BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Film Urang Bunian yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 17 September 2026 mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan.
Karya yang mengangkat cerita dan nuansa budaya lokal tersebut dinilai bukan sekadar tontonan hiburan, tetapi juga memiliki peluang menjadi media promosi budaya dan pariwisata Kalimantan Selatan.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Kelembagaan dan Pengembangan SDM Pariwisata Kalsel pada Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan, Liza Verawaty, S.Sos., mengatakan film berbasis cerita lokal memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.
Menurutnya, kekuatan sebuah film tidak hanya terletak pada alur ceritanya, tetapi juga bagaimana film tersebut mampu memperlihatkan kekayaan budaya, tradisi, serta karakter masyarakat daerah.
“Film Urang Bunian ini bisa menjadi salah satu media untuk memperkenalkan budaya dan cerita lokal kita. Jadi jangan hanya dilihat sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mengenalkan identitas daerah,” ujar Liza.
Ia menilai industri kreatif, termasuk perfilman, memiliki hubungan erat dengan perkembangan sektor pariwisata. Ketika budaya lokal dikemas secara menarik, masyarakat dari luar daerah akan semakin penasaran untuk mengenal lebih jauh daerah yang menjadi sumber cerita tersebut.
“Kalau orang tertarik dengan ceritanya, tentu mereka bisa ikut tertarik mengenal daerah, budaya dan destinasi wisatanya. Ini yang menjadi peluang bagi ekonomi kreatif dan pariwisata,” katanya.
Liza berharap penayangan Urang Bunian pada 17 September mendatang dapat menjadi momentum bagi semakin banyak sineas untuk berani mengangkat legenda, cerita rakyat dan kearifan lokal Banua ke layar lebar.
“Cerita-cerita lokal kita sangat banyak. Tinggal bagaimana dikemas dengan kreatif, menarik dan tetap menghargai nilai budaya yang ada. Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi kreatif sekaligus promosi pariwisata Kalsel,” tegasnya.
Ia juga berharap film-film lokal mampu membuka ruang lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif di daerah, mulai dari pekerja seni, pemeran, penulis, kru produksi hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam ekosistem perfilman.
“Harapannya karya seperti Urang Bunian bisa menjadi pemantik lahirnya karya-karya lain yang mengangkat kekayaan Banua. Budaya kita jangan hanya disimpan sebagai cerita, tetapi harus terus dihidupkan melalui karya kreatif,” pungkas Liza. (Fin/KPO-1)















