oleh: DR Syafiq Riza Basalamah Lc MA
Dosen STDI Imam Syafi’i Jember
Segala pujian hanya layak kita haturkan kepada Allah azza wajalla. Yang dengan taufik-Nya, kita masih bisa mendapati bulan Muharam. Sementara telah banyak saudara kita yang lebih dahulu menghadap Allah tanpa sempat mendapati bulan ini. Nikmat yang besar ini, hendaknya kita isi dengan ketaatan kepada-Nya.
Kita telah memasuki bulan Muharram, salah satu bulan yang suci dan mulia di sisi Allah. Bagaimanakah cara terbaik menyambutnya? Jawabannya sederhana: Ikutilah apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. kenapa demikian?
Karena Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuliakan bulan Muharram dengan meningkatkan ibadah kepada Allah, terutama berpuasa. Beliau bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yaitu) Muharram.”” (HR. Muslim no. 1163)
Di masyarakat kita, masih sering kita jumpai ritual menyambut satu Suro atau awal Muharram dengan larung sesaji melalui tradisi sedekah laut atau sedekah bumi. Alasan yang sering digunakan adalah “sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah”.
Mari kita renungkan dengan hati yang jernih. Jika tujuannya adalah bersyukur dan bersedekah, alangkah lebih mulia, tepat, dan bermanfaat jika makanan atau harta tersebut disedekahkan langsung kepada fakir miskin, anak yatim, atau tetangga yang membutuhkan
Allah Menjadikan Empat Bulan Istimewa dalam Setahun
Allah azza wajalla berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah : 36)
Diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama pernah menyeru dari atas mimbar,
“Sesungguhnya waktu ini silih berganti sebagaimana Allah ciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdapat dua belas bulan, yang empat di antaranya Allah muliakan, tiga darinya terletak berurutan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. Adapun bulan Rajab terdapat di antara Jumadilakhir dan Syakban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bulan Muharam adalah Seagung Bulan setelah Ramadan
Ibnu Rajab al Hanbaly rahimahullahu mengungkapkan, “Para ulama berselisih tentang manakah bulan yang paling mulia. Al Hasan al Bashry rahimahullahu dan selain beliau berpendapat bahwa yang paling mulia setelah Ramadan adalah bulan Muharam.”.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama Memperbanyak Puasa di Bulan Muharam
Di antara keutamaan lain yang terdapat dalam bulan Muharam adalah Rasulullah menganjurkan memperbanyak puasa di dalamnya. Sebagaimana sebuah hadis,
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharam.” (HR. Muslim)
Kemenangan Islam di Bulan Muharam
Keutamaan lain yang dimiliki bulan Muharam adalah Allah jadikan di dalamnya sebagai saat di mana kebenaran menang di atas kebatilan, Allah selamatkan Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun, dan lain-lain.












