BUKHARA, Kalimantanpost.com – Kompleks makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi di Bukhara, Uzbekistan, kini tidak hanya menjadi destinasi ziarah bagi umat Islam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, tetapi juga pusat kajian intelektual Islam internasional.
Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Naqsyabandi yang baru diresmikan hadir sebagai jembatan pengetahuan yang menghubungkan ajaran sufi abad ke-14 dengan tantangan dunia modern.
Bagi Indonesia, kehadiran lembaga ini menjadi istimewa, mengingat benang merah sejarah yang kuat antara Uzbekistan dan Nusantara, serta jutaan pengikut tarekat Naqsyabandiyah yang tersebar di Tanah Air.
Dalam kunjungan Kalimantan Post dan delegasi Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta ke kompleks makam di Bukhara (14/8),, Executive Director pusat penelitian, Atoyev Muhammadjon, menerima kami untuk wawancara eksklusif.
Di ruang kerjanya yang dikelilingi manuskrip dan dokumentasi sejarah, ia memaparkan visi besar lembaga yang dipimpinnya.
“Pusat ini didirikan 21 April 2025 ,” ujar Atoyev mengawali pembicaraan.
“Tujuan utamanya adalah mempelajari secara ilmiah pemikiran dan ajaran Syekh Bahauddin Naqsyabandi dan para ulama tarekat Naqsyabandiyah. Kami ingin menggali hikmah di balik ajaran tasawuf dan menyebarluaskannya ke khalayak, terutama generasi muda.”
Lebih lanjut, Atoyev menegaskan bahwa pendirian pusat penelitian ini adalah bagian dari upaya serius Uzbekistan untuk mempromosikan Islam moderat dan toleran.
“Ini adalah benteng melawan paham radikal dan pembangun karakter toleran serta saling menghormati,” tegasnya.
Ketika ditanya tentang makna pendirian pusat ini bagi hubungan Uzbekistan dengan Indonesia, Atoyev tersenyum. Ia mengakui bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan pengikut tarekat Naqsyabandiyah terbanyak di dunia, bahkan mungkin yang terbesar.
“Hubungan ini sangatlah istimewa. Kami menyadari betul bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengikut tarekat Naqsyabandiyah terbanyak di dunia,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pusat penelitian ini, kata Atoyev, terbuka lebar untuk kolaborasi dengan para cendekiawan dan ulama Indonesia. “Kami ingin membangun kerja sama riset, pertukaran akademisi, dan program kajian bersama,” tambahnya.
Salah satu fenomena menarik yang diungkapkan Atoyev adalah tingginya minat peziarah Indonesia ke makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi.
Makam ini, bersama dengan makam Imam Bukhari dan Imam Maturidi di Samarkand, menjadi tujuan ziarah utama bagi umat Islam dari Indonesia.
Ia menambahkan bahwa bagi sebagian peziarah Indonesia, berkunjung ke Bukhara adalah bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan terhubung dengan warisan intelektual Islam yang agung.
“Bahkan, dalam beberapa kesempatan, delegasi dari Indonesia telah mengikuti Kongferensi Naqshabandi International sebagai bukti nyata bahwa ikatan spiritual kita sangat kuat,” pungkasnya.
Namun demikian meskipun sama-sama mengikuti ajaran Syekh Bahauddin Naqsyabandi, terdapat beberapa perbedaan dalam praktik ritual antara pengikut di Indonesia dan di Uzbekistan. Atoyev menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah hal yang wajar dalam dinamika penyebaran ajaran tasawuf.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang penuh dengan stres, keterasingan, dan hilangnya makna hidup, Atoyev meyakini bahwa ajaran Syekh Bahauddin Naqsyabandi memiliki jawabannya.
“Ajaran ini mengajak kita pada nilai-nilai etis universal: cinta kasih, kasih sayang, kerendahan hati, dan pemurnian diri. Hati hanya kepada Allah, tangan untuk dunia, jelas Atoyev.
Kunjungan ke Pusat Penelitian Naqsyabandi di Bukhara membuka mata bahwa warisan spiritual Islam tidak mengenal batas negara.
Apa yang diajarkan Syekh Bahauddin Naqsyabandi di abad ke-14 masih bergema hingga ke pelosok Nusantara dan terus relevan menjadi penerang di tengah gelapnya tantangan zaman.
Bagi Indonesia, Naqsyabandi adalah pengingat akar sejarah yang kuat untuk terus memperdalam nilai-nilai damai yang telah menjadi ciri khas Islam di tanah air sementara bagi dunia, tarekat ini adalah tawaran solusi spiritual di tengah krisis peradaban modern.(Rzf/KPO-1)















