Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

GAMRI DAN SAKATRAH

×

GAMRI DAN SAKATRAH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Menurut kajian Martin van Bruinessen (1995: 48-9), Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah seorang pelopor sastra Melayu modern. Ia naik haji tahun 1854, tidak lama sebelum kapal layar digantikan oleh kapal api berbahan bakar batubara. Ketika kapal rombongan haji yang ditumpanginya mendekati Tanjung Gamri di kepulauan Seylon (Sailan/Srilangka), kapalnya diserang badai topan dan gelombang laut yang sangat ganas. Ia mengungkapkan peristiwa itu yang dinukil dari ”Kisah Perjalanan Abdullah: ke Kelantan dan ke Judah” (Kasim Ahmad, Kuala Lumpur 1981: 94) sebagai berikut:

Kalimantan Post

Allah, Allah, Allah. Tidaklah dapat hendak dikhabarkan bagaimana kesulitannya dan bagaimana besar gelombangnya, melainkan Allah yang amat mengetahuinya. Rasanya hendak masuk ke dalam perut ibu kembali. Gelombang dari kiri lepas ke kanan, dan dari kanan lepas ke kiri. Maka segala barang-barang dan peti-peti dan tikar bantal berpelantingan. Maka sampailah ke dalam kurung air bersemburan, habislah basah kuyup. Maka masing-masing dengan halnya, tiada lagi dalam pikiran melainkan mati. Maka hilang-hilanglah kapal sebesar itu dihempaskan gelombang. Maka rasanya gelombang itu lebih tinggi daripada pucuk tiang kapal. Maka sembahyang sampai duduk berpegang. Maka jikalau dalam kurung itu tidalah boleh dikhabarkan bunyi muntah dan kencing, melainkan segala kelasi selalu memegang bomba. Maka air pun selalu masuk juga ke dalam kapal. Maka pada ketika itu hendak menangis pun tiadalah berair mata, melainkan masing-masing keringlah bibir. Maka berbagailah berteriak akan nama Allah dan rasul, karena Kep Gamri, kata mualimnya sudah masyhur ditakuti orang. ”Kamu sekalian pintalah doa kepada Allah, kerana tiap-tiap tahun di sinilah beberapa kapal yang hilang, tiadalah mendapat namanya lagi, tiada hidup bagi seorang, ah, ah, ah.

Baca Juga :  NASIB BANGSAKU

Setelah diamuk gelombang dahsyat, kapal yang membawa Abdullah berhasil selamat. Ia langsung menulis kisah perjalanan hajinya itu setibanya di Makkah. Namun hanya beberapa hari setelah tiba di Makkah, ia pun meninggal dunia, karena sakit, trauma dan kelelahan yang bersangatan.

Meskipun kisah ini tidak secara khusus menceritakan perjalanan haji urang Banjar, namun jemaah haji dari Banjar pun, pada masa-masa itu mengalami masalah dan kesulitan yang relatif sama. Sebab Tanjung Gamri di sekitar Srilangka merupakan alur laut yang mesti dilewati oleh kapal dan perahu layar. Begitu juga Laut Sakatrah.

Apakah Tanjung Gamri itu merupakan nama lain dari Laut Sakatrah yang dikenal oleh orang Banjar? Kelihatannya berbeda. Menurut Ali Taufik (media online, 14 Agustus 2014), sebutan Sakatrah digunakan oleh orang Banjar. Inggrisnya adalah Socotro, yaitu pulau Socotro yang dikelilingi laut. Letaknya sekitar 80 km sebelah timur tanduk Afrika dan 380 km selatan Arabia, masih termasuk wilayah perairan Yaman. Banyak fauna dan flora langka di pulau ini, bahkan dianggap sebagai pulau tempat tinggal Alien, makhluk aneh dalam fiksi Barat.

Ada versi mengatakan di pulau ini tempat Dajjal dikerangkeng, setelah bebas ia pergi ke Segitiga Bermuda (Bermuda Triangle), sambil menunggu menjelang datangnya hari Kiamat. Dulu Sakatrah merupakan pulau yang angker, namun sekarang menjadi pulau wisata, dan oleh UNESCO ditetapkan sebagai pulau wisata warisan dunia.

Ada kemungkinan Haji Batu dari Banjar yang mengalami kecelakaan laut ketika pergi berhaji, terdampar di pulau Sakatrah ini. Beliau mengalami hal-hal dan makhluk-makhluk aneh ketika berada di pulau tempatnya terdampar. Sebagian tangannya sempat mengeras (membatu), sehingga digelari Haji Batu. Namun akhirnya beliau diselamatkan oleh Allah dan berhasil sampai ke tanah suci, kemudian pulang ke tanah air dengan membawa seorang temannya bernama Sayyid Ahmad al-Idrus, yang sama-sama berkubur di Kompleks Makam Sultan Suriansyah.

Baca Juga :  Listrik Tak Boleh Mati Lagi

Menurut KH Husin Naparin, Laut Sakatrah disebut juga dengan Selat Bab el-Mandeb. Cuaca dan angin di sini sukar ditebak, lautnya penuh dengan batu karang, gelombangnya dikenal ganas karena merupakan titik pertemuan antara arus air Laut Merah dengan Lautan Hindia. Banyak penumpang kapal yang takut, tegang dan mabuk berat saat melintasi laut ini. (BPost, 10 Juni 2016).

Jadi, Tanjung Gamri terletak di selatan Srilangka, sedangkan Laut Sakatrah di selatan Arabia. Berarti setidaknya dua titik yang sangat berbahaya dilalui oleh kapal-kapal layar dan kapal api ketika itu, yaitu Tanjung Gamri dan Laut Sakatrah, karena lautnya sama-sama ganas. Mungkin keganasan laut di sini mirip Segitiga Bermuda di Lautan Atlantik. Sekarang orang berhaji umumnya dengan pesawat udara, sehingga tidak lagi mengalami bahaya laut sebagaimana dikisahkan di atas. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan