Banjarbaru, KP – BPAM Banjarbakula telah melakukan modernisasi sistem pengukuran dengan mengganti flowmeter ultrasonic menjadi electromagnetic flowmeter.
Selama proses pekerjaan, tim teknis melaksanakan pembongkaran peralatan lama, pemasangan perangkat baru, pengujian fungsi operasional, hingga pemeriksaan menyeluruh terhadap kemungkinan kebocoran pada sambungan perpipaan.
Hasil pengujian menunjukkan seluruh peralatan berfungsi normal dan tidak ditemukan kebocoran pada jaringan yang telah dikerjakan. Gate valve baru mampu beroperasi sesuai standar, sementara electromagnetic flowmeter telah aktif melakukan pengukuran dengan baik.
“Pergantian ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi teknis serta untuk menyesuaikan kebutuhan pengukuran distribusi air curah yang lebih presisi,” jelas Kepala BPAM Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas
Dengan penggunaan perangkat baru tersebut, data debit maupun volume air yang disalurkan diharapkan dapat tercatat lebih akurat dan konsisten.
Siddiq menambahkan, peningkatan infrastruktur ini tidak hanya memperkuat keandalan pasokan air curah, tetapi juga mempermudah proses pengoperasian dan pemeliharaan jaringan distribusi pada masa mendatang.
“Keakuratan data menjadi aspek penting dalam proses pencatatan distribusi air sekaligus mendukung transparansi pengukuran antara BPAM Banjarbakula dan PTAM Intan Banjar,” katanya
BPAM Banjarbakula juga telah menyelesaikan penggantian sejumlah peralatan vital pada jaringan perpipaan di kawasan Guntung Manggis, Kota Banjarbaru.
Pekerjaan yang dilaksanakan selama dua hari, 10 hingga 11 Juni 2026, mencakup penggantian gate valve serta flowmeter pada pipa distribusi air curah berdiameter 400 milimeter yang menjadi jalur pasokan menuju PTAM Intan Banjar.
Siddiq mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keandalan sistem distribusi sekaligus meningkatkan akurasi pengukuran air yang disalurkan.
Menurutnya, gate valve yang sebelumnya terpasang mengalami kerusakan pada mekanisme pengoperasiannya sehingga tidak lagi mampu mengendalikan aliran air secara optimal.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fleksibilitas pengelolaan jaringan apabila tidak segera ditangani.
“Peralatan yang lama sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga perlu dilakukan penggantian untuk memastikan sistem distribusi tetap berjalan dengan baik,” ujar Siddiq. (mns/K-2)















