Oleh : Fatimah
Aktivis Muslimah
Laporan terbaru Lembaga PBB membongkar fakta memilukan, blokade dean serangan brutal Zioner secara sengaja menargetkan anak-anak di Gaza. Sejak oktober 2023, lebih dari seribu nyawa tak berdosa telah syahid. Secara mengerikan, statistik melaporkan ini berarti rata-rata satu anak Gaza dibunuh setiap harinya (Al Jazeera, 2026)
Bagi mereka yang bertahan hidup, neraka belum usai. Ribuan anak harus kehilangan anggota tubuh, hidup dengan cacat fisik permanen, sekaligus memikul trauma psikologis mendalam akibat dentuman bom yang tiada henti.
Ini jelas bukan lagi sekadar konflik bersenjata, melainkan genosida sistematis yang dirancang untuk memutus generasi hingga akarnya. Ketika hak hidup dan ruang tumbuh anak-anak dirampas secara paksa, masa depan Palestina sedang berusaha dihapuskan dari peta bumi. Dunia tidak boleh terus berdiam diri menyaksikan kekejaman ini. Mengutuk saja tidak lagi cukup, tindakan tegas harus diambil sebelum seluruh masa depan anak-anak Gaza tak tersisa.
UNICEF menyebutkan bahwa lonjakan jumlah korban jiwa anak-anak berada pada skala yang mengertikan. Total korban jiwa anak sejak oktober 2023 hingga hari ini terus bertambah, telah lebih dari 20.000 lebih anak Palestina yang syahid. 40.000 lebih anak-anak yang mengalami luka fisik, kehilangan anggota tubuh, bahkan cacat permanen.
Meskipun gencatan senjata, UNICEF melaporkan bahwa sejak gencatan senjata diupayakan pada Oktober 2025 hingga pertengahan 2026, serangan masih menewaskan lebih dari 265 anak. Juru bicara UNICEF, James Elder, bahkan menyebut gencatan senjata tersebut sebagai “cruel and deadly illusion” (ilusi yang kejam dan mematikan) bagi anak-anak karena mereka tetap gugur setiap harinya.
Komisi PBB merilis laporan khusus yang berjudul, “The essence of childhood has been destroyed: Israel’s deliberate targeting of Palestinian children…”, yang melihat pola luka pada anak-anak, termask balita yang dibawa ke rumah sakit dengan luka tembak Tunggal yang presisi tepat di bagian tengkorak kepala atau leher mereka, seperti pola penembak jitu (sniper). Tak hanya ditembak, bom berdaya ledak tinggi juga seringkali dijatuhkan secara massif di kawasan padat penduduk yang sudah pasti dihuni oleh anak-anak.
Sementara itu, tidak ada hentinya negara Islam yang malah menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat di berbagai bidang termasuk politik kapitalis. Beberapa negara mayoritas Muslim memiliki Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement) langsung dengan AS, seperti Yordania, Maroko, Bahrain, dan Oman. Ini mempermudah aliran modal dan investasi kapitalistik antar-negara. Selain itu, secara rutin negara-negara seperti Yordania, Indonesia, dan Malaysia melakukan latihan militer gabungan dengan AS (misalnya latihan Eager Lion di Yordania atau Super Garuda Shield di Indonesia) untuk meningkatkan interoperabilitas dan keamanan kawasan.
Solusi hakiki atas tragedi kemanusiaan di Palestina tidak dapat lagi bergantung pada hukum internasional yang cacat atau pragmatism diplomasi global. Pilihan politik dan syariat yang mutlak bagi umat Islam adalah kembali kepada konstruksi Islam secara menyeluruh dan global.
Umat Islam dapat berjuang melalui pembebasan melalui jihad dan penegakan sistem Islam serta dipimpin oleh khalifah. Khilafah adalah satu-satunya institusi politik Islam yang memikul kewajiban syariat untuk menggerakkan tentara kaum muslimin melakukan jihad fisabilillah guna mengalahkan entitas Zionis dan membebaskan tanah wakaf Palestina secara total.
Setelah itu, baru kemudian kita dapat melindungi anak-anak secara komprehensif. Negara juga wajib menjamin keamanan jiwa, pemulihan kesehatan fisik serta mental, Pendidikan berkualitas secara gratis,kesejahteraan, dan mengembalikan haka nak-anak yang sempat dirampas. Sesuai dengan perintah Allah untuk melawan kezaliman dan membebaskan wilayah yang terjajah, “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan-perempuan maupun anak-anak…” (QS. An-Nisa: 75)
Dan keutamaan lainnya, pendirian konstruksi Islam secara menyeluruh merupakan kewajiban yang harus diperjuangkan oleh umat Islam dengan sungguh-sungguh. Ini begitu penting karena akan menentukan masa depan umat, perjuangan ini bukanlah tugas yang dibebankan kepada satu golongan saja. Tugas ini adalah kewajiban kolektif seluruh generasi hari ini dengan perannya masing-masing. Yang muda menjadi motor penggerak, agen perubahan, dan pemikir progresif yang mendobrak narasi kapitalistik di era digital, yang tua fokus pada tugas-tugas teknis, posisi strategis, dan pengaruh finansial, serta suaranya untuk menyebarkan bahwa Islam memiliki konstruksi yang begitu sempurna. Selain itu, kita semua juga berperan untuk menanam akidah untuk diri sendiri maupun masyarakat, tak hanya ibadah secara fisik, tapi arah pemikiran yang juga bercita-cita untuk menyejahterakan umat.
Ketika institusi global dan sekat nasionalisme terbukti gagal menghentikan kezaliman di Palestina, kepemimpinan Islam yang berlandaskan syariat menjadi satu-satunya jawaban hakiki. Tugas besar ini tidak bisa dibebankan kepada satu golongan saja; kaum muda, kaum profesional, hingga orang tua harus bergerak bersama dengan perannya masing-masing. Hanya dengan persatuan umat yang kokoh di bawah naungan perisai yang nyata, keadilan dapat ditegakkan, belenggu kapitalisme runtuh, dan masa depan anak-anak Gaza dapat diselamatkan seutuhnya.











