Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Tapin

Padi Apung Tapin Buktikan Lahan Rawa Tetap Produktif

×

Padi Apung Tapin Buktikan Lahan Rawa Tetap Produktif

Sebarkan artikel ini
IMG 20260617 WA0030 e1781680490333
PANEN PADI APUNG - Syukuran Panen Padi Apung Tapin Sukses di demplot padi apung di BPP Candi Laras Utara, Desa Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara Kabupaten Tapin. (Kalimantanpost.com/repro Prokpim Setda Tapin).

RANTAU, kalimantanpost.com — Inovasi budidaya padi apung yang dikembangkan di Kabupaten Tapin mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Panen kedua demplot padi apung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Candi Laras Utara, Desa Margasari Hilir, Kecamatan Candi Laras Utara, membuktikan teknologi tersebut mampu menjadi solusi bagi pertanian di kawasan rawa dan pasang surut.

Program yang dikembangkan melalui kerja sama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin itu dinilai mampu menjawab tantangan petani yang selama ini menghadapi genangan air tinggi saat musim tertentu.

Kalimantan Post

Mewakili Bupati Tapin H Yamani, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Tapin H Zainal Abidin mengatakan Kecamatan Candi Laras Utara merupakan salah satu sentra produksi padi di Tapin yang memiliki karakteristik lahan rawa dan lebak. Kondisi tersebut sering menyulitkan petani untuk membuat persemaian maupun melakukan penanaman saat muka air meningkat.

“Teknologi padi apung menjadi alternatif yang memungkinkan petani tetap melakukan persemaian dan budidaya padi meskipun lahan tergenang air dalam,” ujarnya saat menghadiri syukuran panen padi apung, Rabu (17/6/2026).

Pada 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengalokasikan bantuan 250 unit media tanam padi apung berbahan styrofoam untuk Tapin. Dari jumlah tersebut, sebanyak 145 unit berhasil dipanen pada musim tanam kali ini.

Meski luas lahan yang digunakan hanya setara 290 meter persegi atau 0,029 hektare, produktivitas yang dihasilkan mencapai 1,2 hingga 1,3 kilogram gabah per unit. Jika dikonversikan, hasil tersebut setara dengan produktivitas 6 hingga 6,5 ton per hektare.

Menurut Zainal Abidin, capaian tersebut menunjukkan bahwa teknologi padi apung mampu bersaing dengan budidaya padi konvensional.

Bahkan pada pelaksanaan sebelumnya, produktivitas di lokasi yang sama sempat mencapai 9,5 ton per hektare. Penurunan hasil pada musim ini antara lain disebabkan serangan burung manyar yang cukup tinggi.

Baca Juga :  Pemkab Tapin Pertahankan WTP ke-12, Pendapatan Daerah 2025 Lampaui Target

Ia menilai keberhasilan tersebut membuka peluang pemanfaatan lahan rawa yang selama ini kurang optimal menjadi kawasan produksi pangan bernilai ekonomi. Karena itu, pemerintah daerah mendorong kajian lanjutan untuk memperluas penerapan teknologi padi apung di wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa.

Namun demikian, biaya produksi masih menjadi tantangan. Pemerintah daerah mendorong penggunaan bahan lokal yang lebih murah dan mudah diperoleh petani, seperti batang atau pelepah rumbia sebagai pengganti styrofoam, serta memanfaatkan limbah plastik sebagai wadah tanam.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Hj Masliyana mengatakan, keberhasilan panen padi apung menjadi bukti bahwa inovasi pertanian mampu meningkatkan produktivitas di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan.

Menurutnya, teknologi tersebut memperlihatkan kemampuan petani beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang tidak selalu mendukung pola tanam konvensional.

“Padi apung menunjukkan bahwa lahan yang tergenang air tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat menjadi solusi untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi pangan,” katanya.

Masliyana menambahkan, pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan luas tambah tanam sebagai bagian dari upaya memperkuat swasembada pangan nasional.

Karena itu, petani didorong memanfaatkan seluruh potensi lahan yang tersedia serta mengadopsi teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

Keberhasilan demplot di Candi Laras Utara dinilai dapat menjadi model pengembangan pertanian lahan rawa di Kalsel. Selain menjaga produktivitas, inovasi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.(abd/KPO-4)

Iklan
Iklan