Nabi Nuh, Nabi Saleh (Tsamud), Nabi Luth (Ad), kaum Saba, kaum Nabi Syuaib, Firaun bersama pengikutnya dan sebagainya, semuanya dihancurkan Allah. Mereka bukanlah bangsa yang primitif, melainkan sudah berperadaban tinggi, yang hingga sekarang situs peradaban mereka masih menjadi destinasi wisata dan keajaiban dunia. Namun mereka kafir kepada Allah dan kufur terhadap nikmat yang diberikan, sehingga semuanya dibinasakan Allah SWT.

Baca Juga:  Ada Apa Diantara Perempuan dan Pernikahan Dini?

Tidak Silau

Mengacu kepada cerita singkat di atas, jelaslah bahwa manusia beriman tidak boleh menilai seseorang kepada tampilan lahiriah saja, berupa jabatan, kedudukan, kekayaan, popularitas dan semacamnya. Kalau hanya itu yang dinilai, berarti manusia gagal memahami hakikat hidup yang sebenarnya, karena kehidupan tidak lepas dari aspek lahiriah dan batiniah. Hidup selalu berpasang-pasangan, ada lahir dan batin, ada bumi dan langit, ada iman dan kufur, dunia dan akhirat, kaya dan miskin, dan sebagainya.

Selama ini banyak sekali kita manusia terpukau dengan tampilan lahir seseorang. Ketika seseorang atau sekelompok orang berkuasa, banyaklah orang yang memuja dan memujinya, mendekati bahkan menjilatnya, dengan mengorbankan prinsip-prinsip etika, kebenaran dan kejujuran. Tujuannya agar mereka juga beroleh cipratan kedudukan atau jabatan dari orang yang didekati dan dijilatnya itu. Hilanglah sikap kritis dan korektif yang selama ini mungkin dipegangnya, berganti sikap memuji dan membenar-benarkan saja. Tidak peduli lagi apakah orang itu memperoleh jabatan dan kedudukannya dengan jalan tidak terpuji, tercela, melanggar hukum dan etika. Sama juga dengan orang kaya, begitu banyak orang yang mendekatinya, seperti semut merubung gula. Padahal ketika kita terlalu menyanjung dan menghormati manusia karena kekayaan dan kedudukannya, maka sebagian iman kita sudah hilang karenanya.

Di sisi lain, ketika melihat orang biasa, jaba, apalagi kalau miskin dan tidak berkedudukan sama sekali, orang cenderung membuang muka, enggan bersalaman dan berbicara dengannya. Kalau orang miskin mengundang dia tidak mau datang, kalau orang miskin terkena musibah tidak mau menolong. Bahkan tidak peduli dengan nasib mereka, kecuali hanya sesekali memperhatikannya, di saat minta dukungan suara dalam pemilu misalnya. Sesudah itu melupakannya lagi, begitulah seterusnya.

Baca Juga:  Gas Rem Aktivitas Ekonomi di Saat Pandemi

Membalik Keadaan

Kisah begini tentu tidak dimaknai secara dangkal, bahwa orang yang berkuasa, kaya dan berkedudukan tidak bermakna dalam pandangan Allah swt. Justru jika mereka ini beriman dan bertaqwa maka mereka akan mulia di dunia dan akhirat. Karena dengan kekuasaan dan kekayaan mereka dapat menolong orang banyak secara optimal. Betapa banyak ayat Alquran dan hadits yang juga memuji orang yang berkuasa asalkan ia jujur dan adil kepada rakyatnya, memuji orang kaya asalkan ia dermawan kepada fakir-miskin, dan orang berilmu asalkan ia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada orang lain dengan tulus ikhlas. Mereka ini termasuk di antara prasyarat tegaknya dunia ini.

Itu sebabnya, di antara doa yang utama adalah mendoakan agar para penguasa menjadi pemimpin yang adil dan jujur. Mendoakan di sini, tidak saja dalam bentuk menadahkan tangan saat berdoa dan beribadah, tetapi juga termasuk mendakwahi, menyeru dan mengeritik penguasa, sebab kata doa dan dakwah masih dalam satu rumpun kata dan makna. Karena itu ketika penguasa dikecam, dikritik dan dikoreksi oleh pihak eksternal (ulama, tokoh, akademisi, cendekiawan, intelektual, pengamat atau budayawan), baik secara halus maupun kasar, lewat seni dan mural dan sebagainya, hendaknya berterimakasih, karena hakikatnya mereka mendoakan dan menyeru kepada kebaikan. Bukannya malah dimusuhi, dijauhi dan dikriminalisasi, sehingga yang tersisa hanya barisan pemuji, pembenar dan penjilat. Penyair Amerika Walt Whitman berkata, “Tidak ada yang diperoleh dari pujian dan sanjungan, karena kalimat manis hanya melalaikan. Kritik, kecaman bahkan hinaan akan membuat orang menginsyafi kesalahan dan terhindar dari kejatuhan”. Ungkapan lainnya, “La
wan yang memberi kritik sesungguhnya adalah kawan berpikir”.

Di sisi lain orang yang miskin dan tidak terpandang jangan langsung menganggap dirinya mulia dalam pandangan Allah SWT. Bukankah juga ada hadits menyatakan bahwa di antara manusia ada yang rugi di dunia dan rugi di akhirat, mereka ini adalah orang miskin yang tidak peduli dengan kewajiban agama; tidak mau shalat dan puasa, tidak mau mendekati masjid atau mushalla, tidak pernah berzikir dan membaca Al Qur’an, atau malah suka bermaksiat seperti berjudi, mabuk, berzina, berkelahi, bermalas-malasan dan sebagainya.

Baca Juga:  Impor di Tengah Pandemi

Kenyataan begini masih banyak terjadi selama ini, sehingga terkesan yang lebih taat beragama adalah orang-orang kaya dan berpendidikan, sedangkan orang-orang yang miskin dan tidak berpendidikan cenderung sebaliknya. Seharusnya orang yang diuji Allah dengan kemiskinan dan kekurangan, tetap berusaha dan mendekati Allah dengan taat dan ibadah kepadaNya, sehingga meskipun ia kurang dihargai oleh manusia, setidaknya ia dipandang mulia oleh Allah sebagaimana maksud hadits di atas. Jadi, bukannya menjauhi agama dan putus asa dari rahmat Allah SWT. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan