BANJARMASIN, Kalimantanpost.com — Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam kegiatan Silaturahmi dan Halal Bihalal Keluarga Besar Lembaga Rama Andin Nusantara Trah Daha yang digelar Ahad (3/5/2026) di Lecture Theater Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lambung Mangkurat.
Kegiatan ini mempertemukan para tetuha, sesepuh, serta juriat (keturunan) Rama Andin dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Sejumlah perwakilan keluarga diberi kesempatan bapander (bercerita) untuk mengisahkan sejarah, silsilah, dan peran keluarga dalam perjalanan Banua dari masa ke masa.
Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua Lembaga Rama Andin Nusantara, Andin Ahmad Yunani, mengatakan pihaknya berupaya mengumpulkan juriat Rama Andin tidak hanya dari Kalimantan Selatan, tetapi juga dari berbagai wilayah di Kalimantan, Nusantara, hingga luar negeri seperti Malaysia dan negara tetangga lainnya.
Menurut Yunani, trah keturunan dari Kerajaan Daha selama ini terkesan kurang terlihat kiprahnya dalam ruang publik. Padahal, banyak juriat yang aktif berperan di pemerintahan tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional, namun tidak banyak yang mempublikasikannya.
“Dengan adanya media sosial, mulai terhubung kembali para juriat yang ingin membangun kekerabatan ini. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengakrabkan silaturahmi sekaligus menyatukan kembali jejaring keluarga besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejarah Banua tidak bisa dilepaskan dari peran para datu pada masa Kerajaan Daha, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Banjar, hingga kini menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Yunani yang dikenal sebagai Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE, MSi — Dekan FEB ULM dan Ketua Dewan Penasehat ISEI Kalsel — menyebut, lembaga ini ke depan tidak hanya fokus pada silaturahmi, tetapi juga pembinaan sumber daya manusia juriat agar memiliki kapasitas pendidikan dan profesionalisme yang lebih baik.
Selain itu, pihaknya berencana menginventarisasi warisan budaya leluhur dari Daha dan Dipa yang selama ini tersebar dalam bentuk cerita, tradisi, dan benda pusaka. “Kami ingin menyusunnya dalam bentuk buku, membangun museum, serta menghadirkan program filantropi dan beasiswa bagi generasi juriat yang kurang beruntung,” jelasnya.
Sementara itu, Lam’ah, juriat asal Negara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal ini menjadi bagian dari upaya merawat tradisi leluhur agar tidak terputus oleh generasi.
Ia menyebut sejumlah tradisi yang terus dijaga, seperti badudus, silaturahmi keluarga, hingga ziarah ke makam para nenek moyang. “Harapannya, setelah generasi kami, anak cucu masih bisa melanjutkan semua ini,” katanya.
Yunani menambahkan, pelestarian budaya juga mencakup kuliner khas Banjar, seni tari, tutur, hingga musik gamelan yang akan diinventarisasi secara sistematis. “Semua ini akan kami dokumentasikan, agar suatu saat bisa menjadi bagian dari museum dan pusat pembelajaran budaya bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(Nn/KPO-1)















