BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Perjuangan pelajar dalam menempuh pendidikan masih terlihat di Kota Banjarmasin. Puluhan murid SDN Basirih 10 yang berada di kawasan Mantuil harus melewati jalan rusak dan terendam air pasang setiap hari untuk bisa sampai ke sekolah.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar siswa terpaksa melepas sepatu dan berjalan tanpa alas kaki agar perlengkapan sekolah mereka tidak basah.
Akses yang berada di kawasan Simpang Jelai, Jalan Tembus Mantuil, itu telah mengalami kerusakan selama beberapa tahun terakhir. Saat air sungai pasang, genangan menutupi badan jalan sehingga menyulitkan aktivitas warga, terutama anak-anak yang hendak berangkat maupun pulang sekolah.
Tak jarang mereka harus berjalan perlahan sambil menenteng sepatu di tangan untuk menghindari sepatu dan kaus kaki basah.
Warga sekitar, Majdi mengatakan kondisi tersebut hampir terjadi setiap hari karena lokasi jalan berada di tepi sungai yang sangat dipengaruhi pasang surut air. Menurutnya, para siswa tidak memiliki banyak pilihan selain melewati jalan tersebut demi bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Kalau air pasang, sepatu pasti basah, jadi mereka ditenteng saja, anak-anak jalan tanpa alas kaki,” ujarnya.
Selain membuat sepatu basah, genangan air juga kerap menyebabkan seragam sekolah ikut terkena air. Bahkan beberapa siswa memilih menyimpan pakaian seragam di dalam tas agar tetap kering saat perjalanan pulang.
Tidak sedikit pula perlengkapan belajar seperti buku dan alat tulis yang basah ketika siswa terpeleset akibat jalan yang licin dan berlubang.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah siswa harus berjalan dengan hati-hati karena batas badan jalan sering kali tidak terlihat saat terendam.
Warga menyebut kejadian siswa jatuh atau kehilangan keseimbangan bukanlah hal yang jarang terjadi. Kondisi tersebut dinilai cukup membahayakan, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat para siswa untuk menuntut ilmu tetap tinggi. Mereka tetap berangkat sekolah setiap hari tanpa mengeluh, meskipun harus melewati jalan yang sulit dan berisiko. Semangat itulah yang membuat warga merasa prihatin sekaligus bangga terhadap perjuangan anak-anak tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Sefi’i, mengatakan kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses penting yang menghubungkan kawasan permukiman dan sekolah sehingga sudah seharusnya mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah.
Ia berharap pihak terkait, termasuk wakil rakyat dari daerah pemilihan setempat, dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Warga berharap perbaikan jalan menuju SDN Basirih 10 segera menjadi prioritas agar para siswa dapat berangkat dan pulang sekolah dengan aman dan nyaman.
Mereka menilai akses pendidikan yang layak merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, sehingga anak-anak tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mendapatkan hak mereka dalam menempuh pendidikan. (nug/KPO-4)















