Oleh : H Ahdiat Gazali Rahman.
Jika melihat data yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kemendagri, jumlah penduduk Indonesia semester II 2025 mencapai 288,3 juta jiwa. Mayoritas penduduk menganut agama Islam, dengan sebaran data penduduk 251.257.898 jiwa (87,15%), yang seharusnya mereka kenal dengan rukun iman dan rukun Islam, Rukum Iman ada enam, yakni : (1) Iman kepada Allah SWT; (2) Iman kepada malaikat-malaikat Allah; (3) Iman kepada kitab-kitab Allah (Al-Qur’an, Taurat, Zabur, Injil); (4) Iman kepada nabi dan rasul Allah; (5) Iman kepada hari akhir (kiamat); (6) Iman kepada qada dan qadar (takdir baik dan buruk), sedangkan Rukun Islam ada lima, yakni : (1) Mengucapkan dua kalimat syahadat; (2) Mendirikan shalat lima waktu; (3) Menunaikan zakat (zakat fitrah dan zakat maal/harta); (4) Berpuasa di bulan Ramadhan; (5) Menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu. Rukun Iman mencakup keyakinan hati, sedangkan Rukun Islam adalah perbuatan fisik. Keduanya wajib diyakini dan diamalkan sesuai urutan.
Kedua rukun itu sangat berkaitan erat dalam kehidupan di dunia ini, orang yang baru masuk Islam misalnya adalah yang meyakini adanya Allah sesuai dengan rukun Iman, dengan keyakinan itu dia mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana anjuran hukum Islam, yang berarti dia menyakin, bahwa apa yang dikerjakan selalu mendapat perhatian dari Allah, atau dengan kata lain, apa yang dikerjakan selalu mendapat pengawasan dari Allah, yang telah memberikan tugas pengawasan kepada malaikat, seperti kita manusia akan dicatat Malaikat Ratif dan Atit. Hal ini dipercayai karena percaya dengan Alquran, semua yang dikerjakan itu akan mendapatkan balasan dari Allah SWT, jika baik mendapat pahala dan jika buruk mendapat dosa. Yang banyak mendapatkan pahala akan masuk surga dan yang melakukan dosa akan masuk neraka. Hal ini diterangkan Allah dalam firmanNya, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl : 97). “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al Zalzalah : 7-8).
Jika melihat data yang ada pada lembaran Negara tersebut, seharusnya Negara Indonesia yang maju dan tidak ada tindakan merugikan orang lain, suku lain, keluarga lain, karena mereka yang ber sebagaimana disebutkan dalam hadis, untuk mendapatkan ketenangan batin dan pahala Allah SWT kuasa seharusnya punya kesadaran seperti apa yang diperintah oleh Agama Islam, bahwa pekerjaan yang dikerjakannya pasti akan diketahui Allah SWT, dan akan mendapat balasan dari Allah, walaupun dalam dunia ini mereka bisa melakukan hak-hal yang dapat menutupi perbuatan mereka, sehingga terhindar dari tanggungjawab, namun disisi Allah itu tidak akan terjadi.













